Perhatian Kaum Salaf terhadap Bahasa Arab

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Dalam pembahasan ini, penulis akan membawakan beberapa bentuk perhatian kaum salaf terhadap bahasa Arab. Berikut pembahasannya.

Awal dari Ilmu Adalah Bahasa Arab

Di antara bentuk perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah mereka mendahulukan bahasa Arab sebelum ilmu-ilmu yang lain.

Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ طَلَبَ الْعِلْمِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ لِسَانِ الْعَرَبِ أَنْ يَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ أَوَّلًا وَيَتَدَرَّبَ فِيهِ

“Sepatutnya bagi seseorang yang ingin menuntut ilmu sementara dia bukan ahli berbahasa Arab untuk pertama kalinya dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya.”

Umar bin al-Khaththab (w. 23 H)  radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُواْ الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ، وَتَعَلَّمُواْ الْفَرَائِضَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian, dan pelajarilah faraidh karena ia bagian dari agama kalian.” Setelah membawakan atsar ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menjelaskan:

وَهَذَا الَّذِي أَمَرَ بِهِ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ مِنْ فِقْهِ الْعَرَبِيَّةِ وَفِقْهِ الشَّرِيْعَةِ يَجْمَعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، لِأَنَّ الدِّيْنَ فِيْهِ أَقْوَالٌ وَأَعْمَالٌ. فَفِقْهُ الْعَرَبِيَّةِ هُوَ الطَّرِيْقُ إِلَى فِقْهِ أَقْوَالِهِ وَفِقْهُ السُّنَّةِ هُوَ فِقْهُ أَعْمَالِهِ

“Apa yang diperintahkan Umar radhiyallahu ‘anhu berupa mendalami bahasa Arab dan mendalami syari’at, telah mencakup semua perkara yang dibutuhkan. Sebab, agama mencakup ucapan dan perbuatan. Mendalami bahasa Arab merupakan jalan untuk memahami ucapan-ucapan, sementara mendalami sunnah merupakan fiqih perbuatan.”

Namun, bukan berarti hal ini disikapi sangat kaku. Terkadang seseorang lebih membutuhkan sentuhan rohani lebih banyak daripada kebutuhannya kepada bahasa Arab, bisa jadi karena lingkungan jelek yang menuntut hal itu atau keadaan jiwa yang cenderung suka menyimpang agar tidak menimpa apa yang menimpa sebagian anak Harun ar-Rasyid, atau digabungkan kedua-duanya bila memungkinkan.

Alhasil, hendaklah seseorang memperhatikan dirinya apakah sudah baik ibadah wajibnya kepada Allah dan bagaimana aqidahnya. Jika telah baik maka hendaklah mulai mempelajari bahasa Arab dan bersungguh-sungguh mempelajarinya sampai mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mendalami ilmu syar’i yang lain. Jika keadaanya tidak demikian, dia bisa menggabungkan antara mempelajari bahasa Arab dengan mempelajari apa yang perlu diketahui dan diyakini dari kewajiban-kewajiban dan aqidah pokok Ahli Sunnah.

Al-Hafizh Ibnu Jauzi (w. 597 H) berkata, “Perkara pertama yang seharusnya didahulukan adalah muqaddimah tentang akidah beserta dalilnya untuk mengenal Allah. Hal ini tidak boleh tidak. Kemudian mempelajari kewajiban-kewajiban. Kemudian menghafal al-Qur`an, kemudian menghafal hadits. Juga dia harus mempelajari muqaddimah tentang nahwu untuk meluruskan bahasanya. Fiqih adalah intisari semua ilmu.”

Kesungguhan Belajar Bahasa Arab

Di antara bentuk perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya dan mengirim anak-anak mereka ke ahli bahasa.

Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ

“Pelajarilah bahasa Arab seperti kalian mempelajari hafalan al-Qur`an.”

