Keutamaan Al-Qur`an dan Kedudukannya dalam Syariat Islam (Bagian 2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf, Tsaqafah 0 Comments

Lanjutan dari: Keutamaan Al-Qur`an dan Kedudukannya dalam Syariat Islam (Bagian 1)

Al-Qur’an Mengandung Ilmu yang Luar Biasa

Di antara keunggulan Al-Qur`an juga, bahwa Allah menjadikan gaya bahasanya mengandung mukjizat, sekalipun kitab-kitab lain juga mengandung mukjizat dari segi pemberitaan tentang yang gaib dan hukum-hukum, namun gaya bahasanya biasa-biasa saja, maka dari segi ini Al-Qur`an lebih unggul. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah:

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf: 4)

Dan firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya, Fadhailul Quran (keutamaan-keutamaan Al-Qur`an) halaman 102-123, mengatakan: “Hal ini mereka raih berkat Al-Qur`an yang agung, yang mana Allah telah memuliakannya dari semua kitab yang pernah diturunkan-Nya, dan Dia jadikan sebagai batu ujian, penghapus dan penutup bagi kitab-kitab sebelumnya, karena semua kitab terdahulu diturunkan ke bumi dengan sekaligus, sedangkan Al-Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang terjadi, demi untuk menjaganya dan menghargai orang yang diberi wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur`an turun, seperti keadaan turunnya kitab-kitab sebelumnya.”

Kitab yang mulia ini telah mengungkap banyak sekali kebenaran ilmiah kosmos, dalam ayat-ayat yang membuktikan wujud Allah, kekuasaan dan keesaan-Nya. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiyaa [21]: 30)

Al-Qur`an juga menganjurkan agar memanfaatkan apa yang dapat ditangkap oleh indra mata dalam kehidupan sehari-sehari dari ciptaan Allah, sebagaimana difirmankan: “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus [10]: 101) Dan Allah berfirman: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Jaatsiah: 13)

Kaum Muslimin hendaknya mempelajari ilmu-ilmu alam, serta menikmati manfaat dari kekuatan-kekuatan yang tersimpan di langit dan bumi.

Hendaklah Senantiasa Merenungi Al-Qur’an

Sesungguhnya pembicaraan tentang Al-Qur`an tidak akan ada habis-habisnya. Al-Qur`anlah yang menganjurkan kaum Muslimin untuk bersikap adil dan bermusyawarah, dan menanamkan kepada mereka kebencian terhadap kezaliman dan tindakan semena-mena. Syiar para pemeluknya adalah kekuatan iman, tidak sombong, solidaritas dan bersikap kasih sayang antara sesama mereka.

Hendaknya kita hidup dengan Al-Qur`an, membaca, memahami, mengamalkan dan menghafal. Hidup dengan Al-Qur`an adalah perbuatan yang paling terpuji, yang patut dilakukan oleh orang Mu’min. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan Shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30)

Dalam dua ayat tersebut di atas, Allah menganjurkan bagi orang-orang yang membaca Al-Qur`an agar disertai dengan perenungan, sehingga akan menimbulkan pengetahuan yang pada gilirannya akan menimbulkan pengaruh. Tidak diragukan lagi bahwa pengaruh membaca Al-Qur`an adalah melaksanakan dalam bentuk perbuatan.

Oleh karena itu Allah iringi amalan membaca Al-Qur`an dengan mendirikan Shalat, menafkahkan sebagian rezki yang dikarunia Allah secara diam-diam dan terang-terangan, kemudian dengan demikian orang-orang yang membaca Al-Qur`an itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Mereka mengetahui bahwa karunia Allah lebih baik dari apa yang mereka infakkan. Oleh karena mereka mengadakan perniagaan di mana Allah menambahkan karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih, mengampuni kelalaian, dan berterima kasih atas pelaksanaan tugas.

Oleh karena itu kita harus selalu membaca Al-Qur`an dengan perenungan dan kesadaran, sehingga dapat memahami Al-Qur`an secara mendalam. Bila seorang pembaca Al-Qur`an menemukan kalimat yang belum dipahami, hendaknya bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan. Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)

Pelajarilah Al-Qur’an

Mempelajari Al-Qur`an sangat diperlukan. Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat), dan barang siapa amalnya kurang, tidak dapat ditambah oleh nasabnya. (Diriwayatkan oleh Muslim, 2699)

Sabda Rasul dalam hadits ini, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah”, “Rumah” di sini bukanlah batas, terbukti dengan sebuah hadits riwayat Muslim yang lain yang mengatakan: “Tidaklah suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan akan diliputi oleh para malaikat….” Jika berkumpul di tempat lain, selain rumah Allah (Masjid) maka bagi mereka keutamaan yang sama dengan mereka yang berkumpul di Masjid. Pembatasan “di rumah Allah” dalam hadits di atas, hanyalah karena seringnya tempat itu dijadikan tempat berkumpul, akan tetapi tidak ada keharusan. Berkumpul untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur`an dan kandungan hukumnya, di mana pun tempatnya akan mendapatkan keutamaan yang sama. Adapun jika berkumpul untuk belajar di masjid lebih utama, hal itu dikarenakan masjid mempunyai keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh tempat yang lain.

Diriwayatkan oleh Ibnu Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur`an, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf. (HR. At-Tirmizi no. 3075)

Dari Usman bin Affan Radhiyalallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 4739)

Hadis ini menunjukkan akan keutamaan membaca Al-Qur`an. Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Al-Qur`an? Ia berkata, membaca Al-Qur`an, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.”

Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Al-Qur`an selama empat puluh tahun di masjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadits ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadits ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: “Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkan kepada orang lain’ adalah bahwa ini sifat-sifat orang-orang Mu’min yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain. Allah berfirman:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan.” (QS. An-Nahl [16: 88)

Sebagaimana firman Allah: “Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur`an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya.” (QS. Al-An’aam: 158)

Penafsiran yang paling benar dalam ayat ini, dari dua penafsiran ahli tafsir adalah bahwa mereka melarang orang-orang untuk mengikuti Al-Qur`an, sementara mereka sendiri pun menjauhkan diri darinya. Mereka menggabungkan antara kebohongan dan berpaling, sebagaimana firman Allah: “Atau agar kamu (tidak) mengatakan: ‘Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya?’” (QS. Al-An’aam: 157)

 Beginilah perihal orang-orang kafir yang jahat, sedangkan orang-orang Mu’min yang baik dan pilihan selalu menyempurnakan dirinya dan berusaha menyempurnakan orang lain, sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fushilat [41]: 33)

Ayat ini menggabungkan antara seruan kepada Allah, baik dengan azan atau yang lainnya, seperti mengajarkan Al-Qur`an, hadits, fikih dan lainnya yang mengacu kepada keridhaan Allah, dan dengan perbuatan shalih, dan juga berkata dengan ucapan yang baik.

Berlanjut ke: Keutamaan Al-Qur`an dan Kedudukannya dalam Syariat Islam (Bagian 3)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*