Mana Yang Lebih Mulia, Ahli Dunia Atau Ahli Hadits?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Ilmu Hadits 0 Comments

Ada hubungan erat antara ahli hadits dan ahli dunia. Pasalnya, kebanyakan ahli dunia –karena sudah asyik dan terbuai dengan kenikmatan dunia– tidak lagi butuh untuk mendalami hadits. Sebaliknya, para ahli hadits kebanyakan adalah orang-orang yang menghinakan dunia dan zuhud terhadapnya. Dari sini seolah-olah mereka tidak akan pernah bertemu meskipun di persimpangan jalan. Seolah-olah mereka hanya diberi satu pilihan: menjadi ahli hadits atau ahli dunia? Mana yang lebih mulia dan menguntungkan?

Allah berfirman:

 “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan.”

Akal yang sehat akan menyatakan dengan tegas bahwa ahli hadits lebih utama daripada ahli dunia. Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Fakta yang ada membuktikan bahwa perguruan tinggi teknik dan umum dibanjiri pendaftar daripada jurusan agama, mall dan pasar lebih padat daripada majlis ta’lim, kebanyakan pembicaraan manusia seputar dunia bukan akhirat, dan para pelaku dosa laksana buih di lautan sementara para pengikut sunnah laksana musafir di padang pasir.

Mereka menyangka bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu ada pada dunia dan mengekor kaum kafir. Mereka telah ditipu oleh setan. Setan membungkus kehinaan itu dengan seindah-indahnya hingga kehinaan tampak sebagai kemuliaan, padahal tipu daya setan itu lemah. Adapun orang-orang mukmin tidak akan tertipu karena melihat dengan mata hati yang bersinar karena cahaya keimanan.

Allah berfirman:

 “Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Padahal kemulian itu milik Allah seluruhnya.”

Az-Zujaj menafsirkan:

أَيَبْتَغِي الْمُنَافِقُوْنَ عِنْدَ الْكَافِرِيْنَ العِزَّةَ؟

“Apakah orang-orang munafiq itu mencari di sisi orang-orang kafir kemuliaan?”

Banyak ayat al-Qur`an yang memuji ilmu dan ahlinya, tetapi tidak untuk dunia dan ahlinya meskipun sekali. Justru yang ada adalah celaan dan ancaman. Sifat-sifat buruk mengelilingi dunia dan ahlinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللّٰهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia menginginkan yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan penuh kecuali dengan tanah. Allah menerima tobat bagi siapa yang bertobat.”

Seandainya kemuliaan itu milik ahli dunia, tentu Fir’aun, Qarun, dan Hamam lebih mulia daripada Musa dan Harun ‘alahimas salam. Dari sini telah nampak akan kemuliaan ahli hadits daripada ahli dunia.

Kekayaan berapapun yang dimiliki ahli dunia akan segera sirna karena dikelola tanpa ilmu atau berkurang karena dibelanjakan. Kekayaan tidak menambah kebahagiaan mereka tetapi justru menimbulkan hati mereka tidak tentram karena khawatir hilang atau dicuri. Kekayaan mengkhianati ahli dunia karena mereka telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencarinya tetapi ketika saat-saat sendirian di alam kubur ia justru meninggalkannya.

Adapun ahli hadits akan bertambah haditsnya saat dibelanjakan di jalan Allah. Hatinya tentram karena mendapat penjagaan dan bimbingan ilmu yang senantiasa menyertainya di dalam hatinya.

Mereka mendapat kedudukan tinggi di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan para shahabatnya untuk menyambut dan memuliakan para pendatang yang ingin belajar hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

«سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ! وَاقْنُوهُمْ»

“Akan datang kepada kalian suatu kaum untuk menuntut ilmu. Jika kalian melihat mereka maka ucapkanlah, ‘Selamat datang, selamat datang dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’ Dan ajarilah mereka.”

Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) berkata:

الْمَلَائِكَةُ حُرَّاسُ السَّمَاءِ، وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ حُرَّاسُ الْأَرْضِ

“Para malaikat adalah penjaga langit, sementara para ahli hadits adalah penjaga bumi.”

Di akhirat, tempat duduknya paling dekat dengan tempat duduk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

«إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»

“Sesungguhnya manusia yang paling berhak atasku pada hari Kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.”

Hadits ini menunjukan kedekatan ahli hadits dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak, karena mereka adalah orang-orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama para perawi senantiasa bersanding dengan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik saat diriwayatkan, ditulis, dan didengarkan.

Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ كَأَنِّي رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Apabila aku melihat seorang dari para ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Cukuplah kemuliaan ahli hadits bila pada hari Kiamat nanti berada di iring-iringan rombongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman:

 “(Ingatlah) pada hari Kami memanggil manusia beserta imam-imam mereka.”

Sebagian kaum salaf berkata:

هَذَا أَكْبَرُ شَرَفٍ لِأَصْحَابِ الْحَدِيثِ، لِأَنَّ إِمَامَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ini adalah sebesar-besar kemuliaan bagi para ahli hadits, karena imam mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[]

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad? hal. 129-134 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.

Artikel: http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*