Panduan Ringkas Shalat Istikharah Sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah

Abu Musa al-Fadaniy Belajar Islam 0 Comments

Bismillah..
Rahimakumullahu…

Tulisan ini kami angkat sehubung datangnya sebuah pertanyaan dari salah seorang sahabat kami (yang kami cintai karena Allah Ta’ala, Insya Allah) terkait shalat istikharah yang benar sesuai tuntunan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

 

Masya Allah..
Sungguh hati ini merasa amat senang melihat para pemuda yang begitu bersemangat beribadah diatas tuntunan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bukankah saat ini kita hidup di zaman yang mana sesiapa yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka akan menjadi bahan olok-olokkan ?! Allahu musta’an.

 

Duhai saudaraku,
lebih masuk akal mana, kita mengambil air guna melepas dahaga langsung dari mata airnya, atau malah mencukupkan diri mengambil air di hilir sungai ? Tentu akal yang sehat tidak akan mau mengambil air yang sudah tercampur berbagai kotoran. Demikian pulalah dalam mengambil pemahaman islam ini, akal yang sehat tentu akan merujuk langsung kepada mata airnya, yaitu pemahaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat -Radiyallahu ‘anhu-, serta orang-orang shalih yang mengikuti mereka. Pemahaman yang masih murni dari campuran kotoran kisah-kisah takhayyul, khurafat, serta kaifiyyat yang bid’ah.

‘Amma ba’du.


 

Jika anda hendak bergantung, maka bergantung kepada sesuatu yang kokoh. Tidak akan masuk akal, jika kita malah bergantung kepada sesuatu yang rapuh. Sungguh keliru orang yang demikian ! Bukankah Allah ‘Azza Wa Jalla- merupakan sebaik-baik Dzat untuk kita bergantung ? Maka bergantung kepada selain-Nya merupakan suatu tindakan yang tidak cerdas. Disebutkan bahwasanya para generasi as-salaf ash-shalih terdahulu benar-benar mengantungkan diri kepada Allah –‘Azza Wa Jalla- sampai kepada perkara memilih garam di dapur. Masya Allah !

 

Betapa banyak diantara kaum muslimin saat ini, yang tak lagi mau mengonsultasikan perkaranya kepada Allah Ta’ala. Ia lebih percaya dengan kemampuan akalnya sendiri, dan melepaskan Allah ‘Azza Wa Jalla- dalam menentukan keputusan, padahal Allah –‘Azza Wa Jalla- merupakan Dzat yang Maha Mengatahui segalanya. Sehingga banyak diantara mereka yang celaka atas pilihannya tersebut, karena enggan melibatkan Allah –‘Azza Wa Jalla-. Semisal untuk perkara memilih pasangan hidup. Tak sedikit para pemuda yang dulunya dermawan, namun setelah menikahi istrinya, malah menjadikan dirinya sebagai seorang yang amat bakhil, bahkan amat pelit kepada dirinya sendiri. Ini akibat ia tidak meminta petunjuk kepada Allah -Jalla wa ‘ala- tatkala menentukan pasangan hidupnya. Alangkah eloknya jika ia dahului dengan doa istikharah kepada Allah –‘Azza Wa Jalla-, guna memantapkan hati serta memohon keberkahan dari pilihannya tersebut.

 

Secara arti asal, istikharah bermakna memohon pilihan kepada Allah Ta’ala, atau minta dipilihkan oleh Alah Ta’ala.  Istikharah tidak semata-mata shalat sunnah dua rakaat, yang kemudian diakhiri dengan doa khusus (doa istikharah). Bahkan jika tidak memungkinkan bagi kita untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat, maka masih tetap bisa melakukan doa istikharah. Pun juga, doa istikharah tidak melulu dipanjatkan tatkala kita dihadapi oleh 2 pilihan yang sulit. Sekalipun kita dihadapkan hanya pada 1 pilihan saja, maka tetap dianjurkan atas kita untuk meminta kemantapan hati dan memohon keberkahan atas pilihan tersebut kepada Allah –‘Azza Wa Jalla-.

 

Ada beberapa lafadz doa istikharah yang shahih, diantara yang paling kita ketahui yaitu hadits terkait doa istikharah dalam perkara khitbah (meminang seorang wanita).

