Untuk Mahasiswa Teknik yang Ingin Mendalami Agama

Norkandir Mutiara Faidah 2 Comments

Ahli hikmah berkata, “Engkau mengharapkan kesuksesan tetapi engkau tidak menempuh jalan-jalannya. Sesungguhnya, kapal itu tidak akan pernah berlayar di padang pasir.” Sesungguhnya, bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab. Dan agama kita adalah Al-Qur’an itu sendiri. Maka, tidak ada jalan lain bagi kita untuk memahaminya melainkan dengan bahasa Arab. Sungguh, para Salaf terdahulu amat memperhatikan bahasa Arab bahkan merupakan aib bagi mereka bila tidak bisa bahasa Arab.

Imam Ibnu Syaibah dalam kitab Al-Mushonnaf menukil sebuah riwayat bahwa Umar bin Khoththob a pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-`Asy`ari a: Amma ba’du. Belajarlah kalian as-Sunnah dan belajarlah kalian bahasa Arab.” Dalam riwayat lain Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Pelajarilah oleh kalian bahasa Arab karena sesungguhnya bahasa Arab itu adalah bagian dari agama kalian.”

Murid senior Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dari kalangan tabi’in yang bernama Mujahid Rahimahullah, berkata, “Tidaklah halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir berbicara tentang Kitabulloh padahal dia tidak pandai bahasa Arab.”

Imam Malilk Rahimahullah berkata, “Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang tidak pandai bahasa Arab tetapi berani menafsirkan Kitabulloh melainkan aku akan menghukumnya.”

Imam asy-Syafi`i Rahimahullah berkata, “Aku menghendaki memperlajari bahasa Arab agar ia membantuku dalam memahami fiqih.”

Syaikh Al-Albani Rahimahullah berkata, “Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak mungkin keduanya bisa difahami, tidak pula cabang-cabang keduanya, kecuali dengan jalan bahasa Arab.”

Kita telah mengetahui tentang perhatian para ulama salaf dalam bahasa Arab. Namun jauh sebelum itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk memperlajarinya sebagaimana yang terpahami secara eksplisit dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab itu berupa Al-Qur’an agar mereka memikirkannya.”[1]

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang ma’rifatulloh. Ilmu ini dan orang yang memperjarinya adalah terpuji. Sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu tersebut adalah terpuji pula. Sementara, sebaik-baik Kitab yang mengenalkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Qur’an dan sarana untuk mempermudah memahami makna-maknanya adalah bahasa Arab. Maka, bahasa Arab dan orang yang memperlajarinya terpuji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah tatkala membawakan surat Yusuf ayat 2 ini berkata,

وَذَلِكَ لِأَنَّ لُغَةَ الْعَرَبِ أَفْصَحُ الْلُغَاتِ وَأَبْيَنُهَا وَأَوْسَعُهَا وَأَكْثَرُهَا تَأْدِيَّةً لِلْمَعَانِي الَّتِي تَقُوْمُ بِالنُّفُوْسِ فَلِهَذَا أَنْزَلَ أَشْرَفَ الْكُتُبِ بِأَشْرَفِ اللُّغَاتِ عَلَى أَشْرَفِ الرُّسُلِ بِسَفَارَةِ أَشْرَفِ الْمَلاَئِكَةِ وَكاَنَ ذَلِكَ فِي أَشْرَفِ بَقَاعِ الْأَرْضِ وَابْتَدَىءَ إِنْزَالُهُ فِي أَشْرَفِ شُهُوْرِ السَّنَةِ وَهُوَ رَمَضَانُ فَكَمْلٌ مِنْ كُلِّ الْوُجُوْهِ.

“Yang demikian itu karena sesungguhnya bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak kandungan makna-maknanya sehingga lebih menyentuh hati. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab yang paling mulia dengan bahasa yang paling mulia kepada rosul yang paling mulia lewat perantara malaikat yang paling mulia di tempat yang paling mulia dan permulaan turunlah di bulan yang paling mulia yaitu bulan Romadhon. Maka, ini adalah kesempurnaan dari berbagai segi.”[2]

Termasuk syubhat setan adalah perkataannya, “Tundalah dulu. Jangan menghafal Al-Qur’an sebelum kamu mempelajari bahasa Arab. Jika engkau telah menguasai bahasa Arab maka dengan mudah engkau bisa menghafal Al-Qur’an bahkan dalam satu hari engkau bisa menghafal satu surat! Ini adalah pencapaian yang luar biasa tanpa banyak memeras otak karena engkau telah tahu kosa-kata dan uslub-uslub tata bahasanya.” Hendaklah dia berta`awwud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menolak was-was setan itu. Yang benar, hendaklah beriringan antara keduanya. Belajar bahasa Arab sambil menghafal Al-Qur’an. Yakinlah, hari esok belum tentu harinya.

