Keutamaan Bahasa Arab (Bagian 2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Lanjutan dari: Keutamaan Bahasa Arab (Bagian 1)

3) Unggul dalam Pengucapan

Adapun unggul dalam pengucapan, karena bahasa Arab memiliki makharijul huruf (tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyyah). Dengan makharijul huruf ini pengucapan lebih indah, merdu, dan jelas karena melibatkan semua alat pengucap: rongga mulut, kerongkongan, lidah, bibir, dan rongga hidung.

               Hujjatul Qurra` Ibnul Jazari berkata:

مَخَارِجُ الحُرُوْفِ سَبْعَةَ عَشَرْ … عَلَى الَّذِي يَخْتَارُهُ مَنِ اخْتَبَرْ

“Makharijul huruf ada tujuh belas … bagi siapa yang memilih pendapat yang terpilih”[1]

Tidak sampai di sini saja. Setiap huruf hijaiyyah juga memiliki 5 sampai 7 sifat unik. Di sana ada sifat hams, syiddah, isti’lâ`, ithbâq, dan idzlâq yang masing-masing memiliki kebalikan, maupun sifat yang tidak memiliki kebalikan seperti sifat shafîr, qalqalah, lîn, inhirâf, takrîr, tafasysyî, dan istithâlah. Contoh mudahnya adalah huruf ra`(ر). Dia memiliki dua variasi bacaan, tipis (ra` muraqqaqah) dan tebal (ra` mufakhkhamah).

Contoh lainnya makhraj dhad (ض). Dikatakan bahwa dhad adalah huruf yang paling susah. Susah di sini bukan berarti sulit dipelajari, tetapi dia memiliki 3 tingkatan kesukaran. Pengucapan yang paling mudah adalah pinggir-tepi lidah bagian kanan ditempelkan dengan gigi geraham atas. Yang agak susah dari itu bila yang ditempelkan adalah pinggir-tepi lidah bagian kiri. Dan yang paling sukar bila yang ditempelkan kedua-duanya. Sehingga, jadilah dhad sebagai huruf yang paling sukar diucapkan dan orang ajam tidak mampu mengucapkannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki shâhibu lughati ahlidh dhad.[2]

 Sayang sekali bukan di sini tempatnya untuk memperluas pembahasan. Bagi yang ingin lebih lengkap bisa merujuk ke syarah Muqaddimah al-Jazariyyah yang ditulis oleh syaikh Shafwat Mahmud Salim.[3]

Subhanallah! Oleh karena itu, al-Qur`an menjadi bacaan yang paling merdu sepanjang sejarah, merdu karena substansi dan merdu karena bahasanya. Ia membuat menangis para qari dan pendengarnya, hingga orang-orang berbondong-bondong masuk Islam hanya karena mendengarnya meskipun tidak tahu artinya.

Allah berfirman:

 “Allah telah menurunkan sebaik-baik ucapan yaitu sebuah kitab yang serupa dan berulang-ulang. Karenanya gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka menjadi tenang kembali ketika mengingat Allah.”[4]

Meskipun pengucapan bahasa Arab dengan makhraj dan sifat, hal ini tidaklah memberatkan dalam pengucapan, bahkan mudah dan menyenangkan.

Ibnu Faris berkata, “Di antara kekhususan bahasa Arab –setelah apa yang disebutkan sebelumnya– diubahnya huruf menjadi huruf lain karena huruf yang kedua lebih ringan dari yang pertama, misalkan ucapan (مِيْعَادٌ) tidak diucapkan (مِوْعَادٌ) padahal keduanya berasal dari (وَعْدٌ). Hal ini karena yang kedua lebih ringan.”[5]

Abul Fath Utsman bin Jinni berkata, ”Kata pokok dalam bahasa Arab ada tiga: tsulatsi (kata yang terdiri dari tiga huruf), ruba’i (kata yang terdiri dari empat huruf), dan khumasi (kata yang terdiri dari lima huruf). Adapun yang paling banyak digunakan dan paling sederhana susunan katanya adalah tsulatsi karena ia terdiri dari satu huruf pembuka, satu huruf tengah, dan satu huruf penutup.”[6]

Hamzah Abbas Lawadi berkata –secara ringkas–, “Banyaknya penggunaan kata yang terdiri dari tiga huruf dalam bahasa Arab menunjukkan ringan dan sederhananya bahasa Arab. Jika kita melakukan uji perbandingan antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya, kita akan melihat bukti nyata dari apa yang telah disebutkan di atas. Misalkan, kata (جَدٌّ) dalam bahasa Arab sama artinya dengan kakek dalam bahasa Indonesia, grand father dalam bahasa Inggris, le grand-pere dalam bahasa Prancis, dan der gross vater dalam bahasa Jerman.

