Gaya Belajar Sahabat

Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan hadits, mereka pasang hati, pendengaran, dan perhatian. Apapun yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka percaya dan terima, tanpa menolak sedikitpun apalangi mempertentangkan dengan ucapan selain beliau. Di antara pembesar mereka adalah Abu Bakar yang digelari Ash-Shiddiq. Apa artinya As-Shiddiq? As-Siddiq artinya membenarkan dan mempercayai semua yang dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi Muhammad dalam hadits. Oleh karena itu, setiap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan sesuatu pasti Abu Bakar percaya, meskipun tidak bisa dicerna oleh akal. Contohnya adalah sebagai berikut:

 

Yups, mari kita mendengar kisah yang diceritakan oleh ‘Aisyah istri Nabi Radhiyallahu ‘Anhu, “Rasulullah diperjalankan Allah dengan Buroq (binatang sejenis kuda bersayap) dari Makkah menuju Baitul Maqdis di Syam (Palestina) lalu dinaikkan ke langit lalu pulang di malam itu menuju Makkah. Ketika pagi hari, beliau berada di tengah-tengah kaumnya dan menceritakan itu kepada mereka. Sekelompok orang Quraisy berkumpul mengelilingi beliau lalu mereka merasa memiliki kesempatan untuk mendustakan beliau. Sebagian mereka pergi menemui Abu Bakar lalu berkata, ‘Apa kamu tahu tentang kabar temanmu? Dia mengaku diperjalankan semalam menuju Baitul Maqdis di Syam lalu pagi harinya sudah ada di tengah-tengah kita!’ Abu Bakar menjawab, ‘Apa benar beliau mengatakannya?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Abu Bakar berkata, ‘Dia jujur.’ Mereka menyanggah, ‘Yakinkah kamu membenarkan bahwa dia pergi ke Masjidil Aqsha dan pulang dalam satu malam?’ Aku Bakar menjawab, ‘Ya. Aku membenarkannya akan kabar langit yang datang kepadanya baik pagi maupun siang.’ Oleh karena itu, Abu Bakar dijuluki ash-Shiddiq (artinya yang jujur atau membenarkan).” (Hadits shohih riwayat Al-Hakim no. 4407)

 

Makkah Palestina berjarak sekitar 1.500 KM atau 2 kali jarak Surabaya-Jakarta. Di zaman beliau waktu tempuh kafilah dagang Makkah ke Syam (Palestina) sebulan, jika pulang pergi maka 2 bulan. Menurut akal Qurays Makkah, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mustahil menempuhnya dalam satu malam saja alias Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bohong. Tapi bagi Abu Bakar, berbeda. Karena yang bicara adalah Nabi, maka iman Abu Bakar mempercayainya.

 

Orang yang memiliki sifat As-Siddiq ini Allah puji sebagai orang bertakwa, padahal orang yang bertaqwa saja yang paling mulia di sisi Allah, bukan orang kaya atau orang tampan. Allah berfirman:

 

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

 

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar [39]: 33)

 

Sahabat Nabi juga memiliki gaya khas seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu suka bilang Allahu a’lam, jika ditanya atas perkara agama yang tidak diketahuinya. ‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata:

 

لَقَدْ أَدْرَكْتُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنَ الْأَنْصَارِ، وَمَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ يُحَدِّثُ بِحَدِيثٍ إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْحَدِيثَ، وَلَا يُسْأَلُ عَنْ فُتْيَا إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْفُتْيَا

 

“Sungguh aku menjumpai di masjid ini 120 Sahabat Anshar dan tidak seorang pun dari mereka yang menceritakan sebuah hadits melainkan sangat ingin jika saudaranya saja yang menyampaikannya, dan tidaklah ditanya untuk berfatwa melainkan sangat ingin agar saudaranya saja yang berfatwa.”
(HR. Ad-Darimi no. 137, I/248 dalam Sunannya dan Ibnul Mubarak no. 58 dalam az-Zuhd. Dinilai shahih oleh Husain Salim Asad)

 

‘Uqbah bin Muslim berkata, “Aku menemani Ibnu ‘Umar selama 34 bulan lebih. Setiap kali ditanya menjawab aku tidak tahu, lalu menoleh kepadaku berkata:

 

تَدْرِي مَا يُرِيدُ هَؤُلَاءِ؟ يُرِيدُونَ أَنْ يَجْعَلُوا ظُهُورَنَا جِسْرًا لَهُمْ إِلَى جَهَنَّمَ

 

“Apakah kamu tahu apa yang diinginkan mereka? Mereka ingin menjadikan punggung-punggung kita sebagai jembatan mereka menuju Jahannam.”
(Al-Jâmi’ II/841 oleh Ibnu Abdil Barr)

 

Maa syaa Allah, begitu ternyata cara mereka belajar dan memahami agama. Pantas saja mereka dapat jaminan Surga dari Allah, QS. At-Taubah [9]: 100.

 

Kesimpulannya, gaya belajar Sahabat adalah mempercayai semua kabar dari Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meskipun akal tidak menerimanya. Mereka juga tidak segan bilang Allahu a’lam.

 


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *