Mengenal Lebih dalam Arbain Nawawi dan Tips Menghafalnya

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Uncategorized 0 Comments

Sekilas Tentang Arbain an-Nawawi
Pengenalan

Hadits Arbain atau Arbain an-Nawawi disusun oleh al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H). Arbain artinya empat puluh, karena kutaib (kitab kecil) ini mencantumkan 42 hadits yang berisi pokok-pokok ajaran Islam.

Banyak ulama yang menyusun hadits arbain, di antaranya Ibnul Mubarak, ath-Thusi, an-Nasa`i, Abu Bakar al-Ajurri, Abu Bakar al-Ashfahani, ad-Daruquthni, al-Hakim, Abu Nu’aim al-Ashfahani, Abu Abdirrahman as-Sulami, Abu Utsman ash-Shabuni, Abu Bakar al-Baihaqi dan lain-lain yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara mereka ada yang menghimpun 40 hadits tentang ushul, cabang, jihad, zuhud, adab, dan tema-tema baik lainnya.

Secara umum hadits-hadits Arbain karya Imam an-Nawawi adalah hadits-hadits pokok dalam agama Islam. Dari keistimewaan ini, belum ada kutaib manapun yang setema mengunggulinya. Dikatakan bahwa pokok-pokok agama Islam tercantum dalam tiga hadits: hadits niat Umar bin Khaththab, hadits bid’ah Aisyah, dan hadits halal-haram an-Nu’man bin Basyir, dan semua hadits ini dimasukkan al-Imam dalam kutaibnya ini.

Imam Ahmad (w. 241 H) berkata:

أُصُوْلُ الْإِسْلاَمِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحَادِيْثَ: حَدِيْثُ عُمَرَ «الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتَ»، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»، وَحَدِيْثُ النُّعْمَانِ بِنْ بَشِيْرٍ «الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ»

“Pokok-pokok Islam terangkum dalam tiga hadits: hadits Umar ‘Amal itu dengan niat’, hadits Aisyah ‘Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan kami apa yang bukan darinya maka ia tertolak’, dan hadits an-Nu’man bin Basyir ‘Yang halal jelas dan yang haram jelas.’

Semua hadits ini dicantumkan oleh al-Imam secara berturut-turut no. 1, no. 5, dan no. 6.

Perlu diketahui, dalam Arbain an-Nawawi terdapat tiga hadits yang dha’if tetapi dinilai hasan/shahih oleh al-Imam,  yaitu hadits no. 27, 30, dan 41. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh para pensyarahnya. Barangkali dicantumkannya hadits-hadits itu karena ada hadits lain setema yang tsabit atau ijtihad pengarang terhadap perawi bahwa mereka diterima atau minimal hasan.

Pengarang Arbain an-Nawawi adalah seorang imam ahli hadits pada zamannya sehingga digelari al-hafizh “hafal ribuan hadits”. Allah telah menjadikan penerimaan kutaib ini di hati kaum muslimin dan menjadikan puluhan ulama mensyarah hadits ini karena kandungan faidah yang banyak di dalamnya.

Di antara para ulama yang mensyarah kutaib ini adalah:

  1. Imam an-Nawawi sekaligus penyusun kutaib ini.
  2. Imam Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H) dalam kitabnya Syarah Arbain an-Nawawiyah.
  3. Imam Ibnu Rajab (w. 795 H) dalam kitabnya Jâmi’ul Ulûm wal Hikam yang merupakan syarah terbaik Arbain an-Nawawi.
  4. Imam Ibnu Mulaqqin (w. 804 H).
  5. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (w. 1376 H).
  6. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi (w. 1163 H).
  7. Syaikh Musthafa al-Bagha dan Muhyiddin Mistu.
  8. Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan.
  9. Syaikh al-Utsaimin (w. 1421 H).
  10. Syaikh Abdul Muhsin al-Abd al-Badr.
  11. Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan.
  12. Syaikh Shalih Alu Syaikh, dan lain-lain banyak sekali.

