Gaya Belajar Imam Syafi’i

 

Secara umum, imam Syafii seperti ini belajarnya: belajar Al-Qur’an semenjak kecil hingga khatam 30 juz di usia 7 tahun. Usai itu, belajar hadits dan menghafalnya. Usai itu, memperdalam sastra bahasa Arab dan balaghohnya untuk mempermudah dalam memahami teks Al-Qur’an dan hadits. Setelah itu mempelajari fiqih hingga menjadi ahli fiqih di masanya.

 

Semua yang dia tahu dan hafal dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih diambil semua dan dijadikan sebagai madzhab beliau. Beliau meletakkan semua ucapan di bawah dan hadits di atas kepala. Tidak pernah Asy-Syafii mengedepankan akal daripada ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dari Ar-Rabi bin Sulaiman bahwa Imam Syafii menyampaikan hadits pada suatu hari lalu ada seorang lelaki yang bertanya, “Apakah Anda jadikan hadits tadi sebagai pendapat, wahai Abu Abdillah (Asy-Syafii)?” Jawab Asy-Syafii:

 

مَتى ما رَوَيتُ عَن رَسُولِ اللهِ- صلى الله عليه وعلى آله وسلم- حَديثا صحيحا؛ فَلم آخذْ بهِ؛ فأشهْدكُم أَن عَقلي قَدْ ذهَب

 

“Kapan aku meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebuah hadits shahih lantas aku tidak mengambilnya??? (Jika tidak demikian) aku saksikan kepada kalian bahwa akalku telah hilang.” (Al-Ibanah oleh Ibnu Baththah)

 

Maknanya, jika telah jelas hadits shohih lalu aku tidak berpendapat dengannya, itu artinya aku orang gila. Allahu a’lam.[]

 


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id