Perbedaannya Bak Langit dan Bumi

Abu Muslim al-Kadiriy Penyejuk Hati 0 Comments

Temanku pernah menceritakan kisah yang menggugah imanku seketika. Yakni kisah tentang gurunya yang mengajarkan tahfizhul Qur’an di pondoknya.

Dia bercerita tentang kezuhudan gurunya yang layak kita contoh, apalagi di terpaan badai fitnah zaman akhir ini.

Kisahnya singkat saja, namun sudah cukup untuk menjadikan diriku malu semalu-malunya dengan membandingkan antara imanku dan iman beliau.

Beliau-hafizhahullah- bukan seorang asli Indonesia. Beliau seorang syaikh yang diutus untuk mengajar di sebuah pondok pesantren di Jawa Barat. Beliau dikatakan oleh temanku sebagai sosok yang amat menjaga muru’ah/martabat terhadap status muslimnya.

Beliau sosok yang menjaga anggota badannya dari segala potensi kemaksiatan sekecil apapun. Diceritakan bahwa beliau enggan sama sekali untuk memasuki tempat-tempat perbelanjaan layaknya mini market dan mal. Apa alasannya?

Ternyata, karena di sana disetel musik. Masya’Allah! Bukankah itu suatu potensi kemaksiatan telinga yang biasanya aku remehkan? Bukankah itu hal yang tidak pernah terpikirkan akan munculnya celah untuk bermaksiat pada Ar-Rahman?

Bagiku, atau bagi kita, mungkin itu perkara kecil saja. Toh, ada perbedaan antara سمع (mendengar tanpa sengaja) dengan استمع (benar-benar mendengarkan). Namun, tidak demikian dengan seorang ulama, seorang yang berilmu, seorang yang memiliki rasa takut yang tertinggi pada Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah kezuhudan, wara’-nya seorang ulama-terlepas dari pembicaraan fiqih di atas-. Mereka memilih jalan yang paling jauh dari syubhat dan kemaksiatan. Maka, pantaslah bila seorang ulama itu menjadi teladan wahid bagi umat.

Demikianlah kemuliaan ilmu agama. Dia akan menjadikan pemiliknya mulia nan tinggi, dan akan menyeret dunia ini dengan hina ke hadapannya. Ini seperti sabda Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- :

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ ؛ جَـمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِه ِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّـتُهُ الدُّنْيَا ؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَه

“Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allâh akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allâh akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya”. [1]

Sungguh, telak diriku jika dibandingkan dengan keimanan setingkat syaikh tersebut. Sungguh, antara langit dan bumi.

Semoga Allah Ta’Ala memberikan keberkahan kepada penulis dan para pembaca agar merasakan manfaat dari faidah tulisan kecil ini.

Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyiina Muhammad. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

كتب على

19 Syawwal 1437 H

Ath-Thaybah

=========

Sumber:

1. Artikel almanhaj.or.id

Footnote:

1. HR. Imam Ahmad (V/183), Imam Ad-Darimi (I/75), Imam Ibnu Hibban (No. 72 dan 73 –Mawâriduzh Zham’ân, Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184)

 

Diambil dari: rejalsunni.tumblr.com

 


 

Penulis : Abu Muslim al-Kadiriy

Muroja’ah : Abu Zur’ah ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Sedang menikmati masa kuliah S1 Teknik Informatika ITS sambil ngaji di Mahad Thaybah.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*