Kebatilan Argumen Berpegang kepada Pendahulu yang Sesat

Termasuk kesalahan dalam beragama adalah berdalil kebenaran dengan banyaknya pengikut, banyaknya orang yang melakukan suatu ritual, dan juga menganggap kebenaran adalah setiap apa yang dilakukan oleh pendahulu, padahal hal itu menyelisihi dalil. Inilah kasus orang-orang kafir Quraisy yang menentang Rasulullah dan menganggap beliau sesat karena menyelisihi kebiasaan para pendahulu. Allah berfirman:

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh!’ Maka, mereka akan menjawab, ‘Tidak, kami hanya akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari pendahulu-pendahulu kami.’ Apakah (mereka akan tetap mengikutinya) meskipun pendahulu-pendahulu mereka tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk?”[1]

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh!’ Maka, mereka akan menjawab, ‘Tidak, kami hanya akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari pendahulu-pendahulu kami.’ Apakah (mereka akan tetap mengikutinya) meskipun setan mengajak mereka kepada adzab yang menyala-nyala?”[2]

Dalam suroh ash-Shoffaat, Alloh mengisahkan tentang para penduduk Neraka Jahannam yang disuguhkan kepada mereka makanan buah zaqqum. Itu adalah akibat dari ketergesaan mereka mengikuti kebatilan pendahulu mereka. Alloh berfirman,

“Apakah hidangan Surga yang lebih baik ataukah buah zaqqum? Kami telah menjadikan buah zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang dzolim. Sesungguhnya zaqqum itu adalah sebuah pohon yang berada di dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Sesungguhnya, mereka benar-benar akan memakannya lalu mereka akan memenuhi perutnya dengan buah zaqqum. Kemudian setelah itu, mereka akan disuguhkan minuman dari air yang mendidih. Kemudian, tempat kediaman mereka benar-benar di Neraka Jahim. Sesungguhnya mereka menjumpai pendahulu-pendahulu mereka sesat. Kemudian, mereka tergesa-gesa mengikutinya.”[3]

Allahu a’lam[]

Surabaya, Agustus 2016

Nor Kandir

[1] QS. Al-Baqoroh [2]: 170.

[2] QS. Luqman [31]: 21.

[3] QS. Ash-Shoffaat [37]: 62-70.

 


 

Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id