aisyah dituduh rafidhah

Kisah Menyedihkan Aisyah Dituduh Berzina dan Kemurkaan Allah kepada Syiah Rafidhah (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Sejarah 0 Comments

Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh berzina dengan Shafwan bin Muaththal radhiyallahu ‘anhu shahabat mulia oleh orang munafiq yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Lalu Allah menurunkan beberapa ayat yang membebaskan Aisyah radhiyallahu ‘anha dari tuduhan keji itu dan mengancam orang-orang agar tidak mengulanginya lagi. Juga isyarat bahwa Syiah dilarang untuk tidak lagi mencaci maki Aisyah, jika tidak berhenti, maka Allah tidak mengakui keimanannya, seperti dalam ayat:

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Nur [24]: 17)

Mari kisah menyimak kisahnya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika orang-orang yang menceritakan berita bohong kepadanya, ‘Aisyah bercerita:

“Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak bepergian jauh melakukan undian bagi istri-istrinya, maka siapa saja di antara mereka yang bagiannya keluar atas namanya maka dialah yang mendapat bagian ikut pergi bersama beliau. Pada suatu ketika, Nabi akan pergi dalam suatu peperangan, lalu beliau melakukan undian dan yang keluar adalah bagian atas namaku. Maka aku pun ikut pergi bersamanya (mendampinginya) sesudah ayat tentang wajib hijab diturunkan. Aku pada saat itu dibawa di dalam sekedup (di atas punggung unta) dan di situlah aku tinggal. Kami pun berjalan hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari misi peperangannya dan beliau pun kembali. Dan sudah terasa dekat dari kota Madinah, maka pada suatu malam beliau mengizinkan (para sahabatnya) untuk berangkat (pulang). Maka aku pun bangkit (untuk buang hajat) ketika mereka diizinkan untuk pulang hingga pasukan itu telah berlalu. Seusai buang hajat aku kembali kepada untaku, kemudian aku raba dadaku dan ternyata kalungku terputus karena terenggut kukuku (dan hilang). Maka aku kembali (ke tempat buang hajat) sambil mencari kalungku yang terjatuh hingga makan waktu cukup lama. Lalu pada saat itu sekelompok orang yang biasa menuntun untaku datang menuju unta yang dipunggungnya ada sekedupku dan mereka langsung menggiringnya dengan mengira bahwa aku ada di dalamnya. Rata-rata perempuan pada masa itu ringan, tidak gemuk, karena kami biasa makan sesuap makanan saja, sehingga ketika mengangkat sekedupku ke atas punggung unta tidak merasa bahwa aku tidak ada di dalamnya dan mereka pun langsung membawanya. Sementara pada saat itu aku masih remaja di bawah umur sedangkan unta telah pergi bersama mereka. Kalungku baru aku temukan sesudah para pasukan berjalan jauh, maka dari itu aku pergi ke bekas tempat mereka singgah (bermalam) dan di sana tidak ada seseorang. Lalu aku menuju bekas persinggahanku, karena dalam dugaanku mereka pasti akan mencariku di sini.

Ketika aku sedang duduk menunggu, aku pun tertidur. Pada saat itu ada seorang sahabat Nabi bernama Shafwan bin Mu’aththal as-Sulami adz-Dzakwani, bertugas sebagai orang yang memeriksa di belakang pasukan hingga kemalaman dan pada keesokan harinya ia berada di dekat persinggahanku. Lalu ia melihat warna kehitam-hitaman tampak seperti manusia yang sedang tidur dan ia pun menghampirinya (aku) dan langsung mengenalku di saat ia melihatku, dan itu (Shafwan pernah melihatku) sebelum diwajibkan hijab (tabir). Akupun terbangun karena ucapan “istirja’-nya di saat melihatku. (Istirja’ adalah ucapan: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiu’un). Maka aku langsung menutup wajahku dengan jilbabku, demi Allah, ia tidak berbicara kepadaku dengan satu katapun, dan aku tidak mendengar satu kata pun selain istirja’-nya tadi. Lalu ia turun dan mendudukkan untanya (supaya aku naik untanya). Maka aku naik ke untanya dan ia pun mengendalikannya, hingga kami dapat mengejar para pasukan setelah mereka singgah beristirahat (di suatu tempat).”

