Panduan Ringkas Zakat Fithri (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

 

«1» Definisi

Secara bahasa zakat berarti ziyâdah (berkembang) dan thahârah (bersih atau suci).

قَالَ عَلِيُّ الْجُرْجَانِي: الزَّكَاةُ فِي اللُّغَةِ الزِّيَادَةُ.

Ali al-Jurjani berkata, “Zakat secara bahasa artinya berkembang.” [At-Ta’rifât (no. 754, hal. 152) olehnya tahqiq: Ibrahim al-Abyari]

قَالَ أَبُو الْحُسَيْنِ ابْنُ فَارِس: قَالَ بَعْضُهُمْ:سُمِّيَتْ زَكَاةً لِأَنَّهَا طَهَارَةٌ. قَالُوْا: وَحُجَّةُ ذَلِكَ قَوْلُهُ جلَّ ثَنَاؤُهُ: (( خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا ))

Abu al-Husain Ibnu Faris berkata, “Mereka (para ulama) berkata, ‘Dinamakan zakat karena mensucikan. Dalilnya adalah firman Allah yang Mahamulia sanjungan-Nya, ‘Ambillah dari harta-harta mereka zakatnya untuk membersihkan mereka dan mensucikan mereka.’ [QS. At-Taubah [9]: 103] [Maqâyisul Lughah (III/12) olehnya]

Secara bahasa fithri artinya ifthâr (berbuka/Idul Fithri)

Jadi, Zakat Fithri adalah harta yang dikeluarkan untuk membersihkan jiwa dari kekurangan-kekurangan dan dosa selama berpuasa pada saat Idul Fihtri atas orang tertentu dengan ketentuan terentu.

«2» Nama-Nama Zakat Fithri

1 – Zakat Fithri, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1503) dan Shahih Muslim (no. 984)]

2 – Zakat Ramadhan, berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: وَكَّلَنِي رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugasiku untuk menjaga zakat Ramadhan.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 2311, 3275, 5010)]

3 – Sedekah Fithri, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan sedekah fithri.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1511) dan Shahih Muslim (no. 984)]

4 – Zakat Fithrah

Penamaan ini tidak memiliki nash yang bisa diruju’. Penamaan ini hanya dipakai oleh para ahli fikih dengan mengqiyaskan sebagaimana ada zakat mâl (harta), maka ada pula zakat fithrah (fithrah artinya khilqah/penciptaan, maksudnya zakat badan/jasad). Fithrah dengan makna khilqah ini terdapat dalam ayat:

(( فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ))

“Fithrah Allah yang diciptakan-Nya manusia di atasnya.” [QS. Ar-Rum [30]: 30]

Makna ini juga disebutkan oleh Ibnu Faris dalam Maqâyisul Lughah (IV/407).

Penamaan ini tidak bisa disalahkan secara mutlak sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ (VI/103), hanya saja memakai nama yang ada nashnya adalah lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat.

«3» Hukum Zakat Fithri

Hukum Zakat Fithri adalah wajib bagi tiap muslim berdasarkan hadits Ibnu Umar yang telah lewat [SB (no. 1503) dan SM (no. 984)], dan karena ia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللّٰهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 8), Shahih Muslim (no. 16), Sunan at-Tirmidzi (no. 2609), Sunan an-Nasa`i (VIII/107-108), dan Musnad Ahmad (II/26, 93, 120, 143), dan Musnad al-Humaidi (no. 703)]

Zakat termasuk dari kewajiban-kewajiban yang disepakati umat dan telah masyhur diketahui dari perkara yang jelas dari agama. Siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia keluar dari Islam dan dibunuh sebagai kafir kecuali jika masih baru masuk Islam, maka dia dimaafkan karena belum tahu hukumnnya. [Al-Wajîz fi Fiqhis Sunnah wal Kitâbil Azîz (hal. 255) oleh al-Badawi]

Siapa yang menolak membayar zakat disertai mampu dan tahu hukumnya, maka orang tersebut diminta bertobat, jika enggan maka diperangi oleh penguasa kaum muslimin, berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللّٰهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى»

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah memelihara harta dan darah mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 25), Shahih Muslim (no. 22), Sunan ad-Daruquthni (I/512, no. 886), dan as-Sunan al-Kubra lil Baihaqi (III/92, 367, VIII/177)]

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: لَمَّا تُوُفِّىَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنَ الْعَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ: كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ، فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ» فَقَالَ: وَاللّٰهِ لأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ، وَاللّٰهِ لَوْ مَنَعُونِى عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا. قَالَ عُمَرُ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ: فَوَاللّٰهِ مَا هُوَ إِلاَّ أَنْ قَدْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَ أَبِى بَكْرٍ رَضَيَ اللّٰهُ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat digantikan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu orang-orang Arab kembali kafir, lalu Umar berkata, ‘Bagaimana Anda akan memerangi manusia (yang enggan menunaikan zakat)? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Aku diperintah Allah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan lâ ilâha illâllâh. Barangisapa mengucapkannya, maka dia telah melindungi harta dan jiwanya dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungannya terserah Allah.’ Abu Bakar menjawab, ‘Demi Allah! Aku benar-benar akan memerangi siapa yang memisahkan antara shalat dan zakat karena zakat adalah hak harta. Seandainya mereka menahan hartanya dariku yang dulu pernah mereka tunaikan kepada Raulullah, benar-benar aku akan memerangi mereka karena keengganan itu.’ Umar berkata, ‘Demi Allah! Tidaklah dia kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memeranginya, sehingga tahulah aku bahwa itulah yang benar.’” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1399 dan 1400) dan Shahih Muslim (no. 20)]

«4» Fungsi Zakat Fithri

Adalah untuk menutupi kekurangan-kekurangan dalam puasa seperti perkataan yang sia-sia dan rafats (perkataan yang menjurus kepada hubungan suami-istri) dan lain-lain yang mengurangi pahala puasa.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan rafats, sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat Id maka ia zakat yang diterima, dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat maka dia manjadi sedekah biasa.” [Hasan: Sunan Abu Dawud (no. 1609), Sunan Ibnu Majah (no. 1827)]

Itulah di antara sebab mengapa zakat orang kafir tidak sah dan tidak diterima, karena fungsi Zakat Fithri sebagai pembersih jiwa dan hal ini tidak pantas bagi orang kafir.

«5» Kepada Siapa Zakat Diwajibkan?

Bersambung..


Penulis : Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*