Kutaib ini telah mendapatkan pujian yang banyak dari para ulama dari zaman ke zaman. Maka, tidak layak bagi penuntut ilmu meninggalkan kutaib ini tanpa menghafalnya. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.

Tips Mudah Menghafal Arbain an-Nawawi

Penulis di sini tidak mencantumkan cara yang memang sudah umum tidak boleh tidak –bahkan dalam segala hal– seperti ikhlas dll. Walhamdulillah hal ini telah diketahui oleh semua orang. Namun, yang akan penulis tawarkan adalah langkah nyata atau konkrit dalam menghafalnya. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Bagilah hadits-hadits Arbain menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi hadits-hadits pendek (22 hadits: no. 5, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 30, 31, 32, 33, 34, 39, 40, 41, dan 42), kelompok kedua berisi hadits-hadits sedang (15 hadits: no. 1, 3, 6, 9, 10, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 35, 36, 37, dan 38), dan kelompok terakhir berisi hadits-hadits panjang (5 hadits: no. 2, 4, 19, 24, dan 29). Hafalkan kelompok pertama dulu, baru kemudian kelompok kedua, dan seterusnya. Motode ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan keputusasaan dan kejenuhan.
  2. Hafalkan yang matan (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) terlebih dulu, jika sudah selesai menghafal semua matan yang berjumlah 42 hadits, dilanjutkan menghafal shahabat yang meriwayatkannya, baru kemudian takhrijnya.
  3. Jika semua langkah di atas telah diterapkan dan telah/pernah hafal semuanya, bagilah menjadi tiga bagian, yaitu no. 1 s.d no. 10, no. 11 s.d no. 30, dan no. 31 s.d no. 42. Mulailah mengulang-ulang bagian pertama hingga benar-benar sempurna hafalannya. Jika sudah mutqin dilanjutkan dengan bagian kedua, kemudian bagian ketiga. Usai itu, ditutup dengan mengulangi dari awal hingga akhir. Akhirnya Anda pun telah sukses menghafal 42 hadits.
  4. Terakhir, jika Anda telah hafal 42 hadits secara sempurna tidak boleh terlalu percaya diri Belum selesai! Anda harus mengulang-ulang hafalan itu minimal 50 kali dari hadits no. 1 hingga no. 42. Sekedar saran, sempatkan memurajaahnya minimal sekali dalam sehari pada waktu antara Maghrib sampai Isya`. Insya Allah dengan begitu Anda akan memiliki hafalan yang sempurna dan siap dinukil kapan pun dan di mana pun Anda mau.

Ketahuilah! Termasuk akal yang kurang cerdas adalah melepas hewan buruan yang berhasil ditangkapnya.

  1. Terakhir sekali, jika semua langkah ini telah Anda tempuh dan Anda pun telah hafal 42 hadits dengan hafalan yang kokoh, maka jangan lupa bersyukur kepada Allah dan mengamalkan hadits-haditsnya.

Di antara bentuk syukur itu adalah dengan sedekah. Terdapat sebuah riwayat bahwa al-Hafizh Ibnu Hajar setelah menyelesaikan penggarapan Fathul Bârî Syarah Shahîh al-Bukhârî selama bertahun-tahun, beliau mengadakan pesta makan besar-besaran hingga orang-orang memenuhi jalan-jalan, dan ikut serta merayakannya penguasa pada waktu itu.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menghafal surat al-Baqarah selama 12 tahun. Usai itu, beliau menyembelih seekor kambing dan menyedekahkannya kepada orang-orang. Putranya memberitakan:

تَعَلَّمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ الْبَقَرَةَ فِي اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً، فَلَمَّا خَتَمَهَا نَحَرَ جَزُوْرًا

“Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu belajar (menghafal) surat al-Baqarah selama 12 tahun. Tatkala khatam, dia menyembelih jazur.”[]

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad? hal. 53-57 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.


Penulis : Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*