Wahai Saudaraku, Utamakanlah yang Shalihah !

Abu Musa al-Fadaniy Mutiara Faidah 0 Comments

Umar bin Khattab -Radiyallahu ‘anhu- mengomentari para pemuda yang tak ada keinginan di hatinya untuk menikah dengan ucapan yang sangat mahsyur,

“Tidak ada yang menghalangi seseorang untuk menikah kecuali disebabkan ia memiliki penyakit lemah syahwat atau karena banyaknya kemaksiatan”

 

Sudah selayaknya para pemuda yang telah memiliki kemampuan biologis dan kemampuan mencari penghidupan untuk menyegerakan pernikahan. Dengan pernikahan tersebut, maka ia akan lebih selamat dari untaian fitnah syahwat yang selalu mengintai dirinya, mengingat di zaman ini fitnah syahwat begitu dahsyat mengoyak keimanan seseorang. Dan bukankah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengisyaratkan kepada para pemuda maupun pemudi untuk menjaga kesucian dirinya dengan cara menikah, sebagaimana yang kita dapati dari hadits shahih riwayat Ibnu Mas’ud -Rahiyallahu ‘anhu-,

 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ منكُم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

[Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah memiliki kemampuan (ba’ah), maka hendaknya ia menikah, karena dengan menikah itu akan lebih mampu menundukkan pandangan, sekaligus lebih menjaga kemaluan. Dan siapa saja yang belum mampu menikah, maka hendaknya ia berpuasa, karena dengan berpuasa itu akan menjadi pemutus syahwat]

 

Wahai saudaraku, ketahulai lah bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memberikan sebuah wasiat yang begitu berharga bagi para pemuda yang hendak menyempurnakan agamanya. Wasiat yang benar-benar mahal, bahkan wasiat yang akan membawa seseorang bahagia di dunia hingga di akhirat. Kiranya para pemuda harus memahami wasiat tersebut dengan kesadaran penuh. Wasiat tersebut merupakan hadits shahih dari jalur sahabat Nabi, Abu Hurairah -Radiyallahu ‘anhu-,

 

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

(Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, dan karena agamanya. Utamakanlah atas dirimu wanita yang memiliki agama (shalihah), nisyaca engkau akan beruntung)

 

Hadits yang mulia ini benar-benar tak ubahnya laskana mercusuar bagi para pemuda yang hendak menikah, sehingga ia mengetahui kemana harus ia labuhkan maupun ia tambatkan hatinya. Seorang pemuda yang berakal sehat, sudah barang tentu tidak akan mau bermain-main untuk perkara yang amat mulia ini. Pemuda yang demikian tersebut memahami bahwasanya kebersamaan ia bersama pasangannnya di dunia ini amatlah singkat, maka ia ingin terus saling membersamai hingga di surga kelak, maka sudah sepatutnya ia mencari pasangan yang saling menguatkan dalam rangka penghambaan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

 

Wahai saudaraku, betapa banyak dari kaum muslimin pada dewasa ini, tak lagi memperdulikan faktor agama tatkala hendak mencari wanita yang akan membersamainya. Sudah tak aneh lagi jika kita mendengar berita bahwa si fulan menikah dengan si fulanah yang  notabene jauh dari nilai-nilai keislaman, walaupun memang benar wanita tersebut memiliki paras cantik jelita dan berasal dari nasab yang terpandang. Namun ketahuilah, tatkala rasa cinta disandarkan semata-mata dari paras yang cantik jelita, maka pastikanlah bahwa rasa cinta tersebut akan memudar seiring memudarnya kecantikan sang istri. Demikian halnya pula jika rasa cinta disandarkan semata-mata karena harta si istri yang melimpah, maka cinta yang demikian tersebut akan goyah sedemikian kencang tatkala harta tersebut hilang entah kemana. Mari kita simak petuah emas dari Sufyan bin Uyainah -Rahimahullahu-,

 

“Siapa yang mencari wanita dikarenakan kemuliaan si wanita, maka dia akan diuji dengan kehinaan. Siapa yang mencari wanita dikarenakan harta si wanita, maka dia akan diuji dengan kemiskinan. Dan siapa yang mencari wanita dikarenakan baiknya agama si wanita, maka Allah Ta’ala akan mengumpulkan untuknya kemulian, harta, dan agama”

[Hilyatul Auliya’]

 


 

Wahai saudaraku yang hendak menempuh pernikahan, mari kita ulas dari hati ke hati terkait persoalan ini secara cermat dan penuh penghayatan.  Kita akan ulas secara mendalam, mengapa begitu pentingnya mengutamakan wanita yang shalihah diatas faktor-faktor lainnya.