Atsar ini menunjukkan bahwa para shahabat sangat memperhatikan bahasa Arab. Telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’sud radhiyallahu ‘anhu bahwa para shahabat menghafal al-Qur`an per lima ayat-lima ayat. Ini menunjukkan bahwa Ubay radhiyallahu ‘anhu menghendaki bahasa Arab dipelajari dengan sungguh-sungguh dan tidak tergesa-gesa sehingga berhasil mencapai apa yang diinginkan. Juga berdasarkan surat Umar radhiyallahu ‘anhu kepada gubernurnya Abu Musa al-Asy’ari untuk mendalami bahasa Arab.

Kebanyakan khalifah-khalifah Abbasiyah memanggil para ahli bahasa untuk mendidik bahasa anak-anaknya secara privat sebagaimana yang dilakukan Harun ar-Rasyid. Hanya saja, sebagian anak-anak Harun ar-Rasyid terlena dengan bahasa dan meninggalkan ilmu kaum salaf. Akhirnya, saat mereka menduduki jabatan kekhalifahan menggantikan ayahnya mereka mengkampayekan al-Qur`an adalah makhluk atas hasutan para menteri dan qadhi yang berpaham Mu’tazilah. Bahkan akidah ini bertahan sampai tiga periode kekhalifahan yaitu masa al-Makmun bin Harun ar-Rasyid, al-Mu’tashim bin Harun ar-Rasyid, dan al-Watsiq bin al-Mu’tashim. Selama tiga kepemimpinan inilah Imam Ahmad bin Hanbal disiksa hingga kepemimpinan digantikan oleh putra al-Mu’tashim yang cinta ilmu dan mengikuti kaum salaf. Dia adalah al-Mutawakkil Billah. Akhirnya bendera Ahli Sunnah berkibar kembali.

Peringatan Keras terhadap Lahn (Kesalahan Pengucapan Bahasa)

Di antara bentuk perhatian mereka kepada bahasa Arab adalah memperingatkan orang yang lahn agar memperbaiki bahasanya dan mengecam siapa dari mereka yang berani berbicara tentang agama.

Abdul Malik bin Marwan berkata:

اللَّحْنُ فِي الرَّجُلِ السِّرِّيُ كَالْجُدَرِي فِي الْوَجْهِ

“Lahn yang tersembunyi pada seseorang bagaikan penyakit cacar pada wajah.”

Mereka benar-benar mengetahui bahwa kesesatan dalam agama dimulai dari orang-orang dungu yang tidak paham seluk-beluk bahasa lalu menafsirkan nash sesuai dengan seleranya. Untuk itu mereka benar-benar memperingatkan umat darinya dan mengecamnya.

Mujahid bin Jabr (w. 104 H) berkata:

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي كِتَابِ اللّٰهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ عَالِماً بِلُغَاتِ الْعَرَبِ

“Tidak halal bagi siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berbicara tentang Kitabullah, apabila dia tidak memiliki ilmu bahasa Arab.”

Imam Malik bin Anas (w. 179 H) berkata:

لَا أُوْتِىَ بِرَجُلٍ يُفَسِّرُ كِتَابَ اللّٰهِ غَيْرَ عَالِمٍ بِلُغَةِ الْعَرَبِ إِلاَّ جَعَلْتُهُ نَكَالاً

“Tidaklah didatangkan kepadaku seseroang yang menafsirkan Kitabullah padahal tidak tahu bahasa Arab melainkan akan aku hukum dia dengan berat.”

Lafazh (نَكَالاً) digunakan untuk hukuman yang berat sebagaimana firman Allah ta’ala:

 “Dan laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangan mereka berdua sebagai balasan atas perbuatannya sebagai hukuman berat dari Allah.”

Anjuran Berbahasa Arab Meskipun Bukan Bangsa Arab

Di antara perhatian mereka yang paling agung adalah mereka menganjurkan dengan anjuran yang tegas agar berbicara dengan bahasa Arab, meskipun bukan di negeri Arab.

Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah (w. 114 H) bahwa dia berkata:

بَلَغَنِي أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ سَمِعَ رَجُلًا يَتَكَلَّمُ بِالْفَارِسِيَّةِ فِي الطَّوَافِ فَأَخَذَ بِعَضُدِهِ وَقَالَ: ابْتَغِ إِلَى الْعَرَبِيَّةَ سَبِيْلًا

“Sampai kabar kepadaku bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendengar seseorang berbicara menggunakan bahasa Persia saat thawaf, lalu dia memegang lengannya dan berkata, ‘Tempuhlah jalan dengan bahasa Arab.’”

