Koreksi Program Kirim Doa Via SMS Untuk Ahli Kubur Rintisan NU Jepara

 

  1. MUQODDIMAH

 

Pada Jum’at, 22 April 2016 situs resmi Nahdhatul Ulama www.nu.or.id memposting artikel berjudul “NU Jepara Luncurkan Program Kirim Doa via SMS untuk Ahli Kubur, Seperti Apa?” yang berisi berita tentang tawaran doa via sms dengan membayar sebesar Rp5.500 /sms. Di antara nukilan berita tersebut adalah:

 

“PCNU Jepara 11 April 2016 lalu resmi meluncurkan program kirim doa untuk ahli kubur via sms. Program ini berawal dari tradisi NU yakni haul massal yang kerap digelar bertatap muka langsung dengan panitia lewat menyetorkan nama.

 

Di era teknologi seperti sekarang ini, PCNU Jepara yang dinahkodai KH Hayatun Abdullah Hadziq mencari cara agar mengirim doa untuk ahli kubur tidak harus face to face. Alhasil terbentuklah program yang baru berjalan dua pekan ini.” (http://www.nu.or.id/post/read/67515/nu-jepara-luncurkan-program-kirim-doa-via-sms-untuk-ahli-kubur-seperti-apa)

 

Melihat banyaknya kontroversi mengenai hal ini, maka saya sebagai santri dan warga asli Jepara yang diberi Allah kesempatan menulis, ingin turut berkontribusi menjelaskan hukum permasalahan ini dengan penjelasan yang mudah dan berdasar kepada dalil, in syaa Allah.

 

  1. PERMASALAHAN

 

  1. Bagaimana cara Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan mayat? Apakah boleh cara beliau diganti dengan cara buatan (kreasi) manusia?
  2. Apakah benar bacaan Al-Fatihah sampai pahalanya ke mayat?
  3. Apakah dilarang meminta orang lain mendoakan ampunan untuk mayat dengan imbalan?

 

Di dalam artikel ini, 3 pertanyaan ini akan terjawab, in syaa Allah.

 

  1. CARA NABI MUHAMMAD MENDOAKAN AHLI KUBUR

 

Kita sebagai umat Islam, kita wajib percaya bahwa semua perkara agama dan setiap permasalahan umat telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak ada satu pun perkara yang mengantarkan menuju Surga melainkan telah beliau jelaskan kepada kita, termasuk cara mendoakan orang yang telah mati.

 

Orang yang telah mati dari kaum Muslimin sangat membutuhkan doa orang yang masih hidup. Di antara yang beliau lakukan adalah mendoakan mereka saat melewati kuburan. Di antara lafazh yang shahih dari beliau adalah:

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

 

 “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 974-975, Ahmad no. 25855, dan Ibnu Hibban no. 7110)

 

Bagaimana jika tidak sedang melewati kuburan? Jawabannya, doa bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Bahkan jika dilakukan di waktu mustajabah maka sangat dianjurkan, seperti di sepertiga malam terakhir, antara azan dan iqomat, saat turun hujan, setelah bacaan shalawat di tasyahud akhir, dan saat dizholimi. Semua ini shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Bagaimana lafazh doanya? Lafazhnya bebas, yang penting mengandung permohonan ampun dan rahmat. Akan tetapi meniru lafazh nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah) maka lebih afdhal karena keduanya mengandung jawamiul kalim (ungkapan yang ringkas tapi sarat makna). Contohnya:

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hasyr: 10)

 

اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ – أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ –

 

“Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963)

 

Dari sini jelas bagi kita bagaimana cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan orang mati. Orang yang mengikuti cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sementara dia mampu melakukannya lalu berpindah kepada pilihan lain, maka hal ini tercela. Allah menjelaskan hal ini dalam firmanNya:

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

 

  1. APAKAH BACAAN AL-FATIHAH PAHALANYA SAMPAI KE MAYAT?

 

Dalam sms SimPATI di atas tidak disebutkan apakah doanya dalam bentuk Al-Fatihah atau doa memakai lafazh buatan sendiri? Misalkan saja memakai doa Al-Fatihah, apakah pahalanya sampai kepada mayat? Jawabannya, menurut jumhur ulama tidak sampai. Yang terdepan dalam hal ini adalah Imam Asy-Syafi’i dan Imam Nawawi Rahimahumallah.

