Inilah Sibawaih Pakar Nahwu dari Bashrah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf, Sejarah 0 Comments

Silsilah dan Kelahirannya

Dia adalah Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar al-Farisi al-Bashri. Dia bukan orang Arab tetapi keturunan Persia. Tempat kelahirannya di kota Syiraz desa Baidha`, salah satu daerah di Iran sekarang pada tahun 148 H.

Dia adalah imam Bashrah dan hujjah bagi ahli nahwu sesudahnya serta peletak dasar pertama kaidah-kaidah nahwu. Terlebih lagi setelah dia menyelesaikan kitabnya yang legendaris al-Kitab yang menjadi rujukan orang-orang setelahnya.

Guru dan Muridnya

Di antara syaikh-syaikhnya yang termasyhur dalam bahasa dan nahwu adalah al-Khalil bin Ahmad (w. 160 H) , Yunus bin Habib (w. 182 H), Isa bin Umar (w. 149 H), dan Abul Khaththab al-Akhfasy al-Kabir. Dia juga menghadiri majlis Hammad bin Salamah, imam ahli hadits dan bahasa serta guru utama imam Ahmad bin Hanbal.

Di antara murid-muridnya yang menonjol adalah al-Akhfasy al-Ausath, an-Nasi, dan Quthrub.

Tidaklah berlebihan jika keilmuan Sibawaih menonjol karena kota Bashrah menjadi kediaman para ulama baik kalangan sahabat seperti Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik, dari kalangan tabi’in seperti al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan Hammad bin Salamah, dari kalangan bahasa seperti al-Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib, al-Ashmu’i, al-Kisa`i, al-Yazidi, al-Farra`, al-Ahmar, Ibnu Sallam al-Jamha, dan masih banyak lagi.

Ibnu Nuthah berkata:

كُنْتُ عِنْدَ الْخَلِيْلِ بِنْ أَحْمَدَ فَأَقْبَلَ سِيبَوَيْه، فَقَالَ الْخَلِيْلُ: مَرْحَباً بِزَائِرٍ لَا يَمَلُّ

“Aku berada di sisi al-Khalil bin Ahmad lalu datang Sibawaih lalu al-Khalil berkata, ‘Selamat datang pengunjung yang tidak akan dikecewakan.’”

Abu Umar al-Makhzumi –seorang yang selalu menghadiri majlis al-Khalil– berkata:

مَا سَمِعْتُ الْخَلِيْلَ يَقُولُهَا لِأَحَدٍ إِلَّا لِسِيبَوَيْهَ

“Aku tidak penah mendengar al-Khalil berkata kepada seorang pun (di majlisnya) kecuali kepada Sibawaih.”

Ciri Fisik dan Karakternya

Al-‘Isyi berkata:

كُنَّا نَجْلِسُ مَعَ سِيْبَوَيْهَ فِي الْمَسْجِدِ، وَكَانَ شَابّاً جَمِيلاً نَظِيفاً، قَدْ تَعَلَّقَ مِن كُلِّ عِلْمٍ بِسَبَبٍ، وَضَرَبَ بِسَهْمٍ مِن كُلِّ أَدَبٍ مَعَ حَدَاثَةِ سِنِّهِ

“Kami pernah duduk bersama Sibawaih di masjid. Dia seorang pemuda yang tampan dan rapi. Terkumpul baginya semua ilmu dan adab padahal usianya masih muda.”

Ibrahim al-Harbi berkata:

سُمِّيَ سِيبَوَيه لِأَنَّ وَجْنَتَيْهِ كَانَتَا كَأَنَّهُمَا تُفَّاحَتَانِ، وَكاَنَ فِي غَايَةِ الْجَمَالِ، رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى

“Dinamakan Sibawaih karena kedua pipinya seperti dua apel, dan dia sangat rupawan. Semoga Allah merahmatinya.”

