Asal Penamaan Nahwu dan Sharaf

 

Nahwu secara etimologi minimal memiliki dua makna. Makna yang pertama adalah jihah (arah). Makna ini ditunjukkan dalam sebuah atsar bahwa al-Barra` bin Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:

صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِىِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، ثُمَّ صَرَّفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ

“Kami dahulu shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian beliau memalingkannya ke arah qiblat.”[1]

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

قَامَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ مَسْكَنِ عَائِشَةَ فَقَالَ: «هُنَا الْفِتْنَةُ -ثَلاَثًا- مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ»

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah lalu menunjuk ke arah rumah Aiysah lalu bersabda, ‘Di sanalah fitnah –sebanyak tiga kali– dari tempat muculnya tanduk setan.’[2]

Dari makna ini, batallah anggapan agama Syiah yang menuduh bahwa fitnah tersebut muncul dari rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha, karena lafazh nahwu di sini digunakan untuk arah sehingga maknanya fitnah tersebut muncul di tempat yang searah dengan rumah Aisyah, bukan di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Makna kedua adalah mitsal (seperti/contoh). Makna ini ditunjukan oleh sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِى هَذَا  ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barangsiapa berwudhu seperti/mencontoh wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka dosanya yang telah lalu diampuni.”[3]

Dengan makna ini, kata nahwu sering dipakai oleh sebagian pakar bahasa Arab saat membawakan contoh sebuah pembahasan pada kitab-kitab mereka.

Adapun secara terminologi, al-Jurjani[4] (w. 816 H) mendefinisikan:

النَّحْوُ هُوَ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ التَّرَاكِيبِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الْإِعْرَابِ وَالْبِنَاءِ وَغَيْرِهِمَا

“Nahwu adalah ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan susunan kalimat bahasa Arab baik i’rabnya, bina`nya, atau selainnya.”[5]

Apa hubungan lafazh ini dengan bahasa Arab sehingga salah satu disiplin ilmu ini disebut ilmu nahwu? Berikut jawabannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata, “Ilmu nahwu bukan termasuk ilmu nubuwwah (kenabian) tetapi ilmu yang didapat dengan hasil istinbat. Ia merupakan wasilah (sarana) untuk menghafal (memahami) bahasa yang dengannya al-Qur`an diturunkan. Pada zaman tiga Khulafa’ ar-Rasyidin belum terjadi lahn[6] sehingga belum membutuhkan ilmu tersebut. Diriwayatkan bahwa ketika Ali radhiyallahu ‘anhu menetap di Kufah dan di sanalah terjadi pencampuran bahasa, beliau berkata kepada Abu al-Aswad ad-Du`ali:

الْكَلَامُ اسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ، انْحُ هَذَا النَّحْوَ!

‘Kalam berupa isim, fi’il, dan huruf. Ikutilah arah (contoh/pedoman) ini!’

Maka, dia pun melaksanakannya karena kebutuhan. Begitu pula orang-orang setelah Ali mulai merintis pemakaian jenis huruf, tanda titik, syakal (tanda baca), tanda mad, tasydid, dan semisalnya karena kebutuhan. Setelah itu ilmu nahwu berkembang di negeri Kufah dan Bashrah, sementara al-Khalil merintis ilmu arudh[7].”[8]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu al-Aswad ad-Du`ali (w. 69 H) diperintahkan untuk mengembangkan kaidah-kaidah bahasa Arab yang sebelumnya telah dibuat Ali bin Abi Thalib (w. 40 H). Setelah selesai, diperlihatkannya rumusan-rumusan kaidah bahasa Arab itu kepada Ali, lalu Ali memuji rumusannnya:

مَا أَحْسَنَ هَذَا النَّحْوَ الَّذِي نَحَوْتَ!

“Alangkah bagusnya nahwu yang kamu rumuskan ini!”

Dari sinilah mengapa disiplin ilmu bahasa Arab ini disebut nahwu.[9]

Perumusan kaidah-kaidah nahwu semakin mendesak untuk dilaksanakan, yaitu saat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mendapat laporan dari Abul Aswad ad-Du`ali tentang beberapa orang yang lahn dalam berbahasa Arab dan membaca al-Qur`an. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sha’sha’ah bin Shuhan berkata, “Orang Arab datang kepada Ali bin Abi Thalib lalu berkata, ‘Assalamualaika wahai Amirul Mukminin, bagaimana Anda membaca ayat ini (لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطُونَ)[10]? Demi Allah, padahal setiap orang melangkah.’ Ali radhiyallahu ‘anhu tersenyum dan berkata, ‘Hai orang Arab bacalah (لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ)[11].’ Dia berkata, ‘Demi Allah, Anda benar wahai Amirul Mukminin. Allah pasti menyelamatkan hamba-Nya.’ Kemudian Ali pergi menemui Abul Aswad ad-Daili[12] lalu berkata, ‘Sesungguhnya orang-orang ajam banyak yang masuk Islam, maka rumuskanlah sesuatu untuk manusia yang digunakan untuk meluruskan bahasa mereka.’ Dari sini dirumuskan rafa`, nashab, dan khafadz/jer.”[13]
  2. Diriwayatkan Abul Aswad ad-Du’ali mendengar seorang qari membaca ayat:

«أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ»

Dengan mengkasrahkan huruf lam yang seharusnya didhammah. Sehingga artinya berubah, “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya.” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya kalimat tersebut dibaca:

 “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”[14] [15]

Dalam riwayat lain terjadi pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Abi Malikah berkata, “Orang Arab datang ke Madinah pada masa Umar lalu berkata, ‘Siapakah kiranya yang mau membacakan kepadaku apa yang telah diturunkan kepada Muhammad?’ Lalu seorang lelaki membacakan kepadanya surat Bara’ah:

«أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ»

Orang Arab itu berkata, ‘Sungguh Allah berlepas diri dari Rasul-Nya. Bila Allah berlepas dari dari Rasul-Nya maka aku pun berlepas diri darinya.’ Ucapan ini sampai kepada Umar lalu Umar memanggilnya dan bertanya, ‘Hai orang Arab, apakah kamu berlepas diri dari Rasul-Nya?’ Dia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku mendatangi orang-orang musyrik tanpa sepengetahuanku lalu aku meminta siapa yang mau membacakan untukku lalu seseorang membacakan untukku surat ini (أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ), lalu aku berkata, ‘Sungguh Allah berlepas diri dari Rasul-Nya. Bila Allah berlepas diri dari Rasul-Nya maka aku pun berlepas diri darinya.’ Umar berkata, ‘Bukan seperti itu wahai orang Arab.’ Dia bertanya, ‘Lantas bagaimana yang sebenarnya wahai Amirul Mukminin?’ Umar menjawab, ‘(أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ).’ Orang Arab itu berkata, ‘Demi Allah, aku akan berlepas diri kepada siapa yang Allah dan Rasul-Nya berlepas diri.’ Kemudian Umar melarang membaca al-Qur`an kecuali siapa yang berilmu bahasa Arab.”[16]

  1. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abul Aswad ad-Du`ali (w. 69 H) menemui putri-putrinya di rumah lalu seorang dari mereka berkata:

يَا أَبَتِ، مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ. فَقَالَ: يَا بُنَيَّة نُجُومُهَا. فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي لَمْ أُرِدْ أَيْ شَيْءٍ مِنْهَا أَحْسَنَ، إِنَّمَا تَعَجَّبْتُ مِنْ حُسْنِهَا. فَقَالَ: إِذَنْ فَقُولِي مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ

“Wahai ayahanda, ‘Apa yang paling indah di langit.’” Dia menjawab, “Wahai ananda, bintang-bintangnya.” Putrinya berkata, “Bukan maksudku mana yang paling indah, tetapi aku takjub akan keindahannya.” Dia berkata, “Kalau begitu ucapkan (مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ) betapa indah langit itu!”[17]

Sebagaimana kisah Musa ‘alaihis salam berputar-putar dengan tongkatnya, Yusuf ‘alaihis salam dengan bajunya, dan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dengan al-Qur`annya, maka nahwu berputar-putar dengan i’rabnya: marfu’, manshub, majrur, dan majzum. Ilustrasi mudahnya seperti ini:

Muhammad datang جآءَ مُحَمَّدٌ
Aku melihat Muhammad رَأَيْتُ مُحَمَّدًا
Aku melewati Muhammad مَرَرْتُ بِمُحَمَّدٍ

Dari contoh di atas, ternyata lafazh «مُحَمَّد» terdapat tiga variasi bacaan: marfu’ (dhammah), manshub (fathah), dan majrur (kasrah). Inilah yang disebut i’rab dan dipelajari dalam ilmu nahwu (gramatika).

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata:

كَانُوْا الْحُرُوْفَ الثَّلَاثَةَ. قُلْنَا: وَمَا الْحُرُوْفُ الثَّلَاثَةُ؟ قَالَ: الْجَرُّ وَالرَّفْعُ وَالنَّصْبُ

“(I’rab) itu ada tiga huruf.’ Kami bertanya, “Apa tiga huruf itu?” Dia menjawab, “Jarr, rafa’, dan nashab.’”[18]

  1. Asal Penamaan Sharaf

Sharaf atau sharf secara etimologi artinya berpaling atau berpindah. Selain sharaf, dikenal pula istilah tashrif. Ibnu Manzhur berkata:

الصَّرْفُ رَدُّ الشَيْءِ عَنْ وَجْهِهِ

“Sharaf adalah membalik sesuatu dari wajahnya/asalnya.”[19]

Allah Ta’ala berfirman[20]:

Maksudnya, mereka balik berpaling dari tempat pembicaraan. Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Ayat ini merupakan pemberitaan dari Allah tentang orang-orang munafik, bahwa apabila satu surat diturunkan kepada Rasulullah mereka saling menoleh dengan mengatakan, ‘Apakah ada orang (dari kaum muslimin) yang melihatmu?’ Kemudian mereka berpaling dari kebenaran. Di dunia mereka tidak teguh dalam memegang kebenaran, tidak menerimanya, dan tidak memahaminya.”[21] Sebagai balasannya, Allah memalingkan hati mereka kepada kesesatan dan memberikan keluasan padanya, dari keadaan mengucapkan keimanan sebelumnya.