 

Imam an-Nawawi (w. 676 H) —pembela madzhab Syafi’iyah setelah Al-Baihaqi— menjelaskan hadits Muslim di atas dengan mengatakan:

 

وَفِيهِ أَنَّ الدُّعَاء يَصِل ثَوَابه إِلَى الْمَيِّت , وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة .وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لا تَلْحَق الْمَيِّت

 

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa doa akan sampai pahalanya kepada mayit, demikian pula sedekah… sedangkan bacaan Al-Quran, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, atau shalat atas nama mayit, atau amal ibadah lainnya, menurut madzhab Imam as-Syafii dan mayoritas ulama, amalan ini tidak akan sampai kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 11/85)

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى»

 

“Dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan (pahala atau dosa) melainkan apa yang pernah dia usahakan sendiri.” (QS. An-Najm [53]: 39)

 

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan ayat ini:

 

كَمَا لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لَا يُحَصِّلُ مِنَ الْأَجْرِ إلاَّ مَا كَسَبَ هُوَ لِنَفْسِه. وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ

 

“Sebagaimana seseorang tidak bisa memikul dosa orang lain, begitu juga seseorang tidak akan memperoleh pahala keculai pahala yang dia usahakan untuk dirinya sendiri. Dari ayat yang mulai ini, Imam asy-Syafi’i dan orang-orang yang mengikuti beliau beristimbat (menyimpulkan hukum) bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayat karena itu bukan dari amal dan usahanya sendiri.

 

وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ

 

Oleh sebab itu, Rasulullah tidak pernah menganjurkan kepada shahabatnya untuk melakukannya, tidak pula membimbing mereka dengan dalil tidak pula isyarat untuk mengamalkannya. Dan lagi, hal ini tidak pernah dinukil dari seorang pun dari para shahabat. Jika sekiranya perbuatan itui baik, niscaya mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya.

 

وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ، وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا، وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا

 

Masalah pendekatan diri kepada Allah terbatas hanya dengan nash-nash dan masalah ini tidak bisa dikreasikan atau dipalingkan dengan berbagai qiyas dan pendapat. Adapun do’a dan sedekah, maka telah menjadi ijma’ (kesepakatan ‘ulama) akan sampainya (pahala) keduanya dan telah ada nash syar’inya dari Pembuat Syariat (Allah) Ta’ala.”
(Tafsîr Ibni Katsîr VII/465)

 

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ayat ini berhukum umum dan mutlak tanpa ada pengecualian bahwa manusia tidak akan memperoleh/menanggung dari orang lain.

 

Memang di sana ada hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan ada 3 amal yang zhahirnya dikerjakan orang lain tetapi dia mendapat jatah pahalanya sepeninggalnya, yakni hadits berbunyi:

 

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

 

Apabila manusia meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: [1] sedekah jariyah (mengalir), [2] ilmu yang diambil manfaatnya, dan [3] anak shalih yang mendoakannya.’”
(HR. Muslim no. 1631)

 

Jawabannya, ketiga hal ini pada hakikatnya adalah hasil usaha dan amalnya sendiri. Perinciannya sebagai berikut.

