Sejarah Bahasa Arab dan Bahasa Dunia

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Tsaqafah 0 Comments

Tidak ragu lagi bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Sesuatu dikatakan makhluk karena dia diciptakan dan tidak ada yang mencipta kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

 “Dan tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan kebenaran (tidak sia-sia).”

Teori Asal-Usul Bahasa

Firman Allah, “… dan apa yang ada di antara keduanya …” menunjukkan bahwa semua bahasa adalah ciptaan Allah. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan sebagian ilmuan dan pakar bahasa dari Barat yang mengatakan bahwa asal-muasal bahasa dari kebiasaan sekelompok tertentu di suatu daerah untuk menyebut nama-nama yang mereka perlukan sehingga lambat laun muncullah bahasa buatan mereka sendiri yang bisa mereka pahami.

Penulis telah membaca beberapa tulisan tentang asal-usul bahasa. Ternyata mereka terombang-ambing menjadi beragam pendapat. Di antaranya Teori Tekanan Sosial, Teori Ekotik, Teori Interjeksi, Teori Nativistik, Teori Yo-He-Ho, Teori Isyarat, Teori Permainan Vokal, Teori Alami, Teori Konvensi, dan lain-lain. Tetapi kemudian, hati penulis lebih tenteram dengan merujuk kepada pemberitaan dari Allah dalam al-Qur`an yang mudah dipahami dengan penjelasan para ulama yang mu’tamad (terpercaya), meskipun tidak terperinci.

Kita kaum muslimin menyakini bahwa bahasa Arab –begitu juga bahasa lainnya– diciptakan oleh Allah bukan tanpa kesengajaan sebagaimana persangkaan orang-orang yang terombang-ambing. Allah berfirman:

 “Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan langit-langit dan bumi, dan perbedaan bahasa-bahasa kalian dan warna-warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menyebutkan bahasa-bahasa yang Allah ciptakan berikut keberadaan bahasa lainnya yang tidak diketahui manusia. Al-Hafizh berkata, “Ada yang berbahasa Arab, Tartar, Georgia, Romawi, Eropa, Barbar, Ethiopia, India, Sevilla, Armennia, Cina, Kurdi, dan bahasa-bahasa manusia lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.”

Bahasa Manusia Pertama Kali Digunakan oleh Nabi Adam

Adam ‘alaihis salam yang merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan, Allah jadikan bahasa Arab sebagai bahasanya. Allah mengajarinya nama-nama semuanya yang nantinya digunakannya sebagai bahasa lisannya. Allah berfirman:

 “Dan Dia mengajari Adam nama-nama semuanya.”

Mujahid bin Jabr (w. 104 H) berkata:

عَلَّمَهُ اسْمَ كُلِّ دَابَّةٍ وَكُلِّ طَيْرٍ وَكُلِّ شَيْءٍ

“Dia mengajarinya semua nama dabbah, burung, dan segala sesuatu.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata:

الْصَحِيْحُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ أَسْمَاءَ الْأَشْيَاءِ كُلِّهَا: ذَوَاتِهَا وَأَفْعَالِهَا

“Tafsir yang benar adalah Dia mengajarinya nama-nama segala sesuatu seluruhnya baik dzatnya maupun perbuatannya.” Al-Hafizh menguatkan pendapatnya dengan sebuah hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ: لَوِ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا، فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ: أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللّٰهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَىْءٍ، فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا. فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ. وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحِى»

“Orang-orang mukmin pada hari Kiamat berkata, ‘Mari kita meminta syafaat kepada Rabb kita,’ lalu mereka mendatangi Adam lalu berkata, ‘Engkau adalah ayah manusia. Allah menciptakanmu dengan Tangan-Nya dan menjadikan para malaikat bersujud kepadamu serta mengajarimu nama-nama segala sesuatu. Maka, berilah kami syafaat di sisi Rabb-mu agar kami terbebas dari tempat ini.’ Adam menjawab, ‘Aku bukan orangnya,’ lalu dia menyebutkan dosanya dan merasa malu.” Lanjutnya, “Ini menunjukkan bahwa Dia mengajarinya seluruh nama-nama makhluk.”