Ibnu Khalawaih berkata, “Setiap kali orang bertemu dengannya mencium bau harum. Oleh karena itu, dia dipanggil Sibawaih. Si artinya tiga puluh dan Bawaih artinya harum –dalam bahasa Persia–. Jadi, seakan-akan artinya tiga puluh aroma harum.”

Sibawaih dan Keilmuannya

Awalnya dia belajar hadits dan fiqih. Dia sering menghadiri majlis Hammad bin Salamah. Suatu hari, Hammad menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي إِلَّا لَوْ شِئْتُ أَخَذْتُ عَلَيْهِ، لَيْسَ أَبَا الدَّرْدَاءِ»

Kemudian Sibawaih menyanggah:

لَيْسَ أَبُو الدَّرْدَاءِ

Dia menyangka Abu Darda` sebagai isim laisa. Maka berkatalah gurunya, “Kamu telah melakukan lahn hai Sibawaih. Bukan itu yang aku maksud. Laisa di sini sebagai istitsna`. Sibawaih berkata, “Aku akan belajar bahasa dulu agar tidak terkena lahn lagi.” Lalu, dia bermulazamah kepada al-Khalil bin Ahmad.

Yahya al-Barmaki seorang menteri Harun ar-Rasyid pernah mempertemukan Sibawaih dengan al-Kisa`i untuk berdebat saat kunjungannya ke Baghdad. Majlis itu dihadiri al-Farra`, Sa’id al-Akhfasy, dan lainnya. Mereka membahas masalah zunburiyah. Kemudian perdebatan dimenangkan oleh Sibawaih lalu diberi hadiah oleh al-Barmaki sebayak 10.000 dirham.

Kisah ini secara lengkap dicantumkan oleh Yaqut al-Hamawi (w. 626 H) dalam kitab biografinya bahwa Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah, al-Mubarrid, dan Tsa’lab berkata, “Sibawaih datang ke Iraq lalu disambut oleh Yahya bin Khalid al-Barmaki dan menanyakan kabarnya. Sibawaih berkata, ‘Datangkan dan pertemukan antara saya dan al-Kisa`i.’ Dia berkata, ‘Jangan lakukan. Dia adalah syaikhnya negeri ini dan syaikhul qura`nya, pengajar anak Amirul Mukminin, semua orang di negeri ini berpihak padanya dan menghormatinya.’ Dia pun enggan mempertemukan mereka berdua lalu kabar ini sampai ke Harun ar-Rasyid lalu memerintahkan agar mereka berdua dipertemukan di suatu hari yang telah ditentukan. Ketika datang hari itu, Sibawaih datang sendirian ke kediaman ar-Rasyid. Di sana dia menjumpai al-Farra`, al-Ahmar, Hisyam bin Muawiyah, dan Muhammad bin Sa’dan yang telah mendahuluinya. Al-Ahmar memberi 100 pertanyaan kepadanya dan tidaklah dijawab oleh Sibawaih melainkan dia berkata, ‘Kamu salah, wahai orang Bashrah!’ Sibawaih jengkel dan berkata, ‘Tak punya adab!’

Kemudian datanglah al-Kisa`i dengan antusias bersama sekelompok orang arab. Ketika duduk, dia berkata, ‘Hai orang Bashrah, bagaimana pendapatmu tentang kalimat:

خَرَجْتُ وَإِذَا زَيْدٌ قَائِمٌ

Sibawaih menjawab, ‘Boleh juga dibaca خَرَجْتُ فَإِذَا زَيْدٌ قَائِماً.’