Syaikhul Islam (w. 728 H) berkata, “Adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab –di mana ia merupakan syi’ar Islam dan bahasa al-Qur`an– hingga menjadi kebiasaan di suatu negeri dan penduduknya, atau bagi anggota keluarga, atau seseorang dengan saudaranya, atau bagi orang-orang pasar, atau dalam kepemimpinan, atau dalam parlemen, atau bagi ahli fiqih, maka tanpa diragukan bahwa ini makruh karena menyerupai orang-orang ajam (non-Arab). Ini makruh sebagaimana penjelasan lalu.

Oleh karena itu, kaum muslimin masa dulu saat menduduki negeri Syam dan Mesir yang bahasa keduanya Romawi, negeri Iraq dan Khurasan yang bahasa keduanya Persia, penduduk Maroko yang bahasanya Barbar, mereka membiasakan para penduduknya untuk berbahasa Arab, sehingga bahasa Arab menguasai penduduk negeri-negeri ini baik yang muslim maupun yang kafir.”

Atas jasa mereka ini, bahasa Arab tersebar ke berbagai negeri Islam yang dulunya bukan Arab. Sehingga ilmu al-Qur`an dan as-Sunnah berkembang pesat. Kemudian muncullah para ahli bahasa dan ahli hadits di negeri-negeri ajam ini. Hampir semua ahli ilmu Islam didominasi oleh orang-orang ajam bahkan sebagiannya adalah budak tawanan kaum muslimin. Di antaranya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il (w. 256 H) pengarang kitab paling shahih setelah al-Qur`an berasal dari al-Bukhara (Uni Soviet), Imam Muslim (w. 261 H) dari Naisabur, Imam Abu Isa (w. 249 H), dari Tirmidz, Imam Abu Dawud (w. 275 H) dari Sijistan, Imam an-Nasa`i (w. 303 H) dari Nasa`, Imam Ibnu Majah (w. 273 H) dari Qazwain, Abu Nu’aim (w. 430 H) dari Asfahan, Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr dari Andalusia (Spayol). Bahkan, kiblat bahasa Bashrah Sibawaih (w. 180 H) bukan asli orang Arab tetapi orang Persia.

Abu Thahir as-Salafi dengan sanadnya yang terkenal yang sampai ke Sa’id bin al-Musayyib (w. 94 H) bahwa dia berkata:

لَوْ أَنِّي لَمْ أَكُنْ مِنْ قُرَيْشٍ لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ فَارِس، ثُمَّ أَحْبَبْتُ أَنْ أَكُوْنَ مِنْ أَصْبَهَانَ

“Seandainya aku bukan orang Quraiys, aku suka menjadi orang Persia, kemudian aku suka menjadi orang Asfahan.” Dan dalam riwayat lain:

لَوْلاَ أَنِّي رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ لَتَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ مِنْ أَصْبَهَانَ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ كَانَ الدِّيْنُ مُعَلَّقاً بِالثُّرَيّاَ لَتَنَاوَلَهُ نَاسٌ مِنْ فَارِسٍ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَجَمِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِهَا فَارِسٌ وَأَصْبَهَانُ»

“Seandainya aku bukan orang Quraiys, aku berandai-andai menjadi orang Asfahan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seandainya agama ini digantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh seorang dari Persia dari keturunan orang ajam. Orang yang paling bergembira adalah orang Persia dan Asfahan.’”

Syaikhul Islam (w. 728 H) berkata, “Salman al-Farisi berasal dari Asfahan, begitu pula Ikrimah –ahli tafsir al-Qur`an– budak Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan selain keduanya. Pengaruh Islam di Asfahan lebih nampak daripada di tempat lainnya, hingga al-Hafizh Abdul Qadir ar-Rahawi berkata, ‘Aku tidak melihat negeri setelah Baghdad yang lebih banyak haditsnya selain Asfahan.’”

Nasab ajam tidak menghalangi mereka untuk menjadi imam dalam ilmu dan ketaqwaan. Mereka tekun mempelajari bahasa Arab hingga akhirnya Allah memudahkan ilmu-ilmu yang lain karenanya.