Sedang secara terminologi, al-Jurjani (w. 816 H) mendefinisikan:

الصَّرْفُ عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ الْكَلِمِ مِنْ حَيْثُ الْإِعْلاَلِ

“Sharaf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan kalam dari sisi i’lal.”[22]

Mengenai awal penamaan ini, penulis belum menemukan penjelasan yang bisa dirujuk. Yang jelas, disiplin ilmu ini disebut ilmu sharaf karena mempelajari kosa kata-kosa kata yang dipalingkan/dikembangkan atau dibuat dari satu akar kata.

Ilustrasinya seperti ini. Ada kata تَحْمِيْد، مُحَمَّد، حَامِد، حَمْد، أَحْمَدُ، مَحْمُوْدٌ. Ternyata semua kata ini dipalingkan atau dibuat dari satu akar kata حَمِدَ. Dari sinilah mengapa disiplin ilmu ini disebut sharaf, karena mempelajari bentuk-bentuk kejadian suatu kata (morfologi).

Demikianlah sejarah penamaan nahwu dan sharaf. Dua disiplin ilmu ini amat penting dalam bahasa Arab yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh ditinggal oleh penuntut ilmu bahasa. Jumlah keseluruhan fan/disiplin bahasa Arab ada 12, yaitu al-lughât (kosa-kata), an-nahwu (gramatika), ash-sharf (morfologi), al-isytiqâq (pecahan kata), al-ma’ani (semantik), al-bayan, al-arudh (prosadi), al-qâfiyah, al-qardhu ays-syi’ri, al-khat (kaligrafi), al-insya’ (karang-mengarang), dan al-muhadharah (ceramah).[23] Allahu a’lam.[]

 

Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.ID


[1] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4492) dan Muslim (no. 525).

[2] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3104) dan Muslim (no. 2905).

[3] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 159) dan Muslim (no. 226) dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

[4] Az-Zarkali menyebutkan dalam al-A’lâm (II/115) bahwa ada 12 orang yang bernama al-Jurjani berikut tahun wafatnya. Adapun al-Jurjani di sini adalah Ali bin Muhammad al-Jurjani.

[5] At-Ta’rîfât (no. 1541, hal. 308) oleh al-Jurjani.

[6] Kesalahan dalam berbahasa Arab baik karena salah ucap atau salah i’rab. Akan datang penjelasannya pada bab khusus insya Allah.

[7] Ilmu tentang kaidah-kaidah syair Arab.

[8] Minhâjul Muslim an-Nabawiyyah (VII/388) oleh Ibnu Taimiyyah.

[9] Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ` (IV/82) oleh adz-Dzahabi.

[10] “Tidak ada yang memakannya (darah dan nanah) melainkan orang yang melangkah.” Orang itu salah baca. (الْخَاطُونَ) artinya “orang yang melangkah” sementara (الْخَاطِئُونَ) artinya “orang yang salah” dan ini yang benar.

[11] QS. Al-Haqqah [69]: 37.

[12] Ahli tarajjum (sejarah/biografi) membacanya dengan dua cara ad-Du`ali dan ad-Daili.

[13] Syu’abul Iman (no. 1561) oleh al-Baihaqi.

[14] QS. At-Taubah [9]: 3.

[15] Lihat Wafayâtul A’yân (II/537) oleh Ibnu Khallikan dan Akhbârun Nahwiyyin (hal. 1) oleh Abu Thahir al-Muqri’.

[16] Sababu Wadh’i Ilmil Arabiyyah (hal. 30) oleh Imam as-Suyuthi.

[17] Wafayâtul A’yân (II/537) oleh Ibnu Khallikan, Târîkhul Ulamâ` an-Nahwiyyin (I/15) oleh at-Tanukhi, Sababu wadh’i Ilmil Arabiyyah (hal. 53) oleh Imam as-Suyuthi, Akhbârun Nahwiyyin (hal. 2) oleh Abu Thahir al-Muqri’, dan Inbâhur Ruwât ‘ala Anbâhin Nuhât (I/52) oleh Jalaluddin al-Qifthi.

[18] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwi (no. 1075) oleh al-Khathib al-Baghdadi. Demikian yang tercantum kânû. Barangkali yang benar kânat dengan al-hurûfû marfu’ isim kânât karena salah cetak.

[19] Lisânul Arâb (IX/189) oleh Ibnu Manzhur.

[20] QS. At-Taubah [9]: 127.

[21] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/240).

[22] At-Ta’rifât (no. 864, hal. 174) oleh al-Jurjani.

[23] Lihat Hasyiyah ash-Shabhân (I/16) oleh Muhammad bin Ali ash-Shabhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *