Definisi Huffazh Para Penghafal Hadits dan Jumlah Hafalan Disebut Hafizh

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Ilmu Hadits 0 Comments

Al-Huffâzh (الحُفَّاظُ) adalah bentuk jama’ dari al-hâfizh (الحَافِظُ) artinya yang menjaga atau menghafal. Yang dimaksud huffazh di sini ahli hadits yang memiliki hafalan hadits sangat banyak sekali. Para ulama berselisih tentang berapa jumlah minimun sehingga seseorang dikatakan al-hafizh. Di antara mereka ada yang berpendapat 20.000 hadits, 100.000 hadits, dan ada pula 300.000 hadits, bahkan ada yang lebih banyak dari itu.

Dari Abu Zur’ah ar-Razi bahwa dia mendengar Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah berkata:

مَنْ لَمْ يَكُتُبْ عِشْرِيْنَ أَلْفِ حَدِيْثٍ إِمْلاَءً، لَمْ يُعَدْ صَاحِبَ حَدِيْثٍ

“Barangsiapa yang belum menulis 20.000 hadits secara imla`, maka dia belum pantas disebut ahli hadits.”[1]

Ada seorang dari Kufah yang datang ke Imam Ahmad sambil membawa tas berisi kitab. Dia berkata kepada Imam Ahmad, “Sampai kapan seseorang menuntut ilmu? Apabila seseorang telah menghafal 30.000 hadits apakah sudah cukup?” Imam Ahmad diam, lalu dia berkata lagi, “Kalau 60.000 hadits?” Imam Ahmad diam. Dia bertanya lagi, “Kalau 100.000 hadits?” Imam Ahmad berkata, “Apabila seseorang telah menulis 100.000 hadits, ketika itu dia baru mengetahui sedikit dari ilmu.”[2]

Ahmad bin al-Abbas al-Nasa`i berkata:

سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ عَنِ الرَّجُلِ يَكُوْنُ مَعَهُ مِائَةُ أَلْفِ حَدِيْثٍ، يُقَالُ إِنَّهُ صَاحِبَ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ لَهُ: عِنْدَهُ مِائَتَا أَلْفِ حَدِيْثٍ، يُقَالُ: إِنَّهُ صَاحِبَ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ لَهُ: ثَلاَثُمِائَةِ أَلْفِ حَدِيْثٍ؟ فَقَالَ بِيَدِهِ: كَذَا

“Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang seseorang yang hafal 100.000 hadits, apakah dia bisa disebut ahli hadits?” Dia menjawab, “Tidak.” Aku berkata, “Kalau hafal 200.000 hadits, bisakah disebut ahli hadits?” Dia menjawab, “Tidak.” Aku berkata kepadanya, “Kalau 300.000 hadits?” Dia menjawab dengan isyarat tangannya, ‘Ya, segitu.’”[3]

Namun, hafalan sebanyak itu belum cukup untuk berfatwa kecuali hafal setengah juta hadits. Ini pendapat Yahya bin Ma’in.

Diriwayatkan dari kakek Ismail bin Muhammad bin al-Fadhl bahwa Yahya bin Ma’in ditanya:

أَيُفْتِي الرَّجُلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لا. قُلْتُ: وَمِنْ مِائَتَي أَلْفٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ: ثَلاَثُمِائَةٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ: خَمْسُمِائَةِ أَلْفٍ؟ قَالَ: أَرْجُوْ

“Apakah seseorang yang telah hafal 100.000 hadits boleh berfatwa?” Dia menjawab, “Tidak boleh.” Aku bertanya, “Kalau 200.000 hadits?” Dia menjawab, “Tidak boleh.” Aku berkata, “Kalau 500.000 hadits?” Dia menjawab, “Aku berharap boleh.”[4]

Saat membawakan riwayat ini al-Khathib al-Baghdadi berkata, “Belumlah mencukupi seseorang yang berfatwa sekedar apa yang disebutkan Yahya tanpa memiliki ma’rifat, analisa, dan kemutqinan, karena ilmu adalah pemahaman dan dirayah bukan (sekedar) memperbanyak dan memperluas riwayat.”[5]

Sebagai perbandingan, kitab Shahîh al-Bukhârî berisi lebih 7.500 hadits, Shahîh Muslim berisi sekitar 12.000 hadits, al-Jâmi` at-Tirmidzî sekitar 4.000 hadits, Sunan Abû Dâwûd sekitar 5.000 hadits, Sunan an-Nasâ`i berisi lebih 5.750 hadits, Sunan Ibnu Mâjah berisi lebih 4.300 hadits. Maka, seseorang yang hafal semua hadits di kutubus sittah baru mencapai sekitar 38.550 hadits. Jumlah sebesar ini belum mencukupi untuk disebut ahli hadits, menurut sebagian ahli hadits yang mu’tabar sebagaimana nukilan di atas.

Musykilah: Mana yang benar istilah al-hafizh untuk yang hafal hadits atau untuk yang hafal al-Qur`an atau boleh untuk kedua-duanya?

Yang dikenal pada zaman dulu bahwa istilah al-hafizh digunakan untuk para ahli hadits yang hafal ratusan ribu hadits. Pemakaian istilah ini masyhur digunakan seperti al-Hafizh Ibnul Jauzi, al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh as-Suyuthi, dan lain-lain. Al-Hafizh Ibnul Jauzi memiliki kitab berisi biografi para ahli hadits terkemuka diberi judul Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil Ilmi wa Dzikru Kibâril Huffâzh (Motivasi Menghafal Ilmu dan Biografi Para Huffazh Terkemuka). Adapun penghafal al-Qur`an menggunakan gelar al-Hâmil. Imam an-Nawawi memiliki kitab tentang adab-adab para penghafal al-Qur`an dan diberi judul at-Tibyân fî Adabi Hamalatil Qur`ân. Hamalah (الحَمَلَةُ) jama’ dari hâmil (الحَامِلُ).

Kemudian, istilah al-hafizh mengalami perluasan makna dipakai untuk para penghafal al-Qur`an terutama untuk masa sekarang, terutama di negeri kita Indonesia. Pemakainan ini tidak begitu bermasalah. Walhamdulillah.

Disebutkan dalam al-Mu’jam al-Wasîth, “Al-Hâfizh adalah orang yang hafal al-Qur`an atau orang yang hafal hadits dengan jumlah yang banyak.”[6] Allahu a’lam.

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad hal. 12-14 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.

Artikel: http://thaybah.id

[1] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 3, I/77) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[2] Lihat Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul Jauzi.

[3] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 2) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[4] Ibid (no. 1525).

[5] Lihat Ibid (IV/255).

[6] Al-Mu’jam al-Wasîth (I/185) oleh Ibrahim Musthafa dkk.

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*