Bala Hasad (Bag.1)

Abu Musa al-Fadaniy Mutiara Faidah, Penyejuk Hati 0 Comments

Bismillah..
Rahimakumullahu jami’an..

Hasad adalah sebuah kejelekan yang kita berlindung kepada Allah darinya, sebagaimana dalam firman-Nya:

 

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dari kejelekan orang-orang yang hasad apabila mereka hasad.” (QS. Al-Falaq: 5)

Banyak ayat dan hadits yang memperingatkan dari hasad. Nabis shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling hasad.”[1]

Beliau juga bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ

“Waspadailah hasad.”[2]

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits di atas.

 

Wahai saudaraku..
Ketahuilah, bahwasanya hasad adalah penyakit yang pertama kali muncul di alam makhluk.

Bukankah Iblis terusir dari surga dan terjauhi dari rahmat Allah Ta’ala  disebabkan hasadnya ia kepada Nabi Adam -‘alaihi salam-?

Bukankah anak adam saling membunuh (qabil membunuh habil) disebabkan adanya hasad ?

Allahu musata’an !


 

Hasad adalah penyakit yang tidak ada untungnya.

bagaimana tidak ?!!

Bukankah sama saja halnya ia (pelaku hasad) melempar dengan batu kepada orang lain, namun bukan orang lain yang kena, tetapi malah dirinya kena. Demikian pulalah hasad.

 

Rasulullah -shallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan bahwasanya hasad memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu.

 

إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

jauhilah hasad karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”[2]

Sekarang mari kita ulas sejenak penyebab hasad.

Kalaulah kita mau bicara dari hati ke hati, maka akan didapati bahwasanya  hasad disebabkan karena kita berlomba-lomba kepada sesuatu yang sempit. Sehingga muncullah rasa saling benci, saling hasad.  Akan tetapi seorang muslim yang sejati, maka ia akan berbebut sesuatu yang besar, yaitu pengampunan Allah Ta’ala dan surga-Nya. Jika demikinan, bagaimana mungkin lagi sesama muslim saling dengki ? saling hasad ?

 

Hasad merupakan marah yang tependam di dalam hati yang tidak bisa dilampiaskan kepada orang yang menjadi target hasad. Ini pulalah yang terjadi pada iblis.

Iblis hasad kepada Nabi Adam -‘alaihi wa sallam-, yang mana menyangka bahwa ia harus mendapat kasih sayang Allah -‘azza wa jalla- secara mutlak, sehingga ketika diciptakan Nabi Adam -‘alaihi wa sallam-, maka ia mengira Nabi Adam -‘alaihi wa sallam- akan merebut kasih sayang Allah -‘azza wa jalla-.

Lantas kemudian Iblis -la’natullahu ‘alaihi- mencari-cari legalitas atas hasad yang ia buat, yang mana itu merupakan alasan yang tidak berada di atas dalil.

Bukan kah tatkala Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk sujud kedapa adam, ia membantah dengan mengatakan

 

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik dari dirinya, engkau ciptakan diriku dari api sedangkan engkau ciptakan ia dari tanah”[3]

Sesungguhnya perbandingan antara tanah dan api merupakan perbandingan yang amat jauh. Bukankah pada realitasnya, tanah jauh lebih baik daripada api. Karena tanah sifatnya membangun, sedangkan api sifatnya membakar. Dan sifat yang membangun jauh lebih baik dari pada membakar.  Dan tabiat tanah adalah dingin, sedangkan tabiat api adalah panas, dan tentu dingin lebih dari pada panas. Demikian yang dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab badaa’ul fawaid.

Allahu a’lam..

Insya Allah akan kami lanjutkan pada tulisan berikutnya, biidznillah..


[Surabaya, 26 Al-Muharram 1439 H 16 Oktober 2017 M]

Abu Musa al-Fadaniy


[1] – Hadits shahih, riwayat muslim

[2] – Hadits shahih, riwayat Abu daud

[3] – Surah Al-A’raaf ayat 12

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang telah mengambil studi sarjana di Teknik Informatika, ITS Surabaya. Alumni Ma’had Thaybah Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*