taubat kaab bin malik

Cara Taubat Kaab Bin Malik Shahabat Mulia Ternyata di Luar Dugaan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Mutiara Faidah 0 Comments

Kita hanya tahu bahwa jika kita berbuat dosa lalu bertaubat kepada Allah dengan istighfar dan memperbanyak amal shalih, maka kita menyakini Allah mengampuni. Memang benar Allah mengampuni dosa yang ditaubati meskipun hanya dengan istighfar saja. Namun tahukah Anda bahwa Ka’ab bin Malik diuji Allah dengan ditangguhkan taubatnya sekian lama hingga dadanya sempit sekali. Beginilah para shahabat, mereka orang mulia sehingga besar pula “tahapan” diterima taubatnya.

Mari kita mendengar kisahnya. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan yang dipimpin beliau kecuali dalam perang Tabuk. Tapi aku juga tidak ikut perang Badar, hanya saja yang tidak ikut perang ini tidak dicela karena keberangkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya ingin menghadang kafilah dagang Quraisy. Namun, Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa perjanjian. Aku hadir bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam ‘Aqabah untuk berjanji setia di atas Islam. Aku tidak rela kehadiran di ‘Aqobah ini ditukar dengan Badar, meskipun ia sering disebut-sebut di kalangan manusia.

Kabar dariku bahwa aku tidak pernah merasa lebih kuat dan mudah melebihi saat tertinggal perang Tabut. Demi Allah, belum pernah aku memliki dua kendaraan yang terkumpul sebelumnya selain yang aku kumpulkan untuk persiapan perang itu. Kebiasaan Rasulullah ketika ingin berperang adalah memobilisasi pasukan. Perang yang dipimpin beliau ini terjadi saat cuaca sangat panas sekali, perjalanan yang jauh, hutan belantara, dan musuk yang banyak.

Beliau menjelaskan kaum muslimin urusan perang supaya mereka siap siaga menyongsong peperangan. Beliau menjelaskan pula kepada mereka tujuan yang beliau inginkan. Kaum muslimin yang bersama Rasulullah waktu itu berjumlah banyak sementara pencatatan sipil belum ada sehingga jika ada orang yang tidak ikut perang dia bisa bersembunyi selagi tidak turun wahyu tentangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat perang saat musim buah-buahan dan kebun-kebun rindang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap berangkat dan aku pun pulang ke rumah untuk menyiapkan keberangkatan tetapi saat di rumah tidak melakukan apapun dan berkata dalam hati, ‘Aku mampu menyusul nanti.’ Aku senantiasa mengulur-ngulur seperti hingga hingga manusia benar-benar telah siap. Di waktu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin berangkat dan aku belum menyiapkan keberangkatan apapun sambil berkata, ‘Aku akan menyiapkan sehari atau dua hari lagi saja kemudian menyusul mereka dan berangkat di awal waktu untuk menyusul mereka.’ Aku belum menyiapkan keberangkatan dan pulang tanpa melakukan apapun. Kemudian aku pulang lagi dan belum melakukan apapun hingga mereka telah berjalan jauh dan pasukan telah saling berangkat. Aku sangat ingin menyusul mereka dan berandai-andai melakukannya tetapi tetap saja aku tidak mampu.

Ketika aku keluar rumah menuju manusia setelah keberangkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku membuar dengan mereka. Aku sedih karena melihat yang tertinggal hanya lelaki yang telah jelas kemunafikannya atau lelaki yang memang diberi udzur Allah dari orang tua yang lemah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanyakan perihal diriku kecuali saat sampai di Tabuk. Beliau berkata saat duduk di tengah pasukan di Tabuk, ‘Apa yang dilakukan Ka’ab?’ Seorang dari Bani Salamah merespon, ‘Wahai Rasulullah, dia ditahan oleh kain burdahnya dan kekayaannya.’ Mu’adz bin Jabal menjawab, ‘Buruk sekali perkataanmu. Demi Allah, wahai Rasulullah kami tidak mengenalnya kecuali kebaikan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam.