 

  1. Sedekah jariyah adalah hasil usahanya sendiri, karena hal itu merupakan atsar (bekas/jejak/peninggalan) orang tersebut sebelum meninggal. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

«إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُم»

 

“Sesungguhnya Kami akan menghidupkan orang mati dan menulis apa yang dahulu mereka perbuat dan atsar-atsar mereka.
(QS. Yasin [36]: 12)

 

  1. Ilmu yang diambil manfaatnya oleh orang lain sepeninggalnya adalah hasil amalnya sendiri. Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

 

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»

 

Barangsiapa menunjukkan kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”
(HR. Muslim no. 2674)

 

  1. Anak shalih beserta doanya adalah hasil usahanya sendiri. Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

 

«إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ»

 

Sesungguhnya makanan yang paling baik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya anak adalah hasil dari usahanya sendiri.”
(Shahih: HR. Abu Dawud no. 3528 dan At-Tirmidzi no. 1358)

 

Untuk itu, semua amal ketaatan anak shalih, orang tua dapat jatah pahalanya meskipun tidak diniatkan oleh si anak. Namun, anak tidak boleh mengerjakan ibadah-ibadah yang dibebankan kepada orang tua, karena masuk ke dalam keumuman ayat An-Najm 39 di atas, kecuali tiga saja: sedekah, puasa nazhar, dan haji karena ada hadits shahih yang mengecualikannya.

 

Hadits Muslim di atas juga digunakan untuk menjelaskan hadits-hadits lain tentang amal-amal lain yang setema dengan ini. Imam As-Suyuthi (w. 911 H) mengumpulkan semua hadits tentang masalah ini beserta hadits Muslim di atas dan menyimpulkan ada 13 amal yang mengalir setelah kematiannya karena pada hakekatnya merupakan atsar (jejak) peninggalannya, yaitu:

 

  1. Sedekah jariyah
  2. Ilmu yang dimanfaatkan orang lain
  3. Doa anak shalih untuknya
  4. Ribath (berjaga di perbatasan saat jihad)
  5. Menghidupkan sunnah.
  6. Pelestarian tradisi yang baik oleh generasi berikutnya
  7. Waqaf mushaf Al-Qur`an
  8. Membangun masjid
  9. Membangun rumah singgah untuk ibnu sabil
  10. Mengalirkan sungai
  11. Membuat sumur
  12. Menanam pohon kurma (atau pohon lain yang hasilnya dapat dinikmati manusia/binatang)
  13. Doa ampunan dari peziarah kubur kepada ahli kubur.

 

  1. APA HIKMAHNYA?

 

Seandainya seseorang boleh menghadiahkan pahala kepada orang lain, tentu orang yang kaya akan membayar manusia untuk menghadiahkan pahala mereka kepadanya. Jadilah mereka pemalas dan semakin rakus mencari dunia. Akhirnya jadilah agama ini agama jual-beli. Yang kaya menang dan yang miskin bangkrut sekaligus miskin amal. Allah melarang manusia yang tahu hukum dari Al-Qur’an atau As-Sunnah lalu dia sembunyikan agar memperoleh harta dan dunia:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.
(QS. Al-Baqarah [2]: 174)

 

Allah juga melarang menjadikan agama sebagai objek permainan dan senda gurau yang biasanya dilakukan untuk tujuan duniawi:

 

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

 

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
(QS. Al-A’raf [7]: 51)

 

  1. NIAT BAIK HARUS DIBARENGI CARA YANG BAIK

 

“Doa kirimannya bukan berupa Al-Fatihah, tetapi lafazh seperti: Ya Allah ampunilah fulan bin fulan dan rahmatillah ia, apakah tetap tidak boleh?”

 

Doa di atas baik dan benar, dan itulah doa yang dianjurkan. Hanya saja, perbuatan dan niat yang baik harus dibarengi dengan cara yang baik. Contoh mudahnya, kita semua tahu bahwa wortel sangat baik bagi kesehatan mata, tetapi jika cara memasukkannya ke tubuh salah maka akibatnya jadi tidak baik, yaitu dimasukkan lewat mata langsung, bukan lewat mulut.