Dia bisa memilih kitab mana yang dia suka, misalnya: kitab Ajurumiyyah, Durusul Lughoh li Ghoirin Naatiqin, atau Nahwul Wadhih. Adapun Syaikh Utsaimin Rahimahullah menganjurkan bagi penuntut ilmu pemula mempelajari Ajurumiah karena bahasa lugas, singkat, padat faedah dan bagus untuk dihafal. Untuk shorof, bisa membelajari kitab Tashrif Amtsilati.  Allohu’ Alam.

Sesungguhnya belajar itu membutuhkan tadarruj (setahap demi setahap). Begitu pula dalam menghafal Al-Qur’an. Maka, dia membutuhkan kesabaran dalam menghafalnya. Di antara manusia ada yang semangatnya menggebu-gebu saat di awalnya tapi menurun drastis setelah berlalu bererapa masa. Hal ini karena ia terlalu tergesa-gesa ingin cepat hafal, sehingga apabila hal ini tidak tercapai, maka futur dan rasa bosan menimpanya. Sesungguhnya para shohabat Radhiyallahu ‘Anhu menghafal 5 ayat-ayat dan tidak melanjutkan ke ayat berikutnya kecuali jika sudah benar-benar faham dan mengamalkannya. Hendaknya para penghafal meniru mereka sebisa mungkin sehingga futur dan rasa bosan bisa dimimalisirkan. Yang sedikit tapi berkesinambungan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada yang banyak tapi hanya sekali-dua kali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Janganlah kamu gerakkan lisanmu (dalam membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”[3]

Di antara hal yang perlu diperhatikan bagi penghafal Al-Qur’an adalah menjauhi segala yang mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang terbiasa dengan dosa dan maksiat tidak dapat memahami dan berintraksi dengan Al-Qur’an. Dosa dan maksiat merupakan sumber hilangnya hafalan. Sebab, tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum dan mengadzab suatu kaum kecuali karena ulah mereka sendiri dari dosa-dosa dan maksiat-maksiat yang mereka kerjakan tanpa meyesal dan tobat kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Dan musibah apa pun yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”[4]

Perkara ini dipahami betul oleh Imam asy-Syafi’i Rahimahullah dalam sebuah tarbiyah yang diajarkan oleh gurunya, Waki’ Rahimahullah, tentang pengalaman pribadinya. Imam asy-Syafi’i Rahimahullah merupakan sosok yang sangat terkenal dengan daya ingat dan hafalan yang sangat kuat serta menakjubkan. Beliau bisa menghafal dengan hanya sekali melihat. Namun, pada suatu hari beliau merasa hafalannya tersendat dan tidak seperti biasanya. Sehingga, beliau pun pergi menemui gurunya, Imam Waki Rahimahullah dan mengadukan perihal hafalannya yang tersendat. Maka, Imam Waki’ Rahimahullah memberikan nasehat kepada muridnya, “Sesungguhnya demikian itu kembali kepada dirimu sendiri. Barangkali kamu pernah melakukan suatu dosa, sehingga dosa itu mempengaruhi kekuatan hafalan dan daya ingatmu.”

Imam asy-Syafi`i Rahimahullah pun mengevaluasi diri. Akhirnya, beliau teringat bahwa pada suatu hari beliau secara tidak sengaja melihat betis seorang perempuan karena pakaian roknya terhembus angin. Beliau pun berkesimpulan bahwa itulah dosa yang meracuni kekuatan hafalan dan daya ingatnya. Maka, beliau melatunkan beberapa bait syair yang sangat indah, berkesan, serta penuh makna dan hikmah.

Aku mengadukan perihal buruknya hafalanku kepada Waki’

Beliau menasehatiku agar meninggalkan maksiat

Beliau berkata padaku, “Ilmu adalah cahaya.

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

 


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

[1] QS. Yusuf [12]: 2.

[2] Tafsir Ibnu Katsir (IV/365-367).

[3] QS. Al-Qiyaamah [75]: 16-19.

[4] QS. Asy-Syuuroo [42]: 30.

Rekomendasi Artikel

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*