Tatkala sampai kabar kepadaku bahwa beliau telah pulang menuju Madinah, tersebit dalam hatiku untuk berbohong tetapi jiwaku berkata, ‘Bagaimana suatu saat nanti aku mengelak dari kemurkaannya (jika turun wahyu?’ Aku pun meminta pertimbangan kerabatku yang pandai. Tatkala dikabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba dan singgah, keinginan berbohong hilang dan aku sadar tidak akan mampu terbebas dari kebohongan ini selamanya dari beliau. Aku pun membulatkan tekadku untuk jujur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba dan singgah di waktu pagi. Kebiasaan beliau apabila tiba dari safar singgah di masjid shalat dua rakaat kemudian duduk melayani orang-orang. Tatkala beliau dalam keadaan itu, orang-orang yang tertinggal mendatangi beliau untuk meminta udzur dan menguatkannya dengan sumpah. Jumlah mereka sekitar 80 lebih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima alasan mereka menurut zhahir mereka dan membaiat mereka dan memintakan ampun bagi mereka serta membaiat mereka. Beliau menyerahkan batin mereka kepada Allah.

Aku menghadap beliau. Tatkala aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum seperti senyum marah kemudian berkata, ‘Kemarilah.’ Aku pun datang sambil berjalan hingga duduk di depan beliau lalu bertanya kepadaku, ‘Apa yang menyebabkanmu tertinggal? Bukankah kamu sedang lapang?’ Kujawab, ‘Benar. Demi Allah, seandainya aku duduk di sisi ahli dunia aku pasti bisa keluar dari kemurkaannya dengan alasanku, karena aku diberi kelebihan berdebat. Namun, demi Allah aku sadar bahwa jika berbohong kepada Anda hari ini sehingga Anda pun ridha, akan datang masanya Allah menjadikan Anda murka kepadaku. Jika aku berkata jujur, maka begitulah keadaannya. Aku berharap pengampunan Allah. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki udzur dan demi Allah aku tidak lebih kuat dan lebih lapang melebihi saat diriku tertinggal dari Anda.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Adapun orang ini telah jujur. Berdirilah hingga Allah memutuskan perkaramu.’ Aku pun berdiri dan beberapa orang Bani Salamah mengerumuniku dan berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakuka dosa sebelum ini. Kenapa kamu lemah dari meminta udzur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang dilakukan orang-orang yang tertinggal itu. Cukup bagimu atas dosamu istighfar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagimu.

Demi Allah, mereka senantiasa berkata itu hingga aku ingin kembali untuk berbohong. Aku berkata kepada mereka, ‘Apakah ada orang lain yang senasib denganku?’ Mereka menjawab, ‘Iya, ada dua orang. Keduanya menyatakan seperti alasanmu sehingga diputuskan sepertimu.’ Kataku, ‘Siapa mereka berdua?’ Jawab mereka, ‘Murarah Ibnur Rabi’ al-Amri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.’ Mereka memberitahuku bahwa keduanya adalah lelaki shalih dan ikut perang Badar. Aku memiliki teladan dari mereka berdua ketika mereka memberitahuku tentang keduanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga yang tertinggal berperang sehingga saat kami bersama manusia mereka berubah sikapnya hingga bumi terasa sempit bagiku. Demikianlah yang kami jalani hingga 40 malam. Kedua shahabatku berdiam di rumah dan duduk di rumahnya sambil menangis. Adapun aku yang paling mudah di antara mereka dan teguh, aku keluar menghadiri shalat bersama kaum muslimin dan berjalan di pasar, tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara denganku. Aku datangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam kepada beliau saat beliau duduk usai shalat. Aku berkata di dalam hati, ‘Apakah beliau tadi menggerakkan kedua bibirnya menjawab salamku atau tidak?’ Kemudian aku shalat di dekat beliau. Aku mencuri pandang kepada beliau. Jika aku menatap shalatku, beliau memandangku dan apabila aku melirik ke beliau, beliau berpaling dariku hingga berlangsung lama.

Aku berjalan hingga sampai di dinding kebun Abu Qatadah yaitu putra pamanku dan dialah orang yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak menjawab salamku. Aku berkata, ‘Wahai Abu Qatadah, aku katakan kepadamu bahwa kamu tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Dia diam lalu aku mengulanginya dan dia tetap diam. Aku mengulanginya lagi dan dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Tiba-tiba air mataku menetes dan aku berpaling darinya memanjat dinding.

