adzan, lebih dekat

Mengenal Adzan Lebih Dekat

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Makna Adzan

Adzan artinya memanggil atau menyeru. Yang dimaksud di sini adalah memanggil dan menyeru manusia untuk shalat berjamaah. Awalnya para Shahabat ada yang saran memanggil manusia dengan lonceng/bel, ada yang saran terompet, ada yang saran pakai api, tetapi semuanya dibatalkan karena menyerupai kaum Kristen, Yahudi, dan Majusi. ‘Umar dan seorang Shahabat lain bermimpi diajari lafazh adzan lalu dikabarkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sehingga beliau menyuruh Bilal untuk adzan dengan lafazh tersebut. Bilal adalah manusia pertama yang adzan dalam Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Ketika pertama kaum Muslimin sampai di kota Madinah mereka berkumpul dan menantikan waktu shalat sebelum ada seruan adzan, kemudian mereka memperbincangkannya pada suatu hari. Sebagian usul membuat bel seperti bel Nashara (Kristen) dan sebagian lain usul terompet seperti terompet tanduk Yahudi, lalu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, ‘Tidakkah kalian menyuruh seseorang untuk berseru shalat saja?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ»

‘Hai Bilal, bangunlah lalu serulah untuk shalat.’” (HR. Al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377)

Beberapa hadits shahih menyebutkan beberapa lafazh adzan dan apa yang menyebar di tengah kaum Muslimin adalah adzan shahih. Untuk itu jika ada versi adzan yang lain jangan langsung disalahkan tetapi dikaji terlebih dahulu barangkali benar sesuai hadits shahih.

Dari beberapa versi tersebut memiliki kesamaan dari segi lafaznya digenapkan untuk adzan dan ganjil untuk iqamat.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Orang-orang membicarakan untuk menggunakan api atau trompet tetapi mereka ingat menyerupai Yahudi dan Nashara. Kemudian Bilal diperintah supaya menggenapkan (kalimat-kalimat) adzan dan mengganjilkan iqamah.” (HR. Al-Bukhari no. 3457 dan Muslim no. 378)

Perintah untuk Menjawab Adzan

Orang yang mendengar adzan supaya mengikuti adzan muadzin kemudian membaca shalawat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan memintakan wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wasilah adalah tempat paling tinggi dan mulia di Surga Firdaus atau di atasnya.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ المُؤَذِّنُ»

“Jika kalian mendengar adzan maka bacalah seperti apa yang dibaca oleh muadzin.” (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 383)

Di lain riwayat: “Kemudian bacakan shalawat dan mohonkan untukku wasilah, maka siapa yang meminta wasilah untukku pasti mendapat syafa’atku.”

Setan Lari Terbirit-Birit Sambil Kentut

Setan-setan yang mendengarnya akan lari terbirit-birit sambil kentut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«إِذَا نُودِيَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ، فَإِذَا قُضِيَ الأَذَانُ أَقْبَلَ، فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ، فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا مَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِي كَمْ صَلَّى»

“Jika shalat dikumandangkan larilah syaithan terkentut-kentut sehingga tidak mendengar adzan, dan bila adzan selesai ia kembali. Jika iqamah ia lari dan bila iqomah selesai ia kembali, sehingga berbisik dalam hati manusia, ‘Ingatlah ini dan itu’ apa yang tadinya tidak ingat, sehingga orang lupa tidak mengetahui berapa rakaat ia telah shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 1231 dan Muslim no. 389)

Menurut hadits shahih lain disebutkan jaraknya yang diperkirakan menurut ahli ilmu sekitar jarak Surabaya ke Lamongan. Allahu a’lam.

Artikel http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*