Jangan Ragu Menjadi Ahli Hadits

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Ilmu Hadits 0 Comments

Hidup hanya sekali maka hiduplah yang berarti. Apapun kesibukan seseorang, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi ahli hadits. Meskipun dia kuliah di perguruan tinggi umum atau teknik karena desakan orang tuanya, meskipun dia sibuk bisnis karena tuntutan hutang dan keluarga, meskipun dia orang miskin yang melarat tidak memiliki bekal, meskipun dia cacat tidak bisa bergerak bebas. Sebab ilmu adalah hibah dari Allah dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah-lah pemilik karunia yang agung.

Jika ada seseorang yang memiliki keinginan kuat belajar ilmu syar’i sementara orang tua dan biaya mendukung, maka jangan sia-siakan umurnya untuk mempelajari dunia dan meninggalkan ilmu syar’i, tetapi pilihlah dunia ilmu syar’i. Sebab, di sana banyak saudara kita yang kuat keinginannya untuk mendalami agama tetapi situasi, kondisi, lingkungan, orang tua, atau keluarga menghalangi-halangi dan menghambat mereka.

Ingatlah apa yang telah Allah persiapkan untuk para ahli hadits agar hati kita tentram dan tidak goyah karena hembusan bisikan setan.

Dari Jarir, dia berkata, “Aku melihat al-A’masy dalam mimpi setelah kematiannya, maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad, bagaimana keadaan kalian?’ Dia menjawab, ‘Kami selamat berkat ampunan Allah. Alhamdulillahi rabbil ‘âlamîn.’

Yunus bin Muhammad al-Mu’addib berkata, “Hammad bin Salamah meninggal saat shalat di masjid.”

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak membuka kedua matanya ketika hendak meninggal lalu tertawa seraya membaca:

 “Untuk yang seperti ini hendaklah orang-orang mengupayakannya.”

Dari al-Hasan bin Imran bin Uyainah bin Abu Imran putra saudara Sufyan bin Uyainah, dia bercerita, “Aku berhaji bersama pamanku Sufyan bin Uyainah pada akhir haji yang dilakukannya pada 197 H. Ketika kami berada di Jam’ (Muzdalifah), dan dia telah selesai shalat, maka dia tidur di atas tidurnya. Kemudian dia berkata, “Aku telah menempati tempat ini selama 70 tahun, dan aku berdoa setiap tahun, ‘Ya Allah janganlah Engkau jadikan akhir masaku di tempat ini,’ tetapi hari ini aku malu kepada Allah karena sedemikian banyaknya aku memohon itu kepada-Nya.’ Kemudian dia pulang lalu meninggal di tahun itu pada hari Sabtu, awal Rajab tahun 198 H dan dimakamkan di al-Hajun.

Ali al-Madini berkata:

رَأَيْتُ خَالِدَ بنَ الحَارِثِ فِي النَّومِ، فَقُلْتُ: مَا فَعَلَ اللّٰهُ بِكَ؟ قَالَ: غَفَرَ لِي، عَلَى أَنَّ الأَمْرَ شَدِيْدٌ. قُلْتُ: فَمَا فَعلَ يَحْيَى القَطَّانُ؟ قَالَ: نَرَاهُ كَمَا يُرَى الكَوْكَبُ الدُّرِّيُّ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ

“Aku bermimpi bertemu dengan Khalid bin al-Harits, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah diperbuat Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku, tetapi perkaranya sangat berat.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa yang dilakukan Yahya al-Qaththan?’ Dia menjawab, ‘Kami melihatnya sebagaimana bintang yang bersinar dilihat di langit.’”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku bermimpi bahwa Adam meninggal lalu jenazahnya diusung oleh orang-orang. Pada pagi harinya aku tanyakan kepada ahli ilmu mengenai mimpi itu, lalu dia menjawab, ‘Ini adalah kematian orang paling berilmu dari penduduk bumi, karena Allah telah mengajari Adam semua nama (ilmu).’ Tidak lama kemudian Imam asy-Syafi’i meninggal, semoga Allah merahmatinya.”

Dari Abu Rafi’, anak dari putri Yazid bin Harun, dia berkata, “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal, dan saat itu di sisinya ada dua orang –aku mengiranya mengatakan, ada dua orang syaikh–. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, aku melihat Yazid bin Harun dalam mimpi, lalu aku katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Khalid, apa yang telah diperbuat Allah padamu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuniku dan memberi syafaat kepadaku, tetapi Dia mencelaku.’ Aku berkata, ‘Aku mengetahui Allah mengampunimu dan memberi syafaat kepadamu, tetapi karena apa Dia mencelamu?’ Dia menjawab, ‘Allah berkata kepadaku, ‘Wahai Yazid, apakah kamu menceritakan hadits dari Jarir bin Utsman?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rabb-ku, aku tidak mengenalnya kecuali kebaikan.’ Dia berkata, ‘Wahai Yazid, sungguh dia membenci al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.’