 

Pertama, mengutamakan wanita yang shalihah sebagai calon istri, maka anda telah berbuat baik kepada anak-anak anda kelak. Bagaimana tidak ?! Anda telah jauh-jauh hari mempersiapkan seorang wanita yang siap untuk mendidik anak-anak anda dengan pendidikan yang berlandasakan Al Qur’an dan As Sunnah, dan ini merupakan hak anak atas ayahnya. Umar bin Khattab -Radiyallahu ‘anhu- pernah ditanya, “Apakah hak seorang anak atas ayahnya ?” Ia menjawab, “Memilih Ibu yang shalihah baginya, memberi nama yang baik, dan mengajarkannya Al Qur’an”.

 

Kedua, istri yang shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan di muka bumi ini. Perihal ini senada dengan apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi  wa Sallam- melalui hadits shahih riwawat Abdullah bin Umar -Radiyallahu ‘anhuma-,

 

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

[Dunia ini merupakan perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah]

 

Istri yang shalihah, maka ia akan senantiasa menggunakan pemahaman agamanya dalam setiap tindak-tanduknya tatkala berumah-tangga. Di dalam benaknya selalu tertanam bagaimana agar semua pengabdian yang ia berikan kepada suaminya semata-mata untuk meraih ridha Allah ‘Azza Wa Jalla. Hal ini disebabkan ia telah memahami bahwa surganya sudah berpindah dari orang tuanya kepada suaminya. Bahkan tatkala terjadi masalah antara ia dengan suaminya, maka segera ia utamakan keridhaan suami diatas egonya. Tidak peduli siapa yang salah, yang terpenting baginya, ia harus segera memintaaf maaf atas masalah tersebut hingga suaminya ridha. Wanita yang tidak memahami agamanya dengan baik mustahil akan memiliki sikap mulia tersebut ! Sedangkan wanita yang shalihah, ia benar-benar memahami hadits Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- berkenaan hal tersebut,

 

أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟

كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

[Maukah kalian aku kabarkan terkait istri-istri kalian di surga ?

Mereka yaitu para wanita yang penyayang lagi subur, apabila ia sedang marah atau diperlakukan buruk oleh suaminya, maka wanit aitu akan berkata, “(Wahai suamiku) Ini tanganku berada di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa dipejamkan sebelum engku ridha]

 

Hadits diatas menggambarkan kepada kita betapa seorang istri yang shalihah akan berupaya dengan gigih menggapai ridha suaminya. Ia tak akan biarkaan suaminya kesusahan hati maupun memperkeruh suasana hati suaminya tersebut. Istri yang demikian tersebut benar-benar lihai dan pandai dalam menyenangkan hati suaminya.

 

Ketiga, istri yang shalihah merupakan istri yang terus berupaya menjaga kesucian dirinya dan harga diri suaminya. Istri yang shalihah sudah barang tentu terus berupaya menundukkan pandangannya dari selain suaminya. Rasa malu benar-benar telah membalut kepribadianya, rasa malu yang membawa kepada kebaikan. Dampaknya, sang suami tidak akan merasa gundah gulana tatkala meninggalkan istrinya di rumah dalam rangka mencari rezki yang halal. Hati suaminya tersebut merasa tenang dan damai, karena sang suami tersebut yakin istrinya tak akan mungkin berkhianat dan akan menjaga harta suaminya tersebut dengan sebaik-baik penjagaan.

Allah -‘Azza Wa Jalla- banyak menerangkan terkait karakteristik wanita yang shalihah, diantaranya Allah –‘Azza Wa Jalla- sebutkan di Surah An-Nisa ayat 34,

 

فالصالحات قانتات حافظات للغيب بما حفظ الله

[Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah Ta’ala lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah ta’ala telah memelihara (mereka)]

 

 

Masya Allah…
Sungguh, masih banyak yang belum kita ulas !. Semoga di lain kesempatan Allah ‘Azza Wa Jalla- memberikan taufiq kepada kita untuk bisa mengulas lebih dalam lagi terkait perkara besar ini ! Insya Allah…

Allahu A’lam…

[Surabaya, 8 Ramadhan 1438 / 3 Juni 2017]

Artikel Thaybah.Id
Penulis : Abu Musa al-Fadaniy

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang telah mengambil studi sarjana di Teknik Informatika, ITS Surabaya. Alumni Ma’had Thaybah Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*