Kisah Menyedihkan Aisyah Dituduh Berzina dan Kemurkaan Allah kepada Syiah Rafidhah (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Sejarah 0 Comments

Aisyah menuturkan, “Aku pada saat itu masih remaja belia, aku belum mempunyai banyak bacaan (hafalan) Al-Qur’an. Maka aku berkata (kepada Rasulullah), ‘Demi Allah, sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau telah mendengar pembicaraan yang sedang menjadi buah bibir banyak orang, dan itu telah tertancap di dalam dirimu, bahkan engkau mempercayainya. Jika aku katakan bahwa sesungguhnya aku bersih dari tuduhan itu, maka engkau tidak akan mempercayaiku. Dan jika aku mengakui kepadamu bahwa tuduhan itu benar, padahal Allah mengetahui bahwa tuduhan itu palsu dan aku bersih darinya, niscaya engkau mempercayaiku. Maka, demi Allah, Aku tidak menemukan perumpamaan lain bagiku dan bagimu selain Ayah Yusuf (Nabi Ya’qub) di mana ia berkata:

«فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ المُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ»

‘Maka Sabar itulah yang terbaik, dan Allah tempat aku meminta pertolongan terhadap apa yang kalian katakan.’ [12: 8]

Kemudian aku pun pindah dan berbaring di tempat tidurku, dan pada saat itu, demi Allah, Dia mengetahui bahwa aku bersih (dari tuduhan) dan Allah pasti akan menyatakan kebersihan dan kebebasanku. Namun, aku tidak mengira kalau Allah akan menurunkan wahyu yang selalu dibaca mengenai permasalahanku ini. Sebab bagiku, aku adalah sangat terlalu hina kalau Allah membicarakan aku melalui wahyu-Nya yang selalu dibaca. Yang aku harapkan pada saat itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi tentang aku suatu mimpi yang dengannya Allah membebaskanku dari tuduhan. Demi Allah, beliau tidak berpindah dari tempat duduknya dan tidak ada seorang pun dari keluargaku yang keluar melainkan Allah Subhaanahu Wata’ala menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan seperti biasanya, beliau menggigil dan seperti tidak sadarkan diri sambil tersenyum. Dan kata pertama yang beliau katakan kepadaku adalah, ‘Wahai Aisyah, memujilah kepada Allah Subhaanahu Wata’ala karena Dia telah menyatakan kebebasanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Datangilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!’ Maka aku jawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan datang kepada beliau dan tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhaanahu Wata’ala semata, sebab Dialah yang telah menurunkan (wahyu) kebebasanku dari tuduhan.’

Pada saat itu Allah menurunkan firman-Nya:

«إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ * لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ * لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ * وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ * إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ * وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ * يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ * إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ * وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ»

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).’” (QS. An-Nur [24]: 11-20)

Lalu setelah ayat tentang pembebasanku ini diturunkan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang sebelumnya selalu memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena hubungan kerabat dekat dan kefakirannya, ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberinya nafkah lagi selama-lamanya, karena ia turut serta menyebarkan berita bohong yang dituduhkan terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha.’ Maka kemudian Allah menurunkan ayat:

«وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ»

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nur: 22).

Maka setelah itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Demi Allah, aku benar-benar sangat suka kalau Allah mengampuni aku.’ Maka ia pun kembali memberi nafkah kepada Misthah sebagaimana biasanya, bahkan beliau berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan mencabut (pemberian nafkah ini) darinya selama-lamanya.’”

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menanyakan tentang aku kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha seraya bersabda, Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui (tentang Aisyah) dan apa yang telah kamu lihat?’ Zainab menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku selalu memelihara pendengaran dan mataku, demi Allah, aku tidak mengetahui tentang dia kecuali baik-baik saja.’

Dialah (Zainab) di antara istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu menyaingi aku, dan Allah melindunginya dengan ke-wara’annya.

‘Aisyah juga menuturkan, ‘Namun saudara perempuannya Hamnah selalu melancarkan serangan terhadapku, maka dari itu ia binasa (mendapat hukuman) bersama-sama para penyebar berita bohong itu.’”

‘Aisyah berkata, “Demi Allah, lelaki yang dibicarakan manusia (Shafwan) benar-benar berkata, ‘Subhanallah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak pernah menyingkap pakaian perempuan sekalipun.’ Kemudian dia terbunuh setelah itu di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 4141 dan Muslim no. 2770)


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*