Dari sini jelas bagi kita bahwa bahasa pertama di bumi adalah bahasa Arab yang diajarkan langsung oleh Allah kepada Adam lalu digunakan olehnya dan keturunannya hingga hari ini.

Asy-Sya’rawi (w. 1418 H) berkata, “Jika kita runtut silsilah bahasa, maka kita akan menemukan muaranya pada nenek moyang kita Adam. Allah-lah yang telah mengajari bahasa kepadanya, yaitu ketika Dia mengajarinya semua nama-nama. Kemudian nama-nama ini digunakan oleh Adam dan keturunannya sepeninggalnya sehingga mereka saling mengerti.”

Jika ada yang bertanya, “Lantas bagaimana bahasa-bahasa lainnya bisa ada?” Maka jawabanya: saat Allah membinasakan umat Nabi Nuh ‘alaihis salam, Allah tidak menyisakan manusia dipermukaan bumi kecuali Nuh dan orang-orang yang di kapalnya saja serta binatang-binatang sepasangan. Dari keturunan inilah manusia sekarang bernasab. Imam Qatadah (w. 118 H) berkata:

النَّاسُ كُلُّهُمْ ذُرِّيَّةُ مَنْ أَنْجَى اللّٰهُ فِي تِلْكَ السَّفِيْنَةِ

“Seluruh manusia adalah keturunan orang-orang yang Allah selamatkan di kapal tersebut.”

Seiring berjalannya waktu, keturunan mereka semakin banyak lalu berpencar-pencar lalu terjadilah perbedaan logat dalam pengucapan. Kemudian, Allah mengilhamkan mereka bahasa sebagaimana Allah memberi ilham kepada lebah untuk membuat sarangnya. Allah berfirman:

 “Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, pohon-pohon, dan rumah-rumah yang dibuat manusia.

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Penjelasan mengenai wahyu telah berlalu bahwa ia terkadang bermakna ilham, yaitu apa yang Allah ciptakan/bisikkan di dalam hati tanpa ada sebab yang tampak.”

Penyebaran Bahasa oleh Putra-Putra Nabi Nuh

Di antara ahli sejarah ada yang berpendapat, “Pasca banjir global Nuh, putra-putra Nuh berpencar. Sham mendapat wilayah tengah: Yaman, Syam, dan semenanjung Arabia. Keturunannya menyebar ke semenanjung Asia: bangsa Asysyiria, Arami, Romawi, Yunani, Yudea, Arab, dan lain-lain. Sedangkan Ham mendapat bagian sebelah selatan, yaitu Afrika. Ia menurunkan bangsa Sudan dan Qibthi. Sementara Yafits mendapat bagian utara. Ia menurunkan bangsa Eropa. Masing-masing berasimilasi dan di sanalah bahasa itu berkembang dengan sendirinya.”  Sejatinya, penulis merasa kurang tentram dengan pendapat mereka ini dan memilih bersikap tawaqquf.

Boleh jadi juga tidak seperti yang penulis paparkan di atas. Yang jelas, semuanya terjadi atas kehendak Allah dan Dia berbuat sesuatu dengan apa yang Dia inginkan. Itu mudah bagi Allah dan Dia mahakuasa atas segala sesuatu.

Bahasa adalah tauqifi. Bahasa yang diajarkan langsung kepada Adam adalah bahasa Arab, yaitu bahasa yang dibawa Adam dari bahasa surga sebagaimana zhahir nash yang ada. Ini dipegang jumhur ulama terutama oleh ahli bahasa ternama Abul Husain Ahmad bin Faris ar-Razi pengarang kamus bahasa legendaris Mu’jam Maqâyisil Lughah.

Muqatil bin Hayyan berkata:

 “Bahasa penduduk langit adalah bahasa Arab.” Kemudian dia membaca ayat, Hâ Mîm. Demi al-Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami telah menjadikannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab agar kamu berakal. Sesungguhnya dia berada di Lauhul Mahfuzh di sisi Kami yang benar-benar tinggi dan penuh hikmah.” []

*Dinukil dari Ada Apa dengan Bahasa Arab? hal. 3-10 Penerbit Pustaka Syabab, cet ke-1 th. 2013 karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730219208.


Penulis : Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*