Bala Hasad (Bag.2)

Abu Musa al-Fadaniy Mutiara Faidah 0 Comments

Bismillah,

Rahimakumullahu jami’an..

Pada tulisan sebelumnya kami telah memaparkan terkait hasad secara ringkas, maka pada kesempatan kali ini kami akan mencoba mengulas bagaimana upaya untuk menyembuhkan penyakit kronis tersebut, biidznillahi ta’ala..

Sesungguhnya Ibnu sirrin -rahimahullahu- pernah mengatakan,

“Aku tidak pernah melakukan hasad kepada seseorang dalam perkara dunia.

Karena jika ia nantinya adalah penghuni surga, maka bagaimana mungkin aku hasadnya kepada atas perkara dunianya, sedangkan ia akan ke surga.

Jika ia nantinya adalah penghuni neraka, maka bagaimana mungkin aku hasadnya kepadanya atas perkara dunianya, sedangkan ia akan ke neraka”

Masya Allah..
betapa mendalam sekali ucapan dari Ibnu Sirrin -Rahimahuallahu-, yang mana ucapan tersebut merupakan obat nan begitu ampuh guna mengusir rasa hasad yang mengendap di relung-relung hati kita.

 

Wahai saudaraku,
Tatkala seorang thabib atau dokter hendak menyebuhkan suatu penyakit, maka sudah seyogyanya ia memahami terlebih dahulu penyakit tersebut dengan jeli, diantara memahami secara benar apa penyebab sesungguhnya, sehingga nantinya anda bisa meracik ramuan-ramuan yang kiranya dapat menyebuhkan penyakit tersebut. Maka demikian halnya pulalah tatakala kita hendak menyebuhkan penyakit hasad yang sudah kadung menjadi kerak di hati kita, harus terlebih dahulu kita mencermati apa faktor-faktor yang menjadikan hati itu menjadi berpenyakit.

 

Diantara faktor-faktor yang menjadi seseorang hasad yaitu :

1. Sifat hasad tersebut muncul dari fitrah yang telah Allah Ta’ala tanamkan. Ia adalah sifat jibillah (bawaan), yang mana  tidak ada satupun tubuh pun yang bebas dari hasad, akan tetapi orang yang bertakwa / mulia, ia berusaha menahannya dan melawanya, sedangkan orang yang buruk hatinya, akan menampakkannya. Dan ini adalah ujian.

 

2. Sifat hasad muncul dari kecintaan atas popularitas, sehingga dirinya tidak merelakan seseorang untuk mengalahkanya dalam kedudukan tersebut. Dan jiwanya yang kerdil menginginkan agar semua orang selain dirinya berada harus dibawahnya, paling maksimal hanya boleh setara dengannya, tidak boleh melebihinya.

 

3. Hasad muncul karena permusuhan/kebencian. Jika seseorang telah terlanjur membenci orang lain, maka tidak akan lagi kebaikan yang akan muncul dari orang yang dibenci tersebut. Apapun yang dilakukan oleh orang lain tersebut, maka akan dinilai sebagai bentuk keburukan. Hal ini disebabkan karena ia melihat dengan pandangan kebencian, sehingga muncul lah rasa hasad yang begitu mendalam.

 

4.Sifat hasad muncul karena sikap kesombongan. Takala ada seorang rekan sejawat yang berpotensi mengalahkan ia dalam suatu pekerjaan/prestasi, maka ia tidak tahan dengan hal tersebut, sehingga terjadilah hasad. Ia tidak ingin dikalahkan dalam pekerjaan/prestasinya tersebut. Dalam kasus yang banyak dijumpai, seorang penjual tidak rela jika penjual lainnya mengalahkan ia dalam jual beli. Dan ini pulalah yang terjadi antara Rasulullah -shallallahu ‘alahi wa sallam- dan orang-orang kafir Quraisy, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Jahal (amar bin hisyam), yang mana ia membenci Rasulullah -shallallahu ‘alaihim wa sallam-  disebabkan Rasulullah bukan dari suku mereka.

