Panduan Singkat Lailatul Qadar

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

(( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ))

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) di malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar? Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Para malaikat dan Jibril turun dengan seizin dari Rabb mereka pada malam tersebut untuk mengurus semua urusan dengan menyebarkan salam (kesejahteraan) hingga terbit fajar.” [QS. Al-Qadar [97]: 1-5]

عَنْ مُجَاهِدٌ، قَالَ: كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ رَجُلٌ يَقُوْمُ اللَّيْلَ حَتَّى يُصْبِحَ، ثُمَّ يُجَاهِدُ الْعَدُوَّ بِالنَّهَارِ حَتَّى يُمْسِيَ، فَفَعَلَ ذَلِكَ أَلْفَ شَهْرٍ، فَأَنْزَلَ اللّٰهُ هَذِهِ الآيَةَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)) قِيَامُ تِلْكَ اللَّيْلَةِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ ذَلِكَ الرَّجُلِ.

Dari Mujahid, dia berkata, “Di kalangan Bani Israil ada seseorang yang selalu shalat malam hingga subuh, kemudian berjihad melawan musuh di pagi hari hingga sore hari. Dia mengerjakan itu selama seribu bulan, lalu Allah menurunkan ayat, ‘Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.’ Shalat pada malam tersebut lebih baik daripada amal lelaki tersebut.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/443) dan Tafsir ath-Thabari (XXX/167)]

عَنْ عَلِي بِنْ عُرْوَةَ، قَالَ: ذَكَرَ رَسُوْلُ اللّٰهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ، عَبَدُوا اللّٰهَ ثَمَانِيْنَ عَامًا، لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَذَكَرَ: أَيُّوْبُ وَزَكَرِيَا وَحِزْقِيل بِنْ الْعَجُوْزِ وَيُوْشَعُ بِنْ نُوْنٍ. فَعَجِبَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! عَجِبَتْ أُمَّتُكَ مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلٓاءِ النَّفَرِ ثَمَانِيْنَ سَنَةً لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ؟ فَقَدْ أَنْزَلَ اللّٰهُ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ. فَقَرَأَ عَلَيْهِ: ((إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)) هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبَتْ أَنْتَ وَأُمَّتُكَ. قَالَ: فَسُرَّ بِذَلِكَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ.

Dari Ali bin Urwah, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan empat orang dari Bani Israil. Mereka beribadah selama 80 tahun dan tidak pernah bermaksiat meskipun sekejab mata. Lalu beliau menyebutkan mereka adalah Ayyub, Zakaria, Hizqil Ibnul Ajuz, dan Yusya’ bin Nun. Kemudian pada shahabat Rasulullah merasa takjub dengan hal itu. Lalu Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Apakah umatmu merasa takjub dengan ibadah orang-orang tersebut selama 80 tahun dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya meskipun sekejab mata? Sungguh Allah telah menurunkan yang lebih baik daripada itu.’ Lalu dia membacakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya Kami telah menurukannya (al-Qur`an) di malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar? Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.’ Ini lebih utama daripada apa yang membuat takjub umatmu.’ Lalu beliau dan para shahabat yang bersamanya sangat senang.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/443) dan ad-Durrul Mantsur (XIII/569) oleh as-Suyuthi]

Sungguh ini adalah kabar gembira bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ketika membawakan hadits tentang Lailatul Qadar, Abu Hurairah mengawali dengan ucapannya, “Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada para shahabatnya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ: «قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para shahabatnya, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang telah diwajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia benar-benar rugi.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 8991, XIII/541) dengan lafazh miliknya dan Sunan an-Nasa`i (no. 2106, IV/129)]

Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Sedikit sekali dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa melampaui umur seperti itu. Namun, dengan Lailatul Qadar umat Muhammad bisa mengungguli umat-umat sebelum mereka. Walhamdulillah.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melampaui itu.” [Hasan: Sunan at-Tirmidzi (no. 3550). Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi, al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 757), dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (II/240)]

Kapan Turunnya Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar turun pada bulan diturunkannya pertama kali al-Qur`an yaitu sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2020) dan Shahih Muslim (no. 1169) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Lebih akuratnya lagi sepuluh akhir yang ganjil.

قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh akhir yang ganjil di bulan Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2017) dan Shahih Muslim (no. 1169) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Lebih akuratnya lagi tanggal 27 Ramadhan.

قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ.

Ubay bin Ka’ab berkata, “Demi Allah! Aku benar-benar mengetahu malam di mana Rasulullah memerintahkan kami untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 762)]

Namun, pendapat mayoritas ulama adalah malam Lailatul Qadar itu berganti-ganti tiap tahun sesuai kehendak Allah. Adapun pernyataan Ubay bin Ka’ab di atas boleh jadi adalah malam Lailatul Qadar yang terjadi pada tahun tersebut.

عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ يَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ.

Dari Abu Qilabah, dia berkata, “Lailatul Qadar berpindah-pindah pada sepuluh terakhir yang ganjil.” [Mushannaf Abdurrazzaq (no. 7699)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa sepuluh malam terakhir ini dihitung dari belakang bukan dari depan. Sehingga jika Ramadhan tersebut sebanyak 30 hari, hari ganjil dimulai tanggal 21 dan seterusnya. Namun, jika Ramadhan tahun itu ternyata 29 hari, maka ganjilnya berupa genap. [Allahhu a’lam, kurang lebih seperti ini yang kami ingat dari pemaparan beliau]

Maka, dikarekan kita tidak bisa memastikan apakah Ramadhan tahun ini 29 atau 30 hari maka kita bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir baik ganjil maupun genap.

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Tanda Lailatul Qadar turun adalah pada malam hari cuaca tidak terlalu dingin dan indah, sementara pada pagi harinya matahari terbit dengan sinar yang cerah tidak terlalu menyilaukan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: «لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ، تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرآءَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Lailatul Qadar, “Malam yang indah, cerah, tidak panas, dan tidak dingin. Matahari terbit di pagi hari dengan melemah kemerah-merahan.” [Musnad ath-Thayalisi (no. 2802)]

قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: أَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَآءَ لَا شُعَاعَ لَهَا.

Ubay bin Ka’ab berkata, “Tanda-tandanya adalah matahari terbit pada pagi hari dalam keadaan cerah tetapi tidak menyilaukan.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 762)]

Apa yang Perlu Dikerjakan Pada Sepuluh Hari Terakhir?

Yaitu bersungguh-sungguh dalam beribadah dan ketaatan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2024) dan Shahih Muslim (no. 1147)]

Di antara bentuk ibadah yang ditekankan adalah shalat malam, memohon ampun, tilawah al-Qur`an, dan bersedekah.

قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2014) dan Shahih Muslim (no. 760) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ! أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ: «تَقُولِينَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Dari Aisyah, bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimana menurutmu jika aku menjumpai Lailatul Qadar, doa apa yang aku panjatkan?” Beliau menjawab, “Berdoalah: Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku.” [Shahih: Sunan Ibnu Majah (no. 3850)]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Keadaan beliau paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan saat ditemui oleh Jibril alaihis salam. Dia menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarrus al-Qur`an. Sungguh Rasulullah adalah yang paling dermawan dalam kebaikan melebihi angin yang berhembus.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 6) dan Shahih Muslim (no. 2308)]

Sungguh amat agung keutaman bulan Ramadhan terutama satu malam di dalamnya yang lebih utama daripada seribu bulan. Benarlah, seandainya ada seorang hamba yang terluput darinya keutamaan ini, sungguh benar-benar dia telah rugi.

«مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

“Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia benar-benar rugi.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 8991, XIII/541) dan Sunan an-Nasa`i (no. 2106, IV/129)]

*Materi khutbah Jum’at 21 Ramadhan 1433 H di Masjid Thaybah Surabaya oleh Abu Zur’ah ath-Thaybi. Awalnya berjudul Menyongsong Lailatul Qadar.


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*