Bahasa Arab Bukan Awal dan Akhir Segalanya

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf, Tsaqafah 0 Comments

Penuntut ilmu yang mendapat petunjuk tidak berhenti saat sudah berada di terminal bahasa Arab. Perjalanan belum selesai.

Ingatlah bahwa bahasa Arab hanyalah wasilah. Kita mempelajarinya untuk tujuan agar bisa memahami dua dasar utama dalam agama kita, yaitu al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur`an, hadits, dan kitab-kitab para ulama berbahasa Arab. Maka, tidak ada jalan untuk bisa memahami semua itu kecuali dengan jalan bahasa Arab ini. Karena alasan inilah kita mempelajari bahasa Arab.

Terkadang setan cerdik memainkan penuntut ilmu dengan menyibukkan dirinya mendalami bahasa sampai ke akar-akarnya, sehingga umurnya habis dan tidak mengenal fiqih dan ilmu-ilmu penting lainnya. Seandainya umur kita panjang penulis suka untuk mempelajari semua ilmu dalam Islam. Hanya saja umur manusia terbatas sementara ilmu seperti samudra tak bertepi. Maka, yang terbaik mendahulukan ilmu yang terbaik dan mendesak, lalu ilmu yang terbaik dari yang terbaik, begitu seterusnya dengan memperhatikan skema prioritas.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) berkata, “Demikian pula berdalam-dalam tentang ilmu bahasa Arab, baik secara percakapan maupun nahwu (tata bahasa) adalah termasuk memalingkan dari ilmu yang lebih penting daripadanya, sedangkan merasa cukup dengan ilmu ini, akan menghalangi seseorang dari ilmu yang bermanfaat.

Qashim bin Mukhaimarah membenci ilmu nahwu dan mengatakan, ‘(Belajar nahwu) mula-mula menyibukkan seseorang dan akhirnya baghyun (zhalim).’ Beliau maksudkan dengannya adalah berdalam-dalam tentang ilmu itu.

Imam Ahmad juga membenci memperdalam bahasa dan hal-hal yang asing di dalamnya. Beliau menginkari Abu Ubaidah yang berdalam-dalam tentang ilmu ini dengan mengatakan, ‘Dia disibukkan dari sesuatu yang lebih penting dari itu.’

Imam Ahmad menyatakan, ‘Sesungguhnya bahasa Arab dalam percakapan itu tak ubahnya seperti garam pada makanan, yakni ambillah daripadanya seperlunya sekedar dapat digunakan untuk percakapan, sebagaimana mengambil garam seperluanya untuk makanan. Adapun lebih dari itu maka dia akan merusak.’” Selesai ucapan Ibnu Rajab.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata, “Semua ilmu terpuji. Hanya saja banyak orang yang habis umurnya untuk mendalami nahwu dan bahasa. Padahal nahwu dan bahasa sekedar untuk memahami kosa-kata asing dalam al-Qur`an dan hadits. Namun, lebih dari itu juga tidak tercela, hanya saja ada yang lebih penting dari hal tersebut.

Adapula orang-orang yang habis umurnya untuk mendalami ilmu-ilmu al-Qur`an dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak begitu penting seperti qira`ah-qira`ah syadz (ganjil) yang masyhur. Umur mereka telah disia-siakan di sini.

Ada pula orang-orang yang habis umurnya untuk mengumpulkan turuqul hadits (jalan-jalan periwayatan). Demi Allah, memang hal ini bagus tetapi mendahulukan yang lain lebih penting.

Kami melihat kebanyakan orang-orang yang disebutkan ini tidak tahu fiqih. Padahal ia lebih penting dan wajib daripada itu. Pencari hadits manapun yang berlebihan dalam mendengar dan menulis, maka dia akan kehilangan masa menghafal. Apabila telah menginjak usia tua, dia tidak mampu menghafal lagi.

Jika Anda ingin mengetahui kemulian fiqih, maka lihatlah kepada kedudukan al-Ashma’i dalam bahasa, Sibawaih dalam nahwu, dan Ibnu Ma’in dalam rijâlul hadîts (para perawi hadits). Berapa kedudukan mereka dibanding dengan kedudukan Ahmad dan asy-Syafi’i dalam fiqih?”[]

*Dinukil dari Ada Apa dengan Bahasa Arab? hal. 133-135 Penerbit Pustaka Syabab, cet ke-1 th. 2013 karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730219208.

Artikel http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*