‘Urwah berkata, “Saya diberitahu bahwa berita tuduhan palsu dan bohong itu dibicarakan, disiarkan lalu dibenarkan dan dikomentarinya,” lanjutnya, “Tidak tersebut nama ahlul ifki kecuali Hassan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah, dan Hamnah binti Jahsy dan lain-lain orang yang tidak kuketahui, hanya saja jumlah mereka banyak sebagaimana firman Allah, dan tokoh mereka adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul,” lanjutnya, “’Aisyah tidak senang bila ada orang memaki Hassan di dekatnya, bahkan ia memuji Hassan karena dialah yang pernah berkata (bersyair untuk membela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ejekan orang Quraisy):

إِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِي لِعِرْضِ مُحَمَّدٍ مِنْكُمْ وِقَاءُ

‘Sungguh ayah dan nenek moyangnya juga kehormatanku, semuanya aku korbankan demi menjaga kehormatan Muham­mad dari (segala serangan dan cemoohan) kalian.’”

‘Aisyah melanjutkan, “Maka binasalah orang-orang yang terlibat dalam masalahku ini, dan tokoh yang menyebarluaskan dosa besar ini adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Setibanya kami di Madinah aku jatuh sakit selama satu bulan karenanya (karena berita bohong itu), dan orang-orang banyak terlibat dalam hasutan para penyebar berita bohong itu, sedangkan aku tidak sadarkan diri dan makin membuatku tidak menentu di masa sakitku adalah bahwasanya aku tidak melihat lagi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kelembutan yang selama ini selalu aku melihatnya mana kala aku sedang sakit, dan beliau hanya memberikan salam bila masuk menjengukku lalu bertanya, ‘Bagaimana kabarmu,’ lalu pergi. Itulah yang membuatku makin merasa bimbang.

Aku tidak merasakan adanya keburukan kecuali setelah aku sembuh dan masih dalam keadaan lemah. Aku keluar bersama Ummu Misthah menuju Manashi’, yaitu tempat kami buang air. Kami tidak keluar ke sana kecuali pada malam hari, dan itu sebelum kami menggunakan dinding pelindung (untuk buang air), karena kami sama seperti orang-orang ‘Arab lainnya dalam hal buang air besar, yaitu membuang air besar (gha’ith) di padang yang jauh. Kemudian, seusai buang hajat aku dan Ummu Misthah kembali dengan jalan kaki. (Ummu Misthah adalah putri Abu Dirham bin Abdil Mutthalib bin Abdi Manaf, sedangkan ibunya adalah anak dari Shakhar bin ‘Amir, bibinya Abu Bakar Siddik, putranya bernama Misthah bin Utsatsah). Tiba-tiba Ummu Misthah tersandung karena kainnya dan berkata, ‘Celaka Misthah!’ Maka aku bertanya, ‘Alangkah buruknya apa yang kamu katakan! Apakah kamu mencela orang yang telah ikut dalam perang Badar?’ Ia menjawab, ‘Wahai saudaraku, apakah kamu belum mendengar apa yang ia katakan?’ Aku bertanya, ‘Apa yang telah ia katakan?’ Lalu Ummu Misthah menceritakan kepadaku bahwa Misthah ikut membicarakan apa yang dibicarakan oleh para penyebar berita bohong itu. Maka aku pun bertambah sakit. Sekembalinya aku ke rumah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menjengukku dan berkata, ‘Bagaimana kabarmu?’ Aku berkata kepada beliau, ‘Izinkan aku datang kepada kedua ibu-bapakku.’ Pada saat itu aku ingin mengecek berita dari pihak mereka (orang tuaku). Maka Rasulullah mengizinkan dan akupun pergi menemui ibu dan ayahku. (Di rumah) aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai ibuku, apa yang sedang dibicarakan oleh banyak orang saat ini?’ Ibu menjawab, ‘Wahai anakku, tahan dirimu atas peristiwa ini, karena demi Allah, jarang ada perempuan cantik yang mempunyai suami yang sangat mencintainya, sedangkan ia mempunyai banyak madu (istri-istri suami yang lain) melainkan mereka selalu memojokkannya.’

Aku berkata, ‘Maha suci Allah, sungguh manusia telah membicarakan masalah ini?’ Maka aku pun menangis pada malam itu hingga pagi, air mata terus bercucuran tiada henti dan tidak dapat tidur. Pagi harinya pun aku tetap menangis.

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah radhiyallahu ‘anhuma ketika wahyu belum kunjung turun untuk minta pendapat kepada mereka berdua tentang perpisahan beliau dengan istrinya.”

‘Aisyah menceritakan, “Adapun Usamah, ia menganjurkan sesuai dengan pengetahuannya akan kebersihan istrinya dan dengan dasar pengetahuannya bahwa Nabi sangat mencintai mereka, seraya berkata, ‘Mereka adalah keluargamu wahai Rasulullah, dan kami, demi Allah, tidak mengenal mereka kecuali sebagai orang-orang baik.’

Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, Allah tidak mempersulit dirimu, dan perempuan selain dia (‘Aisyah) masih sangat banyak. Engkau hanya minta carikan kepada salah seorang perempuan, niscaya ia mencarikannya.”

‘Aisyah melanjutkan, “Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Barirah seraya bersabda, Wahai Barirah, apakah engkau melihat padanya (Aisyah) ada sesuatu yang meragukanmu?

Barirah menjawab, ‘Tidak, demi Tuhan yang telah mengangkatmu dengan haq sebagai Nabi, aku tidak melihat darinya (‘Aisyah) sesuatu yang mencurigakan. Hanya saja dia cuma seorang remaja belia yang masih di bawah umur, dan biasanya hanya tidur saja, lalu membiarkan hidangan keluarganya sehingga datang ayam memakannya.’

‘Aisyah menuturkan, “Semenjak hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi dan meminta kerelaan orang-orang untuk menindak ‘Abdullah bin Ubay bin Salul seraya bersabda sambil berdiri di atas mimbar,

«يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ، مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي عَنْهُ أَذَاهُ فِي أَهْلِي، وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا، وَمَا يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي»

Siapa yang mendukungku untuk menghukum orang yang telah menyakiti aku dengan mencemarkan keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengenal keluargaku selain sebagai orang yang baik. Dan sesungguhnya orang-orang membicarakan seseorang lelaki (Shafwan) yang tidak aku ketahui kecuali sebagai orang baik, dan ia tidak pernah datang kepada keluargaku kecuali bersamaku.’”

Lanjut Aisyah, “Maka Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, Aku, demi Allah, aku mendukungmu untuk menghukumnya. Kalau dia berasal dari suku Aus, maka kami penggal lehernya, dan kalau ia berasal dari saudara kami, suku Khazraj, maka kami tunggu apa perintahmu terhadapnya, niscaya kami lakukan.’

Kemudian Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu bangkit –dia adalah pemuka suku Khazraj dan merupakan seorang lelaki shalih, namun fanatisme kesukuannya sangat tinggi- seraya berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz, ‘Tidak benar kamu! Demi Allah, kamu tidak boleh membunuhnya dan tidak akan mampu melakukannya.’ Kemudian, Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu (keponakan Sa’ad bin Mu’adz) berkata kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, ‘Kamu yang tidak benar! Demi Allah, kami pasti membunuhnya, kamu adalah orang munafik, karena membela orang-orang munafik.’ Maka kedua suku Aus dan Khazraj ini pun naik darah, hingga hampir saja mereka berbunuhan. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berada di atas mimbar dan melunakkan emosi mereka hingga akhirnya mereka diam dan kemudian beliau turun (dari mimbar).

Aku pada hari itu menangis tiada henti dan air mataku pun terus berlinang dan tidak merasakan tidur sedikit pun juga. Pada malam berikutnya pun aku masih terus menangis dengan air mata bercucuran dan tidak dapat tidur hingga pada keesokan harinya ayah dan ibuku mendampingiku. Sungguh, aku telah menangis dua malam satu hari hingga aku mengira bahwa tangisan itu akan membelah hatiku. Ketika ayah dan bundaku duduk di sisiku, sementara aku sedang menangis, seketika ada seorang perempuan dari kaum Anshar minta izin masuk, maka aku pun mengizinkannya. Lalu ia duduk sambil menangis bersamaku. Ketika kami dalam keadaan seperti itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk kepada kami lalu duduk, padahal ia tidak pernah duduk di sisiku semenjak hari disebarluaskannya berita bohong itu. Sudah sebulan lamanya beliau tidak menerima wahyu berkenaan dengan perihalku ini. Beliau ber-tasyahhud ketika duduk, lalu bersabda:

«أَمَّا بَعْدُ، يَا عَائِشَةُ، إِنَّهُ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً، فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ العَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ»

Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku tentang kamu, bahwa begini dan begitu. Maka jika kamu benar-benar bersih dari tuduhan itu, niscaya Allah membebaskan kamu dari tuduhan. Dan jika kamu benar-benar telah melakukan dosa, maka minta ampunlah kamu kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya apabila seorang hamba mengakui dosanya lalu bertobat, niscaya Allah menerima tobatnya.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai mengutarakan ucapannya maka air mataku kering (berhenti) hingga aku tidak merasa ada setetes pun.

Kemudian aku berkata kepada ayahku, ‘Berbicaralah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewakiliku sebagai jawaban ucapannya.’ Ayahku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan aku katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Lalu aku berkata kepada Ibuku, ‘Berbicaralah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewakiliku sebagai jawaban ucapannya.’ Ibuku berkata, ‘Demi Allah, aku pun tidak tahu apa yang akan aku katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’”

(Bersambung)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*