Keutamaan Bahasa Arab (Bagian 1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Keutamaan bahasa Arab amatlah banyak. Di sini penulis mencukupkan diri hanya menyebutkan dua poin saja. Poin pertama keutamaan secara internal dan poin kedua keutamaan secara eksternal.

a. Bahasa Arab Mengungguli Seluruh Bahasa

Allah berfirman:

 “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk diunggulkan-Nya atas semua agama.”[1]

Al-Jahidz berkata, “Dan keindahan bahasa hanya ada pada bahasa Arab, karena itulah ia merupakan bahasa yang menggungguli semua bahasa.”[2]

Keunggulan ini ada beberapa macam. Di antaranya unggul dalam kemunculan, unggul dalam kosa-kata, unggul dalam pengucapan, dan unggul dalam makna.

1) Unggul dalam Kemunculan

Telah dijelaskan pada bab Sejarah Bahasa Arab dan Bahasa Dunia, bahwa bahasa Arab lebih dahulu muncul daripada bahasa-bahasa lainnya. Zhahir nash menunjukkan hal demikian dan zhahir nash tidak boleh dipalingkan ke makna lain tanpa ada qarinah (indikasi) yang jelas. Di dalam al-Qur`an cukup banyak percakapan antara Allah dengan malaikat dan iblis. Sementara iblis lebih dahulu diciptakan daripada manusia dan berasal dari bangsa jin yang ada di langit. Begitu pula percakapan iblis dengan manusia pertama Adam atau percakapan di antara anak-anak Adam. Semuanya berbahasa Arab. Misalnya firman Allah ta’ala:

 “Dan bacakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam dengan sebenarnya, yaitu ketika mereka berdua mempersembahkan kurban. Kemudian, kurban salah seorang dari mereka (Habil) diterima dan kurban yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia berkata, ‘Aku akan membunuhmu!’ Habil menjawab, ‘Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.’”[3]

Karena kemunculannya yang pertama, bahasa Arab banyak diserap ke dalam bahasa lainnya. Misalnya dalam bahasa Inggris kita menjumpai sugar, cotton, dan cat (baca: ket) yang diserap dari sukkar, quthn, dan qith, yang secara berturut-turut artinya gula, kapas, dan kucing. Dalam bahasa Indonesia kita menjumpai adab, adat, ahli, akhir, batal, berkah, bahas, dahsyat, dalil, dunia, faidah, fitnah, fitrah, gaib, hadir, istirahat, jadwal, manfaat, nikmat, rahim, sabun, umur, zaman, semua nama hari (Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu), bahkan agama-agama lain mengambil istilah dari Islam seperti iman, shalih, ibadah, amin, shalat, munafik, kiamat, dan lain-lain. Kosa-kata bahasa Indonesia dan Melayu yang berasal dari bahasa Arab cukup  banyak mencapai lebih 2.000 atau kira-kira 10% s.d 15%. Hal ini bukanlah hal aneh, karena sesuatu yang kurang akan meminta kepada sesuatu yang lebih.

2) Unggul dalam Kosa-Kata

Adapun unggul dalam kosa-kata, karena tidak ada satu bahasa manapun yang lebih kaya kosa-katanya melebihi bahasa Arab.

               Imam asy-Syifi’i (w. 204 H) berkata:

وَلِسَانُ الْعَرَبِ أَوْسَعُ الْأَلْسِنَةِ مَذْهَباً وَأَكْثَرُهَا أَلْفَاظاً

“Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas cakupan bahasanya dan paling kaya kosa-katanya.”[4]

Di antara bukti akan keluasan bahasa Arab adalah ia memiliki kosa-kata lebih 12.305.412 bentuk kalimat dan 6.699.400 kata. Adapun bahasa Inggris hanya memiliki sekitar 100.000 kata dan bahasa Prancis sekitar 25.000.[5]

Dalam literatur lain disebutkan, Tahiyya Abdul Aziz seorang dosen Linguistik Inggris telah melakukan riset bertahun-tahun tentang bahasa-bahasa dunia. Hasilnya, dia mengatakan, “Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas kosa-katanya. Bahasa Latin hanya memiliki 700 akar kata, Saxonia memiliki 1.000 akar kata, sementara bahasa Arab memiliki 16.000 akar kata.