Kita lihat bahasa Arab yang terdiri dari 3 atau 4 huruf sebanding dengan kata dalam bahasa lain yang berjumlah hingga 10 huruf atau lebih. Dalam bahasa Arab, kata terpanjang hanya 7 huruf seperti (اِسْتِخْرَاجٌ). Bahasa lain panjangnya bisa mencapai 15 huruf atau lebih, seperti internationalism dalam bahasa Inggris atau enstchuldigung dalam bahasa Jerman.

Kekhususan dan keistimewaan bahasa Arab di sisi ini memiliki banyak faidah penting, di antaranya hemat waktu, tenaga, dan harta. Ditambah lagi kata yang sedikit hurufnya tentu lebih ringan dalam pengucapan, lebih cepat, dan lebih ringkas dalam penulisan.”[7]

4) Unggul dalam Makna

Adapun unggul dalam makna, karena bahasa Arab memiliki i’rab yang tidak dimiliki oleh bahasa manapun.

Mudahnya, i’rab adalah perubahan harakat atau huruf pada suatu kata. Penjelasan dan contohnya akan datang insya Allah pada bab Mengoreksi Bacaan al-Qur`an dengan Nahwu.

Di antara kategori keunggulan makna adalah bahasa Arab memiliki makna yang sangat mendalam dan terkadang bertingkat-tingkat untuk sinonim kata yang sama. Misalnya kata (الذِّبْحُ), (النَّحْرُ), dan (العَقْرُ) yang artinya sama-sama menyembelih tetapi sedikit berbeda maknanya.

Kata (الذِّبْحُ) digunakan untuk menyembelih pada leher. Ibnu Manzhur berkata, “Yaitu memotong tenggorokan sampai ke dalam uratnya, yaitu tempat penyembelihan di tenggorokan.”[8]

Allah berfirman:

 “Ibrahim berkata, ‘Wahai ananda, sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.’”[9] Yakni, aku menyembelihmu tepat di leher tidak di bagian tubuh yang lain.

Kata (النَّحْرُ) dipakai untuk menyembelih dalam rangka ibadah dan ketaatan pada hari Qurban, sebagaimana firman Allah:

 “Maka, shalatlah kepada Rabb-mu dan menyembelihlah.”[10]

Al-Hafizh (w. 774 H) berkata, “Yang benar adalah pendapat pertama bahwa maksud (النَّحْرُ) adalah menyembelih pada hari Nask/Qurban. ”[11]

Kata (العَقْرُ) dipakai untuk menyembelih dengan kekejaman dan menyakiti dan tidak mesti di leher. Allah berfirman tentang kaum Nabi Shalih ‘alaihis salam:

 “Lalu mereka menyembelih untu itu dan mereka menentang perintah Rabb mereka.”[12]

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Maksudnya menyembelih dengan melukai. Ada yang berpendapat, memotong anggota tubuh yang menyayat hati.”[13]

Demikianlah bahasa Arab. Ia memiliki kefasihan dan mampu menggungkapkan makna-makna yang terbesit dalam jiwa.

Abu Utsman Amr bin Bahr al-Jahidz berkata, “Perlu dijelaskan di sini bahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling jelas dan paling luas. Lafazhnya lebih jelas dalam menunjukkan suatu makna, berbagai bentuk kalimatnya lebih bervariasi dan sangat banyak, dan permisalahan yang disebutkan lebih indah dan sederhana.”[14]

  1. Bahasa Arab Bahasa Malaikat Terbaik, Bahasa Rasul Terbaik, Bahasa Kitab Terbaik, Bahasa Umat Terbaik, dan Bahasa Ahli Surga

Para ulama kaum muslimin telah bersepakat tanpa ada yang berselisih bahwa Jibril adalah malaikat terbaik di kalangan penduduk langit; Muhammad bin Abdillah adalah Rasul terbaik di kalangan penduduk bumi; al-Qur`an adalah kitab terbaik di antara Zabur, Taurat, Injil, dan shuhuf-shuhuf; umat Islam adalah umat terbaik di antara seluruh umat-umat di dunia; dan bahasa Arab adalah bahasa ahli surga.