Kenikmatan yang Sangat bagi yang Memahami Bahasa Arab

Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

مَا أَرَدْتُ بِهَا -يَعْنِي: العَرَبِيَّةَ وَالأَخْبَارَ- إِلاَّ لِلاِسْتِعَانَةِ عَلَى الفِقْهِ

“Aku tidak menghendakinya –yakni bahasa Arab dan hadits– melainkan supaya membantuku dalam memahami fiqih.”

Sungguh bahasa Arab dan hafal al-Qur`an adalah dua kenikmatan yang tidak ada bandingannya bagi penuntut ilmu. Siapa yang diberi Allah keduanya, berarti dia telah diberi bagian yang amat besar.

Syaikh al-Muhaddits al-Albani (w. 1420 H) berkata, “Sesungguhnya nikmat yang Allah karuniakan kepadaku teramat banyak, tidak terhitung banyaknya. Namun kiranya yang terpenting ada dua: yang pertama hijrahnya orang tuaku ke Syam dan yang kedua diajarkannya aku kemampuan memperbaiki jam. Adapun yang pertama yaitu hijrahnya kami ke negeri Syam, dengan itu aku diberi kemudahan untuk mempelajari bahasa Arab. Jika seandainya kami tetap di Albania, niscaya aku tidak akan paham bahasa Arab walaupun satu huruf, padahal tidak ada jalan untuk memahami al-Qur`an dan as-Sunnah kecuali dengan jalan bahasa Arab. Adapun yang kedua yaitu keahlian memperbaiki jam, ini memberikanku waktu yang luas untuk menuntut ilmu, sehingga aku diberi kesempatan untuk senantiasa datang ke perpustakaan azh-Zhahiriyyah dan perpustakaan yang lain dan membaca di sana berjam-jam lamanya.”

Hamzah Abbas Lawadi berkata, “Inilah salah satu kesaksian ulama zaman ini yang menyadarkan kita bahwa mempelajari bahasa Arab adalah nikmat yang besar. Bagaimana tidak? Bukankah merupakan satu kenikmatan yang besar jika kita mampu memahami terjemah al-Qur`an tanpa harus melihat mushhaf terjemah? Bukankah satu kenikmatan besar jika kita mampu memahami terjemah suatu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa harus melihat terjemah buku-buku hadits Nabi? Bukankah satu kenikmatan besar jika kita bisa langsung membaca buku tafsir al-Qur`an dan syarah hadits yang ditulis para ulama dalam bahasa Arab, tanpa perlu melihat terjemah buku-buku tersebut? Bukankah satu kenikmatan yang besar jika kita mampu mendengarkan secara langsung dan memahami ceramah-ceramah para ulama Ahli Sunnah dalam bahasa Arab tanpa membutuhkan penerjemah?

Kita jawab dan kita katakan tanpa ragu, ‘Ya, memahami bahasa Arab memang merupakan suatu kenikmatan besar.’ Seseorang yang memiliki kemampuan yang cukup dalam bahasa Arab bagaikan seseorang yang di hadapannya lautan. Ia memiliki kemampuan untuk berenang dari arah manapun yang ia sukai, baik di tepian pantai maupun di tengah samudra yang luas.

Seseorang yang paham bahasa Arab bagaikan pemegang kunci yang akan mengantarkannya ke lautan ilmu syar’i yang luas nan dalam. Ia mampu secara langsung menimba ilmu-ilmu Islam dari sumber-sumbernya yang terpercaya. Ia tidak akan tertipu dengan banyaknya salah penerjemahan, yang sekarang banyak kita temukan dalam buku-buku terjemahan.

Ia tidak akan terjebak dengan tipuan orang-orang yang berdusta ketika menerjemahkan ceramah dan nasihat para ulama. Bahkan ia mampu untuk menyampaikan semua itu kepada umat secara langsung dengan penuh ketelitian dan amanah.”[]

*Dinukil dari Ada Apa dengan Bahasa Arab? hal. 38-48 Penerbit Pustaka Syabab, cet ke-1 th. 2013 karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730219208.


Penulis : Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*