 

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-anshari -radiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

اكتم الخطبة ثم توضأ فأحين وضوءك ثم صلّ ما كتب الله لك ، احمد ربّك و مجده ، ثم قل :

“Rahasiakanlah terlebih dahulu khitbahmu, kemudian berwudhu’ lah dengan wudhu yang baik, kemudian shalatlah dengan shalat yang telah Allah Ta’ala fadhukan bagimu. Kemudian pujilah Rabb-mu, dan agungkanlah Dia. Kemudian ucapkanlah :

اللهُمَّ إنّكَ تَقْدِرُ وَلَا أقْدِرُ وَ تَعْلَمُ وَلَا أعْلَمُ وَ أنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ ، فَإنْ رَأيْتَ فِيْ فُلاَنَةَ [ تُسَمِّيْهَا بِاسْمِهَا ] خَيْرًا ِليْ فِيْ دِيْنِيْ وَ دُنْيَايَ وَ آخِرَتِيْ فَاقْدُرْهَا لِيْ وَ إنْ كَانَ غَيْرُهَا خَيرًا لِي مِنْهَا فِيْ دِيْنِيْ وَ دُنْيَايَ وَ آخِرَتِي فَقْضِ لِيْ ذَلِكَ

(Allahumma innaka taqdiru wa la aqdiru, wata’lamu wa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyuub, fa in raita fii fulanah [—-] khairan li fii diinii wa dunyaaya wa aakhirati faqdurha li, wa in kana ghairuhaa khairan lii  minha fii diinii wa dunyaaya wa aakhirati faqdhi li dzalika)

“Ya Allah –‘Azza Wa Jalla-, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan aku sama sekali tidak memiliki kemampuan. Dan Engkau Maha Mengatahui, sedang aku sama sekali tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui segala perkara yang ghaib.  Sekiranya Engkau melihat bahwasanya Fulanah (engkau sebutkan namanya) adalah baik bagi diriku untuk urusan agamaku, duniaku, serta akhiratku, maka mohon takdirkanlah ia bagi diriku. Dan apabila ada wanita lain yang lebih baik bagiku untuk urusan agamaku, duniaku, serta akhiratku,maka mohon takdirkanlah wanita lain tersebut untukku”

[Riwayat ath-Thabrani]

Masya Allah…
Doa istikharah diatas benar-benar hanya mampu diucapkan oleh seorang muslim yang hanif jiwanya.

Bagaiamana tidak ?!

Ia memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla- agar wanita yang hendak ia pinang tersebut nantinya akan berdampak baik terhadap keadaan agamanya. Karena ia memahami, cinta yang haqiqi adalah cinta yang dibuhul (diikat) oleh kecintaan kepada Allah –‘Azza Wa Jalla-.  Ia  tidak mau kelak istrinya malah menjadi fitnah (cobaan) atas dirinya dalam penghambaannya kepada Allah –‘Azza Wa Jalla-. Kemudian dengan keyakinan yang penuh atas pilihan Allah –‘Azza Wa Jalla- tersebut, ia memohon ganti yang lebih baik, sekiranya wanita yang hendak ia pinang tersebut hanya akan merusak agama dan dunianya di kemudian hari. Tentu saja muslim yang bermental tempe berjiwakan kerupuk, akan kelu lidahnya untuk mengucapkan doa ini, karena ia lebih memilih hawanya dibandingkan pilihan terbaik Allah –‘Azza Wa Jalla-. Na’udzubillahi min dzalik !

 

Dan diantara sebaik-baik doa adalah doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bukankah doa ini benar-benar  tak ubahnya seperti panah yang begitu kokoh melesat tepat pada sasarannya ?!

Bagaimana tidak ?!

Doa ini diawali dengan memuji-muji Allah –‘Azza Wa Jalla-, kemudian sekaligus dengan menghinakan diri kepada Allah –‘Azza Wa Jalla-. Bukankah inti dari doa yaitu pengagungan kepada Dzat Allah –‘Azza Wa Jalla- serta penghinaan diri ini ?! Dan doa ini dipanjatkan dengan bentuk permohonan yang mengiba, sungguh ini merupakan diantara kunci untuk bisa dikabulkannya doa. Dan tak cukup hanya meminta kemantapan hati, akan tetapi dalam doa tersebut kita diarahkan untuk meminta ganti yang lebih baik, sekiranya pilihan kita tersebut akan membawa mudharat di kemudian hari. Masya Allah !

 


 

Masih ada redaksi doa istikharah lainnya yang shahih, Insya Allah akan kami uraikan dan ulas pada tulisan berikutnya, semoga Allah –‘Azza Wa Jalla- memberikan taufiq kepada kami dan meneguhkan kita untuk senantiasa melazimi al-Qur’an dan as-Sunah diatas pemahaman Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta generasi as-Salaf as-Shalih !

Allahu a’lam.

 


[Surabaya,  29 Ramadhan 1438 / 23 Juni 2017]

Ditulis di Masjid Thaybah Surabaya

Artikel Thaybah.ID

 

Referensi :

  • صلاة الاستخارة أحكام مهمة جدا لإتقانها 

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang sedang mengambil studi di Teknik Informatika, ITS Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*