Di samping itu, bahasa Arab kaya akan padanan kata (satu akar kata). Misalkan sifat good dalam bahasa Inggris dan jayyid dalam bahasa Arab yang berarti bagus. Jayyid memiliki banyak padanan kata, misalnya jaud, jaudah, jawad, dan jiyad. Akan tetapi, kita tidak mendapati kosa-kata lain yang berasal dari kata good.

Yang lebih mengagumkan, bahasa Arab memiliki sinonim yang melimpah ruah bahkan sampai ribuan untuk satu kata saja. Misalnya asad yang artinya singa memiliki sinonim laits, hafsh, ghadanfar, dargham, dzaigham, sabu, ri’bal, wardu, qashwar, dan lain-lain yang banyak sekali.”

Abul Hasan Ibnu Faris ar-Razi berkata, “Di antara hal yang tidak mungkin dinukil seluruhnya adalah sinonim dari kata pedang, singa, tombak, dan kata yang sepadan. Telah diketahui bahwa bahasa ajam (non-Arab) tidak mengenal kata singa kecuali hanya satu saja. Adapun kita memiliki 150 nama untuk singa. Bahkan telah menyampaikan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Bundar bahwa dia mendengar Abu Abdillah bin Khalawaih berkata, ‘Aku telah mengumpulkan 500 nama untuk singa dan 200 nama untuk ular.”[6]

Al-Fairuz Abadi –pengarang kamus terkenal al-Qâmûs al-Muhîth— menulis sebuah buku yang menyebutkan nama-nama madu. Beliau menyebutkan dalam kitab tersebut lebih dari 80 nama untuk madu, dan menemukan minimal 1.000 nama untuk pedang.[7]

Karena saking banyaknya kosa-kata bahasa Arab, tidak semua orang Arab mengetahuinya. Para ulama pun banyak menyusun kitab tentang kosa-kata asing ini, misalnya al-Mufrâdât fi Gharîbil Qur`ân karya al-Allamah ar-Raghib al-Asfahani, Gharîbul Qur`ân karya al-Farahi, Gharîbul Qur`ân karya Abu Bakar as-Sijistani (w. 330 H), dan Gharâ`ibul Ightirâb karya al-Alusi. Kebanyakan bahasa gharib ini diketahui oleh orang-orang pedalaman dan Badui, untuk itu mengapa Imam asy-Syafi’i bermukim ke kabilah pedalaman untuk mempelajari bahasanya hingga beliau menjadi pakar bahasa dan syair. Beliau berkata:

وَلاَ نَعْلَمُهُ يُحِيْطُ بِجَمِيْعِ عِلْمِهِ إِنْسَانٌ غَيْرُ نَبِيٍّ

“Dan kami tidak tahu ada manusia yang mengetahui semua kosa-kata bahasa Arab selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

               Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كُنْتُ لَا أَدْرِي مَا ﮋ ﮡ  ﮢ ﮊ حَتَّى أتَانِيَ أَعْرَابِيَّانِ يَخْتَصِمَانِ فِي بِئْرٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: أَنَا فَطَرْتُهَا، أي ابْتَدَأْتُهَا

“Dulu aku tidak tahu apa makna (فَاطِرُ السَّمَوَاتِ) hingga aku didatangi dua orang Baduwi yang saling bersengketa tentang sebuah sumur. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Akulah pembuatnya.’ Yakni, yang membuatnya pertama kali.”[9]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَسْتُ مِنْ دَدٍ وَلاَ دَدٌ مِنِّى»