 

5. Hasad muncul disebabkan karena sikap ujub/pongah. Adanya rasa berbangga atas diri yang begitu berlebihan. Biasanya, mereka yang terkena penyakit ini, berbangga atas amal shalih yang dulu pernah dilakukan. Perlahan tapi pasti, akan menimbulkan rasa hasad di dalam dirinya jika ada orang lain yang menyamainya atas apa yang ia ujubkan tersebut.

 

6.Penyakit hasad muncul karena buruknya jiwa, yang mana ia melakukan hasad tidak pandang bulu. Jika ia melihat ada orang yang maju usahanya, maka seketika itu sakit hatinya, padahal bukan dari kerabatnya, bukan pula dari tetangganya, bahkan bukan siapa-siapanya, hanya orang asing yang ia baru pertama kali melihat, namun karena memang jiwanya yang buruk/kerdil. Tidak ada sebab musabab, ia hasad kepad orang tersebut.

 

7. Penyakit hasad muncul pada orang-orang  yang memliiki sifat syukh, yaitu orang yang bakhil atas  harta milik orang lain. Jadi, harta milik orang lain, tapi malah ia yang bakhil. Contoh, ia mendengar kabar ada muhsinin di surabaya yang menginfaqkan hartanya, tetapi malah ia yang tidak terima, malah dadanya yang terasa sempit, seakan-akan dunia ini membuat dirinya sesak jika orang tersebut menginfaqkan hartanya. Hal ini disebabkan hasad yang sedemikiannya menguasai dirinya. Padahal itu bukan harta miliknya.


 

Setelah kita mengetahui beberapa penyebab hasad, maka hendaknya kita meracik ramuan yang pas guna mengobati hasad yang kadung mengotori hati, atau sekurang-kurangnya sebagai obat yang dapat menjauhkan kita dari bahaya hasad.

1. Hendaknya kita belajar untuk senantiasa ridha/ikhlash atas takdir Allah Ta’ala. Bahwasanya Allah Ta’ala telah menetapkan rizqi hamba-hambanya sesuai dengan ilmu-Nya yang Maha Luas.

 

2. Menjaga keistiqamahn dan pemunurnian ibadah kepada Allah Ta’ala, kemudian memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dijauhi dari sifat hasad.

 

3. Memahami hakikat kebahagiaan, ingatlah selalu wasiat emas dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam

من أصبح منكم آمنا في سربه , معافى في جسده , عنده قوت يومه , فكأنّما حيزت له الدنيا

“Barang siapa yang pada pagi harinya merasa aman di rumahnya, sehat badannya, tercukupi pangannya pada hari tersebut, maka seakan-akan ia telah mendapatkan dunia seutuhnya”
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullahu-]

 

4. Bermuamalah yang baik kepada sesama, guna meredam orang yang hasad kepada kita. Karena hasadnya orang lain kepada kita dapat memicu ‘ain, yang mana akan memudhorotkan kita.

 

5. Hendaknya zuhud terhadap  dunia, yaitu perhatian kita fokus terhadap perkara akhirat. Harta yang ada tidak masuk ke dalam hati, akan tetapi cukup di tangan saja.

 

6. Menganalisa apa yang harus kita hasadkan. Karena jikalau mau jujur dari hati ke hati, apa pula yang harus kita hasadkan dari orang tersebut ? Tidak taukah kita, bahwasanya ia pun bisa jadi menderita dikarenakan harta yang melimpah tersebut.

 

Semoga apa yang sedikit ini kiranya dapat bermanfaat, terkhususnya bagi kami.
Allahumma Aamiin.

Allahu A’lam.


[Surabaya, 13 Rabi’ul Akhir 1439 / 31 Desember 2017]
Abu Musa al-Fadaniy

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang telah mengambil studi sarjana di Teknik Informatika, ITS Surabaya. Alumni Ma’had Thaybah Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*