 

Untuk lebih memahami bahwa perbuatan dan niat yang baik harus dengan cara yang baik —dan tidak ada cara terbaik kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam—, maka perhatikanlah 2 kisah berikut ini:

 

Kisah Pertama:

 

Dikisahkan bahwa ada seorang shahabat yang bernama Abu Bardah Radhiyallahu ‘Anhu menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ‘Id. Beliau beranggapan bahwa dengan menyembelih kambingnya lebih dini, dagingnya bisa langsung dimasak oleh keluarganya dan saat usai shalat ‘Id bisa langsung dibagikan agar bisa dinikmati. Sebab, daging kurban kaum muslimin disembelih setelah shalat ‘Id dan baru bisa dinikmati dagingnya menjelang Dhuhur, dan ini adalah masa yang lama.

 

Dari sini, kita mengetahui bahwa Abu Bardah Radhiyallahu ‘Anhu melakukan semua ini tentu dengan niat yang baik dan semangat berislam yang tinggi.

 

Ketika kabar ini sampai ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

«شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ»

“Kambingmu adalah kambing daging biasa.”
(HR. Al-Bukhari no. 5556 dan Muslim no. 1961)

 

Maksudnya, kambingmu bukan kambing kurban karena tata caranya tidak sesuai dengan Sunnah, karena Sunnahnya adalah sembelihan kurban dilaksanakan setelah shalat ‘Id. Adapun menyembelih sebelum shalat ‘Id yang bukan pada waktunya, maka tidak dianggap sebagai kurban.

 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

«مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ»

 

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat (‘Id), hendaklah menyembelih lagi di tempatnya. Barangsiapa yang belum menyembelih, maka menyembelihlah dengan menyebut nama Allah.”
(HR. Al-Bukhari no. 985 dan Muslim no. 1960)

 

Kisah Kedua:

 

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkisah:

 

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا. فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى»

 

“Tiga orang datang ke kediaman istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menanyakan ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat diberitahu, seolah-olah mereka mengganggap ibadah beliau sedikit. Lalu mereka berkata, ‘Di mana kita dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.’ Maka orang pertama berkata, ‘Adapun aku akan shalat malam terus.’ Yang lain berkata, ‘Aku akan puasa terus dan tidak pernah absen.’ Yang lain berkata, ‘Aku menjauhi wanita dan tidak akan menikah.’ Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi mereka seraya berkata, ‘Kaliankah yang mengatakan demikian dan demikian. Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku puasa dan juga berbuka (tidak berpuasa), shalat malam dan juga tidur, dan menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah-Ku, maka dia bukan termasuk golonganku.’” (HR. Al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401)

 

Tiga orang ini memiliki semangat yang tinggi dalam berislam. Di antara buktinya, di antara mereka ada yang selalu berpuasa sunnah dan tidak pernah absen. Yang lain selalu shalat malam dan tidak tidur. Yang lain tidak menikah agar bisa fokus ibadah.

 

Mereka melakukan ibadah-ibadah itu atas persangkaan dan niat yang baik berdasarkan ucapan mereka, ‘Di mana kita dibanding Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Sungguh dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.’ Mereka beranggapan, meskipun ibadah Nabi biasa-biasa saja, hal itu sesuatu yang wajar karena beliau manusia terbaik sekaligus seorang Rasul serta dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni. Sementara kita, tidak ada jaminan diampuni dan kita tidak tahu apakah kita akan masuk surga atau neraka. Maka, kita harus giat dalam beribadah.

 

Namun, ketika kabar ini sampai ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau tidak menyukainya.

Dari dua kisah ini kita mengetahui bahwa beramal dan beribadah dengan niat yang baik dan semangat yang tinggi saja dalam Islam, tidaklah cukup. Namun, ia harus ditambah dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

 

قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بِنْ أَبِي جَمْرَةَ: وَفِيْهِ أَنَّ الْعَمَلَ وَإِنْ وَافَقَ نِيَّةً حَسَنَةً لَمْ يَصِحَّ إِلاَّ إِذاَ وَقَعَ عَلَى وَفْقِ الشَّرْعِ

“Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah berkata, ‘Dalam hadits ini terpahami bahwa amal tidak sah meskipun dengan niat yang baik kecuali jika dikerjakan sesuai syari’at.” (Fathul Baari (X/17) oleh Ibnu Hajar)

 

  1. APAKAH PATOKAN KEBENARAN BANYAKNYA PELAKU TRADISI?

 

“Akan tetapi, tradisi ‘kirim doa’ sudah turun-temurun dan dilakukan oleh banyak orang, bagaimana tanggapan Anda?”