Muqatil bin Hayyan berkata:

كَلامُ أَهْلِ السَّمَآءِ الْعَرَبِيَّةُ

“Bahasa penduduk langit adalah bahasa Arab.”[15]

Sungguh seandainya keutamaan bahasa Arab hanya ini saja –sebagai bahasa penduduk surga– sungguh telah mencukupi untuk mengunggulkan bahasa ini. Namun, Allah mahasempurna dan mahamampu menyempunakan ciptaan-Nya.

Secara mengagumkan al-Hafizh (w. 774 H) telah mengumpulkan dua poin keunggulan ini dalam ucapannya yang singkat dan padat:

وَذَلِكَ لِأَنَّ لُغَةَ الْعَرَبِ أَفْصَحُ الْلُغَاتِ وَأَبْيَنُهَا وَأَوْسَعُهَا وَأَكْثَرُهَا تَأْدِيَّةً لِلْمَعَانِي الَّتِي تَقُوْمُ بِالنُّفُوْسِ فَلِهَذَا أُنْزِلَ أَشْرَفُ الْكُتُبِ بِأَشْرَفِ اللُّغَاتِ عَلَى أَشْرَفِ الرُّسُلِ بِسَفَارَةِ أَشْرَفِ الْمَلاَئِكَةِ وَكاَنَ ذَلِكَ فِي أَشْرَفِ بَقَاعِ الْأَرْضِ وَابْتُدِىءَ إِنْزَالُهُ فِي أَشْرَفِ شُهُوْرِ السَّنَةِ وَهُوَ رَمَضَانُ، فَكَمْلٌ مِنْ كُلِّ الْوُجُوْهِ

“Hal tersebut dikarenakan bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan banyak kandungan makna-maknanya yang begitu menyentuh hati. Oleh karena itu, kitab yang mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia kepada Rasul yang paling mulia lewat Malaikat yang paling mulia, turunnya di bagian bumi yang paling mulia, dan permulaan turunnya di bulan yang paling mulia yaitu Ramadhan. Maka, ia adalah kesempurnaan dari berbagai sisi.”[16][]

*Dinukil dari Ada Apa dengan Bahasa Arab? hal. 19-33 Penerbit Pustaka Syabab, cet ke-1 th. 2013 karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730219208.

Artikel http://thaybah.id

[1] Muqaddimah al-Jazariyah (hal. 1) oleh Ibnul Jazari.

[2] Lihat Fathu Rabbil Bariyyah (hal. 53) oleh Syaikh Shafwat Mahmud Salim. Dalam kitab tersebut beliau tidak menyebutkan teks haditsnya, yang jelas hadits tentang dhâd adalah lemah menurut para pakar hadits.

[3] Ibid (hal. 49-76).

[4] QS. Az-Zumar [39]: 23.

[5] Lihat ash-Shahabi fi Fiqhil Lughah al-Arabiyyah (hal. 21) oleh Ibnu Faris.

[6] Lihat al-Khasâ`ish (I/55) oleh Ibnul Jinni.

[7] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 23-25) oleh Hammzah Abbas Lawadi.

[8] Lisânul Arab (II/436) pada entri dz-b-h.

[9] QS. Ash-Shâffât [37]: 102.

[10] QS. Al-Kautsar [106]: 2.

[11] Tafsîr Ibnu Katsîr (VIII/503).

[12] QS. Al-A’râf [7]: 77.

[13] Tafsîr al-Qurthubî (VII/240).

[14] Lihat al-Bayan wa at-Tibyan (I/384) oleh al-Jahidz.

[15] Telah berlalu takhrijnya.

[16] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/ 365-366).


Penulis : Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*