Jihad Melawan Hawa

Abu Musa al-Fadaniy Mutiara Faidah 0 Comments

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- bersada,

 

“Ada tiga hal penghancur (agama seseorang), yaitu kikir yang ditaati, hawa yang diikuti, dan ujubnya seseorang dengan dirinya”

[Hadits Shahih riwayat al Baihaqi, di dalam Syu’abul Iman, dan dihasankan oleh Al Albani]

Sebagian kaum muslimin yang selalu saja tunduk terkulai akibat tak berdaya menghadapi Hawanya, tak jarang berputus asa kemudian berdoa kepada Allah -Ta’ala- agar hawanya dicabut saja dari diri yang gemar bermaksiat tersebut. Hal  demikian tidak tepat.

Ketahuilah saudaraku,
titik persoalannya BUKAN  pada ada atau tidak adanya hawa, karena semua orang memiliki hawa, namun titik persoalannya yaitu pada menahan hawa. Bukankah orang-orang yang shalih lagi mukhlish juga memiliki hawa ? Namun bedanya, mereka melepaskan hawanya dengan cara yang Allah -Ta’ala- ridhai.

Bagi seorang muslim yang hanif, ia akan berjuang mati-matian untuk menahan hawanya, bahkan tak cukup hanya sekedar menahan, namun ia juga akan melawan ‘harimau syahwat’ yang senantiasa mengintai dirinya, harimau yang selalu mencari celah untuk menerkam leher tuannya, tatkala iman tuannya sedang lemah. Sehingga tatkala hawanya berhasil menyulut gejolak syahwat dari muslim yang hanif tersebut, maka menangislah muslim tersebut kepada Rabbnya sembari mengucapkan;

Ya Rabb, hamba lawan syahwat ini hanya untuk Engkau, hanya untuk meraih keridhaan-Mu ya Rabb, kupersembahkan perjuangan ini hanya untuk mendapatkan surga-Mu Ya Rabb

Allah  -‘Azza Wa Jalla- berfirman di dalam surat An-Naziat (40-41);

وأمّا من خاف مقام ربّه ونهى النفس عن الهوى
[Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya, dan menahan dirinya dari hawa]

فإنّ الجنة هي المأوى
[
Maka sesungguhnya surga lah yang  akan ia peroleh]

Disebutkan bahwa salah seorang ahli ibadah dari generasi Tabi’in,  tatkala tetiba syahwatnya bergejolak, maka langsung ia nyalakan lilin, kemudian ia bakar ujung jarinya menggunakan api lilin tersebut, sehingga ia pun merasa kesakitan. Kalau masih belum jua reda gejolak syahwatnya, maka ia ulangi lagi hal demikian sembari mengucapkan,

“Wahai diri ! Wahai jiwa !

Api lilin ini yang begitu kecil saja engkau tidak kuat menahan sakitnya,

Lantas bagaimana pula dengan api neraka yang sangat besar  ?!!

Lantas bagaimana pula dengan adzab Allah -Ta’ala- ?!!

Kemana engkau akan lari dari adzab Allah -Ta’ala- ?!!”

Ketika masih  menggelegar juga hawanya, ia bakar terus ujung jarinya sembari mengucapkan,

“Tidak wahai jiwa ! Tidak wahai diri !

Engkau harus beribadah dan taat kepada Allah -‘Azza Wa Jalla- !

Tahan !


Sudah seyogyanya kita memahami apa saja faktor yang dapat memicu Hawa sehingga bisa sedemikian ganasnya, diantaranya :

1. Tidak terbiasa mengendalikan hawa
       Ibrahim bin Ad-Ham mengatakan,

“Jihad yang paling susah adalah jihad melawan hawa nafsu. Barang siapa yang jiwanya bisa mengendalikan hawa nafsunya maka ia akan istirahat dari dunia dan bencananya, dan ia akan dijaga dari kesusahan dunia”
[Tahdzib al-Hilyah]

2. Bergaul dengan Ahlu ‘Ahwa (Pengikut Hawa Nafsu)

3. Cinta dunia dan popalaritas

Ibnu Qayyim berkata,

“Termasuk mengikuti hawa adalah ambisi dengan dunia, dan termasuk ambisi dunia adalah cinta harta serta kedudukan. Barangsiapa yang cinta harta dan kedudukan, ia akan menghalalkan yang haram, dan barang siapa menghalakan yang haram, maka Allah akan murka kepadanya. Dan murka Allah adalah penyakit yang tidak ada obatnya selain ridha-Nya”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

4. Senantiasa memperturutkan jiwa untuk segala perkara yang Mubah

 


 

Ada kiranya pula kita mulai melatih diri ini untuk taat kepada Allah -Ta’ala- tidak hanya ketika di keramaian, melainkan juga ketika bersendirian. Memang hal ini sulit, sangat membutuhkan taufiq (pertolongan) dari Allah -‘Azza Wa Jalla-.

Sungguh, sebuah pengkhiatan kepada Allah -Ta’ala-,  dan juga merupakan kemunafiqan terhadap Al Qur’an dan As-Sunnah, jika penampilan sunnah dan tampak shalih di kala ramai, namun menerjang segala yang Allah -Ta’ala- haramkan ketika hanya  tinggal Allah -Ta’ala- yang melihat dirinya bermaksiat.  Nau’dzubillahi min dzalik !

Duhai saudaraku, simaklah mutiara faidah dari ucapan para Ash-Salaf Ash-Shalih berikut;

Berkata Abu Hazim,

“Dua hal yang jiwa engkau amalkan, maka engkau akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Sabarlah  dengan sesuatu yang engkau tidak sukai apabila disukai Allah -Ta’ala-,  dan bencilah apa yang engkau sukai jika itu adalah yang dibenci oleh Allah -Ta’ala-“

Berkata Abu Sulaiman ad-Darani,

“Sebaik-baik amalan adalah menyelisihi hawa nafsu”


Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin, dan khususnya pengingat bagi penulis, sedangkan sebaik-baik balasan hanyalah dari Allah -‘Azza Wa Jalla-. Dan tulisan ini pula lah kelak yang akan menjadi hujjah atas diri penulis tatkala  disidang di pengadilan-Nya kelak.  Sungguh petaka besar bagi orang yang menyelisihi apa-apa  yang telah didakwahkannya.

Allahumma Yaa Muqallibal Qulub, Tsabbits  Qalbi ‘ala Diinik.


 

Referensi :

  • Rekaman kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc -Rahimahullahu-, bertajuk “Bersemilah Ramadhan”
  • Rekaman kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc -Rahimahullahu-, bertajuk “Untukmu yang berjiwa Hanif”
  • Majalah Al Mawaddah, Vol.102

 

Penulis : Abu Musa al-Fadaniy
artikel Thaybah.ID

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang telah mengambil studi sarjana di Teknik Informatika, ITS Surabaya. Alumni Ma’had Thaybah Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*