 

 ‘sudah menjadi tradisi’ dan ‘dilakukan banyak orang’ bukanlah cara mengukur kebenaran. Sebab, ukuran kebenaran adalah Al-Qur’an, hadits, dan ucapan ulama salaf dalam menjelaskannya. Orang-orang Quraiys menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan alasan dakwah beliau bertentangan dengan tradisi terdahulu dan tradisi banyak orang. Andai hal ini dibenarkan, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan berhenti berdakwah. Allah berfirman:

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)

 

Begitu pula, mengukur kebenaran dengan ‘banyaknya pelaku tradisi’ tidak dibenarkan Allah. Allah berfirman:

 

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al-An’am [6]: 116)

 

Mohon tidak salah paham, bukan maksud saya mengklaim ‘kebanyakan orang sesat’, tetapi saya hanya menjelaskan bahwa mengukur kebenaran itu bukan dengan hal ini tetapi dengan nash/dalil.

 

“Pokoknya saya tetap mengikuti ustadz saya. Berapapun dalil yang Anda berikan, tidak akan berefek bagi saya?”

 

Anda cinta Allah? Jika Anda jujur cinta Allah, maka ikutilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saat kita mengikuti seorang ustadz, hakikatnya kita mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disampaikan ustadz tersebut, bukan mengikuti individunya. Jika ternyata menyelisihi dalil, maka wajib diitinggal.

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran [3]: 31)

 

Saya ingatkan Anda tentang suatu hari dimana Anda akan sendirian mempertanggungjawabkan agama sendiri-sendiri. Saat itu, jangankan ustadz, orang-orang yang kita cintai pun akan lari dari kira. Bahkan kita sendiri akan tega menggunakan mereka sebagai tebusan agar bisa selamat dari huru-hara di sana (QS. Al-Ma’arij [70]: 11-14). Renungkan ayat ini:

 

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ * وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (QS. Al-Baqarah [2]: 166-167)

 

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا * رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al-Ahzab [33]: 66-68)

 

Mohon jangan salah paham, maksud saya di sini tidak lain hanya ingin menjelaskan bahwa nanti akan ada (dan PASTI ada) orang-orang yang menyesal karena dulu lebih mendahulukan “kefanatikannya” kepada seorang tokoh, padahal dia tahu pendapat tokoh itu menyelisihi dalil.

 

  1. EFEK SAMPING

 

Efek samping Doa SMS adalah:

  1. Menjadikan manusia meremehkan belajar agama dan condong belajar ilmu dunia. Mereka beranggapan, yang penting kaya maka bisa boking doa tiap hari bahkan tiap jam selama setahun, misalnya.
  2. Akan banyak orang tua yang tidak memperhatikan agama anaknya. Mereka beranggapan, yang penting anak sukses, agama nomor dua.
  3. Agama dijadikan ajang meraup dunia. Andai tiap hari yang kirim doa sms sebanyak 10.000 orang, maka omset Telkomsel Rp 1,65 milyar/bulan. Bukankah ini fitnah bagi penggagasnya?

 

  1. KESIMPULAN

 

Mendoakan orang mati adalah disyariatkan agamanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa mendoakan orang yang telah mati dan telah mencontohkannya. Siapa yang mencukupkan diri dengan ajaran beliau, maka itulah yang aslam (lebih selamat), ahkam (lebih bijak), dan ahda (lebih berpetunjuk). Allahu a’lam.

 

Saya tidak meyakini terbebas dari kesalahan. Saya sangat senang jika Pembaca mau mengkoreksi dan menunjukkan kesalahan saya.

*Penulis adalah santri dan warga asli Jepara.


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id