maklumilah saudaramu

Maklumilah Kesalahan Saudaramu, Lihatlah 4 Calon Penghuni Surga Ini!

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Akhlak Muamalah, Sejarah 0 Comments

Tidak ada manusia yang sempurna dan terbebas dari cela. Ada empat orang yang sudah dijamin masuk Surga, yaitu Abu Bakar dan ‘Ali, juga ‘Aisyah dan Fathimah Radhiyallahu ‘Anhum. Mereka adalah para penghuni Surga, hanya saja manusia tidak ada yang sempurna sebagai tabiat manusiawi, yaitu pernah jengkel dan mangkel.

‘Cap’ Surga dari Rasulullah

Dalam hadits muttafaqun ‘alaihi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Izinkan kabar gembira kepadanya (Abu Bakar) bahwa dia akan masuk Surga.” Hal yang sama juga ditujukan kepada ‘Ali. Dalam hadits shahih lain disebut hadits sepuluh Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dijamin masuk Surga, dua di antaranya adalah Abu Bakar dan ‘Ali.

Tentang ‘Aisyah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengunggulkan ‘Aisyah atas seluruh wanita bagaikan keutamaan Tsarid (bubur daging) yang merupakan makanan favorit orang Arab atas seluruh makanan. Semua istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan masuk Surga karena siapa yang menjadi istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dunia juga menjadi istri beliau di Surga.

Tentang Fathimah Radhiyallahu ‘Anha, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits shahih muttafaqun ‘alaih, “Fathimah adalah pemimpin para wanita di Surga.”

‘Jengkelnya’ ‘Aisyah pada ‘Ali

Meskipun demikian pernah terjadi ‘rasa jengkel’ antara ‘Aisyah dengan ‘Ali dimana saat ditanya Nabi SAW tentang ‘Aisyah, justru ‘Ali berkata, “Wanita selain ‘Aisyah masih banyak.” Yakni ‘Ali memberi jawaban tidak masalah mencerai ‘Aisyah lalu menikah wanita lain. Ini terjadi saat peristiwa dituduhnya ‘Aisyah berselingkuh dan belum turun wahyu. Allah pun menurunkan wahyu dan membela ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Rasa jengkel ini terbawa saat menceritakan kisah wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah berkata, “Saya masuk ke tempat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk bertanya, ‘Maukah Anda menceritakan kepadaku sakitnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?’ Jawabnya, ‘Ya, ketika memberat sakit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bertanya, ‘Apakah manusia sudah shalat?’ Jawabku, ‘Belum, mereka masih menantikan Anda.’ Beliau berkata, ‘Sediakan air di ember untukku.’ Kami pun melakukannya, lalu beliau mandi dan merasa baikan lalu pingsan. Kemudian setelah sadar, beliau bertanya, ‘Apakah manusia telah shalat?’ Jawabku, ‘Belum, mereka menantikanmu ya Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sediakan air di ember untukku.’ Beliau duduk mandi dan merasa baikan lalu pingsan. Kemudian beliau sadar dan bertanya, ‘Apakah manusia sudah shalat?’ Jawabku, ‘Belum, mereka masih menantikan Anda wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sediakan air di ember untukku.’ Beliau duduk mandi dan merasa baikan lalu pingsan. Kemudian beliau sadar dan bertanya, ‘Apakah manusia sudah shalat?’ Jawabku, ‘Belum, mereka masih menantikan Anda wahai Rasulullah.’ Sementara manusia itikaf di masjid  menunggu Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk shalat Isya akhir. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh Abu Bakar untuk mengimami manusia lalu Abu Bakar —ia lelaki yang mudah menangis— berkata, ‘Hai ‘Umar, shalatlah menjadi imam manusia.’ ‘Umar berkata kepadanya, ‘Anda lebih berhak untuk itu.’ Akhirnya Abu Bakar mengimami shalat beberapa hari.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa sedikit ringan, beliau keluar shalat dipapah dua orang yang salah satunya ‘Abbas untuk shalat Zhuhur saat Abu Bakar shalat mengimami manusia. Ketika Abu Bakar melihat beliau maka ia mundur, tetapi diberi isyarat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam supaya tidak mundur, lalu bersabda, ‘Dudukkan aku di samping Abu Bakar.’ Maka beliau didudukkan di samping Abu Bakar. Abu Bakar bermakmum pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang bermakmum pada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, sementara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat sambil duduk.” ‘Ubaidillah berkata, “Lalu aku masuk ke tempat ‘Abdullah bin ‘Abbas dan berkata, ‘Maukah Anda kuceritakan apa yang diceritakan kepadaku oleh ‘Aisyah tentang sakit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?’ Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menjawab, ‘Silakan.’ Lalu saya ceritakan semua keterangan ‘Aisyah, maka ia tidak menyalahkan satu pun dari cerita tersebut. Ia hanya bertanya, ‘Apakah Aisyah menyebut padamu nama lelaki kedua?’ Jawabku, ‘Tidak.’ ‘Dia adalah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu,’ jawabnya.” (HR. Al-Bukhari no. 687 dan Muslim no. 418)

Diriwayatkan juga dari  ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ketika telah berat sakit Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau minta izin pada istri-istrinya untuk dirawat di rumahku, maka semua istrinya rela mengizinkan. Beliau keluar dibopong oleh dua orang sedang kaki beliau terseret ke tanah di antara al-‘Abbas dan orang lain.” ‘Ubaidillah berkata, “Maka aku ceritakan keterangan itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia berkata, ‘Tahukah Anda siapakah orang yang tidak disebut namanya oleh ‘Aisyah itu?’ Jawabku, ‘Tidak tahu.’ Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, ‘Ia adalah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.’” (HR. Al-Bukhari no. 2588 dan Muslim no. 418)

Perasaan ini muncul begitu saja. Namanya saja pernah sakit hati. Meskipun demikian, jika ada yang berkonsultasi kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha tentang hukum agama beliau mengisyaratkan agar bertanya kepada ‘Ali sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Beginilah penduduk Surga. Simaklah firman Allah:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 47)

Ini menunjukkan bahwa calon penduduk Surga sebelum ini pernah memendam rasa dengki dan iri, juga jengkel dan benci. Manusiawi.

Diamnya Fathimah kepada Abu Bakar

Kisah Abu Bakar dan Fathimah diabadikan dalam Shahih Bukhari Muslim. Setelah wafanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Fathimah meminta warisan Rasulullah berupa tanah Fadak tetapi Abu Bakar selaku presiden saat itu menolak. Abu Bakar berijtihad tidak boleh karena ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kami para Nabi tidak mewariskan harta. Harta yang kami tinggalkan untuk kepentingan kaum Muslimin.” ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bercerita bahwa setelah itu Fathimah tidak lagi mengajak bicara Abu Bakar hingga meninggal 6 bulan lamanya, sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perhatian

Tidak boleh suuzhan kepada para shahabat dan mencela mereka karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita. Fathimah tidak mengajak bicara Abu Bakar atas dugaan ‘Aisyah. Boleh jadi karena Abu Bakar sibuk atau memang Fathimah tidak memiliki urusan lagi dengan Abu bakar, apalagi waktu itu Abu Bakar sibuk memerangi kaum murtad. Kita tidak menutup mata bahwa ‘goresan luka’ yang pernah terjadi tentu sedikit banyak juga berperan. Namanya saja pernah sakit hati. Ini manusiawi.

Para Shahabat terlalu banyak pahalanya sehingga kesalahannya telah Allah ampuni. Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)

Sekarang giliran kita, jika kita telah tahu bahwa teman kita tidak semulia akhlaknya dan seutama dari para penghuni Surga yang mulia akhlaknya, maka sabarlah atas tindakan jeleknya kepada kita karena dia sedang jengkel kepada kita. Manusiawi.

Allahu a’lam.[]

Artikel http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*