Al-Kisa`i menyanggah, ‘Tidak boleh! Lalu bagaimana pendapatmu tentang kalimat:

قَدْ كُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ الْعَقْرَبَ أَشَدُّ لَسْعَةً مِنَ الزُّنْبُوْرِ، فَإِذَا هُوَ هِيَ، أَوْ فَإِذَا هُوَ إِيَّاهَا؟

Sibawaih menjawab, ‘Yang benar هِي dan tidak boleh dimanshub.’ Al-Kisa`i berkata, ‘Kamu salah!’ Orang-orang ikut menyalahkan Sibawaih. Al-Kisa`i berkata, ‘Orang-orang Arab membolehkan dirafa’ dan dinashab.’ Sibawaih membantah pendapatnya lalu berkatalah Yahya bin Khalid, “Kalian berdua telah berselisih pendapat padahal kalian berdua adalah pembesar bahasa di negeri masing-masing. Lantas, siapakah yang akan diangkat menjadi penengah untuk masalah yang rumit ini?’ Al-Kisa`i berkata, ‘Orang-orang Arab yang berada di depan pintumu ini. Aku telah mendatangkan mereka dari segala penjuru. Mereka paling fasih di antara manusia, dan orang-orang di negeri-negeri telah ridha dengan mereka, orang-orang Kufah dan Bashrah mengambil bahasa mereka.’ Lalu mereka didatangkan dan dimintai pendapat. Di tengah mereka ada Abu Faq’as, Abu Datstsar, dan Abu Tsarwan. Mereka pun bertanya tentang permasalahan al-Kisa`i dan Sibawaih. Tetapi kemudian, mereka mengunggulkan al-Kisa`i.

Yahya mendatangi Sibawaih dan berkata, “Kamu telah mendengarnya, wahai orang Bashrah?” Majlis selesai dan Yahya memberi Sibawaih 10.000 dirham. Usai itu, dia kembali ke Persia.

Abul Husain Ali bin Sulaiman al-Akhfasy berkata, “Dalam masalah ini, para sahabat Sibawaih tidak berselisih bahwa jawaban yang benar sebagaimana pendapat Sibawaih, yaitu:

فَإِذَا هُوَ هِيَ، أَيْ فَإِذَا هُوَ مِثْلُهَا

Karena kedudukannya sebagai marfu` bukan manshub. Adapun kalimat:

خَرَجْتُ فَإِذَا زَيْدٌ قَائِمٌ

Boleh dimanshub. Iyyâ untuk manshub sementara hiyâ untuk marfu’. Untuk penjelasan kedua, lafazh qâiman dimanshub sebagai hâl karena nakirah, sementara iyyâ diidhafahkan dengan kata setelahnya yang ma’rifat. Hâl tidak boleh kecuali harus nakirah, sehinggga batallah iyyaha. Kedudukan iyyahâ tidak boleh kecuali harus sebagai khabar. Khabar boleh nakirah dan ma’rifat, tetapi hâl tidak boleh kecuali harus nakirah. Lantas, bagaimana bisa iyyahâ yang ma’rifat berada di tempat yang tidak boleh kecuali harus nakirah?? Yang benar, iyyahâ harus marfu`.”

Kisah lain. Muhammad bin Salam berkata, “Sibawaih duduk di majlisnya di Bashrah. Dia mengajar sebuah hadits gharib dari Qatadah dan berkata, ‘Mereka tidak mendapatkan hadits ini kecuali dari Sa’id bin Abu al-Arubah.’ Di antara putra Ja’far bin Sulaiman bertanya, ‘Apa maksud dua tambahan ini wahai Abu Bisyr?’ Dia menjawab, ‘Memang seperti itu, karena makna al-Arubah adalah al-Jumuah. Siapa yang mengejanya Arubah –tanpa al– maka dia telah keliru.’ Ibnu Salam berkata, “Lalu hal itu aku laporkan kepada Yunus lalu dia berkata, ‘Dia benar dan biarkan saja dia.’”

