tidak mengkhawatirkan miskin

Ternyata Rasulullah Tidak Mengkhawatirkan Kita Miskin

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Mutiara Faidah, Penyejuk Hati 0 Comments

Orang tua masa kini amat takut masa depan anaknya miskin. Untuk itu mereka mengalokasikan banyak uangnya untuk biaya pendidikan anaknya mulai kursus bahasa Inggris, les privat IPA, dan dikuliahkan sampai ke luar negeri. Yang lebih ironi, mereka beranggapan belajar agama menjadikan masa depan keuangan suram. Akhirnya mereka tidak memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Mereka diwisuda dalam keadaan tidak hafal surat al-Fatihah, bahkan tidak bisa baca AlQuran. Ironis.

Ini berbeda dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dimana beliau tidak mengkhawatirkan umatnya miskin. Justru beliau takut kalau umatnya kaya. Mana dalilnya? Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Auf al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia adalah pemimpin Bani ‘Amir bin Lu`ai dan ikut perang Badar. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyah (pajak) di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perjanjian dengan penduduk Bahrain dan mengangkat al-‘Ala bin al-Hadrami mengurus mereka. Akhirnya Abu ‘Ubaidah tiba dengan membawa harta dari Bahrain. Kaum Anshar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah selepas shalat Shubuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usai shalat Shubuh beliau menghadap mereka dan mereka menoleh kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum saat melihat mereka dan bersabda, “Aku kira kalian telah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah datang dengan membawa sesuatu.” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:

«فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ»

“Bergembiralah dan beranganlah apa yang menggembirakan kalian. Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah apabila dunia dibentangkan atas kalian seperti yang telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya seperti yang mereka lakukan dan harta itu membinasakan seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 3158 dan Muslim no. 2961)

Lantas apa maksud Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlindung dari kemiskinan dan meminta kekayaan dalam doa-doa beliau? Dijawab oleh ahli ilmu, maksud miskin dan kaya dalam doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan masalah harta tetapi miskin jiwa yaitu tidak qonaah, dan kaya hati yaitu penyabar dan tidak sombong. Sebab hadits tidak boleh dipahami kecuali dengan hadits pula. Inilah yang benar. Dalilnya pertanyaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:

“يَا أَبَا ذَرٍّ أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى” قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: “فَتَرَى قِلَّةَ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ” قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: “إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ”

“Wahai Abu Dzar apakah kamu menyangka banyak harta adalah kaya?” Kujawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah kamu menyangka sedikit harta adalah miskin?” Kujawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kaya itu hanya kaya hati dan miskin itu hanya miskin hati.” (HR. Ibnu Hibban no. 685, II/461. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dan dinyatakan oleh Syaikh Al Arnauth sesuai syarat Muslim)

Lalu dari mana pikiran dan was-was takut miskin? Tanpa ragu dari setan. Kalau seseorang selalu merasa takut miskin dan takut masa depan miskin, itu berasal dari was-was setan. Dalilnya:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 268)

Allahu a’lam.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*