Abu Rafi’ melanjutkan, “Sementara orang kedua bercerita, ‘Adapun aku pernah melihat Yazid bin Harun dalam mimpi lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apakah Mungkar dan Nakir telah mendatangimu?’ Dia menjawab, ‘Ya, demi Allah. Keduanya bertanya kepadaku, ‘Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu?’ Lalu aku katakan, ‘Apakah orang sepertiku pantas diberi pertanyaan seperti ini, padahal aku mengajarkan manusia tentang hal ini sewaktu di dunia???’ Keduanya mengatakan kepadaku, ‘Kamu benar, maka tidurlah sebagaimana pengantin baru.’”

Muhammad bin Yusuf al-Bukhari berkata, “Aku dan sahabatku menunaikan haji bersama Yahya bin Ma’in. Kami memasuki Madinah pada hari Jum’at, dan dia meninggal pada malam itu. Ketika kami berada di pagi hari, orang-orang mendengar kedatangan Yahya dan kematiannya, lalu mereka berkumpul dan datang pula Bani Hasyim seraya berkata, ‘Kami akan mengeluarkan papan-papan yang dahulu digunakan untuk memandikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Namun, kebanyakan orang tidak menyukai dan tidak setuju. Bani Hasyim berkata, ‘Kami lebih berhak dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kalian, dan dia pantas dimandikan di atasnya.’ Papan-papan pun dikeluarkan dan dia dimandikan di atasnya, serta dimakamkan pada hari Jum’at bulan Dzulqa’dah 233 H.”

Ja’far bin Muhammad bin Kazal berkata, “Ketika dia dinaikkan di atas papan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seorang lelaki berseru, ‘Inilah orang yang memberantas kedustaan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Jumlah kaum pelayat yang mengiringi jenazah Imam Ahmad bin Hanbal melimpah ruah yang belum pernah ada sebelumnya di masa jahiliyyah. Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Kami belum pernah mendengar bahwa ada orang banyak berkumpul di masa jahiliyyah dan Islam seperti pada saat pemakaman Imam Ahmad. Kami mendapat kabar bahwa yang hadir di tempat itu dihitung secara shahih, ternyata jumlahnya sekitar satu juta, dan kami menghitung di pemakaman ada sekitar 60.000 wanita.”

Abu Nashr bin Makula berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku bertanya tentang keadaan ad-Daruquthni di akhirat, maka aku diberi jawaban, ‘Dia dipanggil Imam di surga.’”

Al-Hasan bin Asy’ats al-Qurasyi berkata, “Aku melihat al-Hakim dalam mimpi sedang menunggang kuda dalam kondisi yang indah dan dia berkata, ‘Selamat.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, karena apa?’ Dia menjawab, ‘Karena menulis hadits.’”

Ahmad bin Yunus al-Maqdisi al-Amin berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku berada di Masjid ad-Dair dan di dalamnya terdapat beberapa orang laki-laki yang berpakaian putih-putih yang menurut dugaanku mereka adalah para malaikat. Lalu masuklah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, lalu mereka semua berseru, ‘Kami menjadikan Allah sebagai saksi bahwa engkau termasuk golongan kanan!’ dua atau tiga kali.”

Sebagian murid Ibnul Qayyim menceritakan bahwa sebelum meninggal, Ibnul Qayyim bermimpi melihat gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan bertanya kepadanya tentang kedudukannya. Syaikhul Islam mengatakan bahwa kedudukannya melebihi kedudukan para tokoh lalu berkata, “Kamu sebentar lagi akan menyusul kami, dan kamu berada pada tingkatan Ibnu Khuzaimah.”

Diriwayatkan bahwa saat sakit yang mengantarkan kematian Abu Zur’ah ar-Razi, para ahli hadits berdatangan untuk menjenguknya. Hadir pula pada waktu itu Abu Hatim ar-Razi. Mereka memandang bahwa Abu Zur’ah sedang sekarat, sehingga mereka ingin mengikuti sunnah dengan mentalqinnya. Salah seorang dari mereka membaca sanadnya tetapi terputus, lalu digantikan yang lain dengan sanadnya tetapi juga terputus. Yang lain memilih diam, karena kewibawaan Abu Zur’ah sebagai syaikh besar. Akhirnya, berkatalah Abu Hatim ar-Razi, ‘Telah menceritakan kepadaku fulan, dari fulan, dari fulan…’ tetapi terhenti karena lupa. Tiba-tiba terdengar suara parau, ‘Telah mengabarkan kepadaku fulan, dari fulan, dari fulan, dari Muadz bin Jabal bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah lâ ilaha illallâh, maka dia akan masuk surga.” Seketika itu Abu Zur’ah wafat.

Semoga Allah merahmati mereka semua dan membalas jasa-jasa mereka dalam menjaga agama.[]

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad? hal. 134-140 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*