Demikianlah kisah-kisah Sibawaih yang mengagumkan. Bagi penulis, ada satu lagi kisah yang paling mengagumkan dari Sibawaih. Dikisahkan bahwa ada seseorang yang datang dari tempat yang jauh untuk mendebat Sibawaih. Dia mendapat kabar tentang kepakaran Sibawaih dalam nahwu dan ingin membuktikannya. Akhirnya, tibalah dia di rumah Sibawaih, hanya saja yang di rumah hanya budaknya sementara Sibawaih sedang keluar. Dia pun menanyakan kapan kepulangan majikannya. Si budak menjawab:

فَاءَ إِلَى الْفَيْءِ فَإِنْ فَاءَ الْفَيْءُ فَاءَ

Maksudnya, majikannya sedang pergi ke suatu tempat dan akan pulang bila matahari sudah mulai tenggelam. Ajib! Untuk mengatakan ini si budak hanya menggunakan satu kata fâ`a! Orang itu pun terheran-heran dan kagum seraya berkata:

وَاللّٰهِ، إِنْ كَانَتْ هَذِهِ الْجَارِيَةَ فَمَاذَا يَكُونُ سَيدَهَا؟؟؟

“Demi Allah! Budaknya saja seperti ini, lantas bagaimana dengan tuannya???”

Al-Kitab yang Legendaris

Kitab terbaik pertama tentang ilmu nahwu adalah al-Kitab yang dikarang oleh Sibawaih.  Belum ada kitab kedua yang menandinginya.

Al-Jahizh berkata:

لَمْ يَكْتُبِ النَّاسُ فِي النَّحْوِ كِتَاباً مِثْلَهُ، وَجَمِيْعُ كُتُبِ النَّاسِ عَلَيْهِ عِيَالٌ

“Belum pernah ada manusia yang menulis kitab nahwu yang sepertinya. Semua kitab manusia berinduk kepadanya.”

Imam adz-Dzahabi berkata, “Dia telah mengarang kitab besar yang tidak tertandingi.”

Al-Jahizh berkata, “Aku pernah berkeinginan menemui Muhammad bin Abdul Malik az-Ziyad menteri Khalifah al-Mu’tashim, lalu aku memikirkan sebuah hadiah untuknya. Aku tidak mendapati hadiah yang paling berharga selain kitab Sibawaih. Saat aku bertemu dengannya, aku katakan padanya, ‘Aku tidak mendapati sesuatu yang bisa aku hadiahkan kepada Anda selain kitab ini. Aku membelinya dari peninggalan al-Farra`. Dia menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada hadiah darimu untukku yang lebih aku sukai daripada ini.’”

Abu Ubaidah berkata, “Ketika Sibawaih wafat, dikatakan kepada Yunus bin Habib,’ Sibawaih telah mengarang sebuah kitab sebanyak seribu lembar dari ilmu al-Khalil.’ Yunus berkata, ‘Kapan Sibawaih mendengar semua ilmu al-Khalil ini? Coba datangkan kitabnya!’ Ketika mengamatinya dia melihat sesuai keyataan lalu berkata, ‘Lelaki ini benar-benar jujur dalam meriwayatkan apa yang datang dari al-Khalil sebagaimana dariku.’”

Saatnya Berpisah

Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata, “Sibawaih meninggal pada tahun 194 H dan usianya 32 tahun. Dia dikebumikan di kota Sâwah.”

Az-Zarkali (w. 1396 H) menyebutkan bahwa Sibawaih lahir tahun 148 H dan meninggal tahun 180 H. Penulis lebih cenderung kepada pendapat ini karena Yunus bin Habib masih hidup saat Sibawaih meninggal sementara Yunus meninggal pada tahun 182 H. Dari sini diperoleh umur Sibawaih ketika wafat adalah 180 – 148 = 32 tahun, sama dengan apa yang disebutkan al-Hafizh.

Ibnu Duraid berkata, “Sibawaih meninggal di Syîraz dan dikebumikan di sana. Allahu alam.” Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan membalas jasa-jasanya.

*Dinukil dari Ada Apa dengan Bahasa Arab? hal. 48-57 Penerbit Pustaka Syabab, cet ke-1 th. 2013 karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730219208.

Artikel http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*