Panduan Ringkas Zakat Fithri (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

«5» Kepada Siapa Zakat Diwajibkan?

Zakat diwajibkan kepada setiap muslim baik laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau budak, anak kecil atau orang dewasa.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba dan orang merdeka, lelaki dan perempuan, anak kecil dan dewasa dari kaum muslimin.” [telah berlalu takhrijnya]

Semua jenis manusia di atas harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut:

1 – Muslim

Zakat orang kafir tidak diterima bahkan ini berlaku untuk semua ibadah dalam Islam, berdasarkan firman Allah:

(( وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللّٰهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ ))

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkah mereka kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidaklah mereka mendatangi shalat kecuali dengan kemalasan dan tidaklah mereka bersedekah kecuali dengan rasa benci.” [QS. At-Taubah [9]: 54]

Meskipun zakat mereka tidak sah, bukan berarti mereka terlepas dari dosa, justru sebaliknya berdasarkan firman Allah:

(( فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (٤٠) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (٤١) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ (٤٧) ))

“Di surga mereka saling bertanya-tanya tentang para pendosa, ‘Apa yang menjerumuskan kalian ke dalam neraka Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Kami dulu bukan termasuk orang yang shalat, kami dulu tidak memberi makan orang miskin, kami dulu mengejek bersama orang yang mengejek, dan kami mendustakan hari pembalasan hingga ajal menjemput.” [QS. Al-Muddatstsir [74]: 40-47]

2 – Mampu

Apabila seseorang memiliki makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya untuk hari raya dan malamnya, kemudian makanan itu sisa satu sha’, maka hendaklah dia mengeluarkan Zakat Fithrinya. [Syarhul Mumthi’ (VI/151) oleh Ibnu Utsaimin]

Dari sini muncul hukum bahwa anak atau istri atau yang lainnya jika mampu zakat maka zakat ditanggung sendiri. Seandainya belum mampu, baru ditanggung walinya yaitu ayahnya, suaminya, tuan budaknya, atau wali yatimnya.

Terkait satu sha’ akan datang penjelasannya dalam pembahasan Kadar Zakat Fithri khususnya beras, insya Allah.

3 – Mendapati Waktu Zakat

Waktunya wajib zakat dimulai dari terbenamnya matahari pada malam Idul Fithri hingga keluarnya manusia untuk shalat Id dan ini yang afdhal.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri dan memerintahkan untuk ditunaikan sebelum manusia keluar untuk shalat Id.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1503) dan Shahih Muslim (no. 984)]

Juga diperbolehkan menunaikan zakat sehari atau dua hari sebelum Idul Fithri.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan sedekah fithri dan para shahabat menunaikannya sebelum Idul Fithri sehari atau dua hari.”

[Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1511) dan Shahih Muslim (no. 984)]

Siapa yang menunaikan zakatnya setelah dilaksanakannya shalat Id, maka dia berdosa dan zakatnya tidak diterima tetapi dianggap sedekah biasa sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas yang telah lalu. [Lihat asy-Syarhu al-Mumti’ (VI/172) dan Fatawa Lajnah Da’imah (IX/373)]

«6» Kadar Zakat dan Jenis Makanan yang Dijadikan Zakat

Berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang telah lewat, kadar zakat adalah satu sha’. Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah satu cakupan kedua tangan lelaki dewasa berperawakan sedang dalam keadaan jari-jemari tidak menggenggam dan tidak pula melebar. [Lihat al-Qamûs al-Muhîth (hal. 407, 955) oleh Fairuz Abadi dan Fathul Bâri (XI/597), dan Fatawâ Lajnah Dâ’imah (IX/365)]

Untuk ukuran beras, satu sha’ sekitar 2,33 kg atau 2,7 liter. Ini berdasarkan uji coba pada tahun 1426 H di pondok pesantren al-Furqan al-Islami yang beralamat di desa Srowo, Kec. Sidayu, Kab. Gresik 661153. Allahu a’lam.

Adapun jenis makanan yang dijadikan zakat adalah gandum, kurma, keju, anggur kering/zabib, dan makanan pokok yang umum dimakan oleh manusia dalam negerinya seperti beras. [Majmu’ Fatawâ (XXV/68) oleh Ibnu Taimiyyah, Syarah Shahih Muslim (VII/61) oleh an-Nawawi, Kifayatul Akhyar (hal. 276)] Berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ. وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami mengeluarkan zakat pada hari Idul Fithri di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa satu sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Makanan kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 1510)]

Adapun menunaikan zakat dengan uang, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama membolehkan dan ini madzhab Hanafiyah. Pendapat kedua tidak membolehkan dan ini madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah ada dirham dan dinar dan memungkinkan untuk zakat dengan uang, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak melakukannya. Tidak ragu lagi bahwa mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lebih sesuai dengan petunjuk.

«7» Yang Berhak Menerima Zakat Fithri

Terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang berhak menerima Zakat Fithri adalah 8 golongan yang disebutkan oleh ayat:

(( إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللّٰهِ وَاللّٰهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ))

“Sesungguhnya sedekah/zakat itu untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, muallaf yang dirayu hatinya, (untuk memerdekakan) budak, terlilit hutang, untuk jalan Allah, dan ibnu sabil, sebagai suatu karunia dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” [QS. At-Taubah [9]: 60]

Pendapat kedua, untuk fakir miskin dan ini yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembagian zakat dan juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkatan yang sia-sia dan rafats, sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin.” [Takhrij telah berlalu]

Juga berdasarkan perkataan penduduk neraka yang enggan berzakat:

(( وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ))

“Kami dulu tidak memberi makan orang miskin.” [QS. Al-Muddatstsir [74]: 40-47]

Pendapat kedua ini yang lebih kuat dan diikuti oleh jumhur ulama di antaranya: Syaikhul Islam dalam Majmû’ Fatawâ (XXV/73), Ibnul Qayyim dalam Zâdul Ma’âd (II/21), asy-Syaukani dalam Nailul Authâr (III/103), al-Albani dalam Tamâmul Minnah (hal. 387), Ibnu Baz dalam Fatawâ Bin Bâz (XIV/215), dan Ibnu Utsaimin dalam as-Sarhu a-Mumthi’ (VI/184).

Demikian panduan ringkas Zakat Fithri. Materi ini disampaikan di Masjid Thaybah pada 27 Ramadhan 1433 H menjelang Maghrib. Semoga Allah Ta’ala menjadikan ini ikhlas karena-Nya dan menjadi pemberat timbangan bagi penulisnya. Sungguh Rabb-ku Mahadekat dan Maha Pengabul.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*