“Aku bukan dari dad dan dad itu bukan dariku.” Ali bin al-Madini berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ubaidah seorang pakar bahasa tentang hadits ini, lalu dia menjawab:

لَسْتُ مِنَ الْبَاطِلِ وَلاَ الْبَاطِلُ مِنِّى

‘Aku bukan dari kebatilan dan kebatilan bukan dariku.’’’[10]

Ahmad Arif al-Hijazi seorang doktor bidang bahasa Arab dari Mesir berkata, “Dalam sebuah pembahasan pelik di antara para ahli mengenai bahasa yang besar kemungkinan masih digunakan oleh manusia pada beberapa abad yang akan datang, mereka sepakat bahwa bahasa Arab yang kemungkinan bisa bertahan. Sehingga peradaban bisa menitipkan ilmu dan sejarahnya lewat bahasa Arab untuk disampaikan pada manusia di masa mendatang.”

Sejarah membuktikan, dahulu Mesir, Sudan, Iraq, Iran, Palestina, Yordania, Libanon, Suriah, Libia, Maroko, Tunisia sampai Aljazair bukanlah negeri Arab dan memiliki bahasa-bahasa sendiri. Namun setelah Islam masuk, mereka mempelajari bahasa Arab lalu menggunakannya sebagai bahasa resmi bahkan kesultanan Islam di bumi Nusantara menggunakan bahasa resmi Arab. Adapun bahasa Inggris Modern jelas telah berubah total dari bahasa Inggris kuno. Maka besar kemungkinan ia akan bernasib seperti bahasa Mesir kuno yang telah terkubur bersama para Fir’aun di padang pasir.

Hamzah Abbas Lawadi berkata, “Kaum muslimin yang memahami bahasa Arab, saat ini mampu untuk memahami perkataan orang-orang Arab 15 abad yang lalu. Bagaimana hal tersebut terjadi? Seperti yang kita tahu, hal itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Bukankah bagi kita yang sekarang ini memahami bahasa Arab mampu untuk memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disabdakan kurang lebih 15 abad yang lalu? Bukankah kita sekarang ini mampu memahami perkataan para shahabat yang diucapkan pada waktu yang sama? Bahkan kita pun mampu untuk memahami syair-syair Arab sebelum Islam. Keistimewaan ini mutlak hanya ada pada bahasa Arab dan tidak ada pada bahasa lainnya.

Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia. Bahasa ini telah lama ada dan akan terus ada sepanjang masa karena Allah subhanahu wa ta’ala yang secara langsung menjaga dan melindunginya. Pada saat dunia menyaksikan punahnya berbagai bahasa yang ada dalam sejarah, di saat yang sama dunia akan menyaksikan terjaganya bahasa Arab sepanjang zaman.”[11]

Bersambung di: Keutamaan Bahasa Arab (Bagian 2)

[1] QS. At-Taubah [9]: 33, al-Fath [48]: 28, dan ash-Shaff [61]: 9.

[2] Lihat al-Bayan wa at-Tibyan (IV/55) oleh al-Jahidz.

[3] QS. Al-Mâ`idah [5]: 27. Penamaan dua putra Adam dengan Habil dan Qabil tidak ada dalil shahih yang mengukuhkannya tetapi dari riwayat Isra`iliyyat (ahli kitab). Hanya saja sebagian ahli tafsir memakai nama ini untuk memudahkan penyebutan seperti al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam tafsirnya Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr.

[4] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.

[5] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 7) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[6] Lihat Ash-Shahibi fi Fiqhil Lughah al-Arabiyyah (hal. 21-22) oleh Ibnu Faris.

[7] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 9) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[8] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.

[9] Syu’abul Iman (no. 1559) oleh al-Baihaqi.

[10] Diriwayatkan al-Baihaqi (no. 21493) dalam as-Sunan al-Kubrâ.

[11] Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 14-15) oleh Hamzah Abbas Lawadi.


Penulis : Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*