Tatkala aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba datang tukang sayur dari Syam yang tiba di Madinah untuk jualan. Dia berkata, ‘Siapakah yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?’ Manusia mulai menunjuk ke arahku hingga dia mendatangiku untuk menyerahkan surat dari raja Ghassan. Ternyata isinya, ‘Amma bakdu: Telah sampai kabar kepadaku bahwa shahabatmu telah memboikotmu dan Allah tidak memberimu tempat yang nyaman dan tentram. Bergabunglah bersama kami maka kami akan memuliakanmu.’ Aku bertaka setelah membacanya, ‘Ini juga bagian dari ujian.’ Aku pun menyalakan tungku dan membakarnya.

Hingga telah sampai 40 dari 50 malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku dan berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhui istrimu.’ Kataku, ‘Apakah aku mencerainya atau tidak?’ Beliau menjawba, ‘Tidak. Hanya menjauhinya dan jangan mendekatinya.’ Beliau mengutus untuk menyampaikan juga kepada dua shahabatku. Aku berkata kepada istriku, ‘Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka hingga Allah memutuskan perkaraku ini.’

Istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah sudah tua dan tidak memiliki pelayan. Apakah aku boleh tetap melayaninya?’ Beliau menjawab, ‘Boleh tapi jangan “mendekatinya”.’ Jawabnya, ‘Demi Allah, dia tidak memiliki keinginan itu sedikitpun dan senantiasa menangis hingga sekarang karena masalah ini.’

Sebagian keluargaku berkata kepadaku, ‘Andai saja kamu mau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan istrimu seperti yang dilakukan istrinya Hilal bin Umayyah untuk melayaninya.’ Kujawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena akau tidak tahu respon Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nanti kepadaku karena aku masih muda, jika memang meminta izin.’

Aku menetap setelah itu 10 malam hingga sempurna 50 malam dari semenjak larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara kepada kami. Tatkala aku shalat Subuh di malam ke-50 saat di atas loteng rumah, lalu duduk berdzikir kepada Allah dalam keadaan jiwaku sempit dan bumi pun terasa sempit, tiba-tiba aku mendengar suara nyaring dari arah gunung Sala’ dengan suara yang sangat keras, ‘Wahai Ka’ab, bergembiralah.’ Aku langsung menyungkur sujud dan aku tahu kalau telah datang kelapangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan diterimanya taubatku dari Allah atas kami usai shalat Subuh. Manusia pun bergegas mengucapkan selamat kegembiraan kepadaku dan juga pergi ke kedua saudaraku.

Seorang lelaki berpacu dengan kudanya menujuku dari Aslam. Dia muncul dari arah gunung dan suaranya lebih cepat daripada kudanya. Ketika kabar gembira itu sampai kepadaku, aku melepas bajuku dan menghadiahkannya kepadanya karena saking gembira. Demi Allah, aku tidak memiliki pakaian selain itu pada hari itu. Aku pun meminjam dua baju dan memakainya pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia mengeruminiku silih berganti mengucapkan selamat atas diterimanya taubatku dan mengatakan, ‘Semoga taubat dari Allah ini menggembirakanmu.’

Aku masuk masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dikelilingi manusia. Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri berlari menyambutku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari Muhajirin yang berdiri menyambutku selain dirinya dan aku tidak akan pernah melupakan Thalhah.

Tatkala aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wajahnya yang bercahaya karena gembira berkata, ‘Bergembiralah dengan sebuah hari terbaik sepanjang hidupmu semenjak kamu dilahirkan ibumu.’ Kataku, ‘Apakah ini darimu wahai Rasulullah atau dari Allah?’ Beliau jawab, ‘Bahkan dari sisi Allah.’ Kebiasaan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sedang gembira maka akan bersinar wajahnya seakan-akan potongan bulan dan kami bisa mengenalinya.

Tatkala aku duduk di hadapan beliau, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk membuktikan taubatku aku akan menyerahkan semua hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan untuk Rasul-Nya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tahanlah separuh hartamu. Itu lebih baik bagimu.’ Aku berkata, ’Aku menahan sahamku yang ada di khaibar. Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, sebagai bukti taubatku bahwa aku tidak akan berbicara lagi kecuali jujur selama aku masih hidup.’

Demi Allah, aku tidak tahu ada seorang pun dari kaum muslimin yang diuji Allah untuk berkata jujur semenjak aku mengatakan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih indah daripada ujianku. Aku tidak pernah dengan sengaja semenjak mengatakan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari ini untuk berdusta. Sungguh aku benar-benar berharap Allah menjagaku di sisa hidupku ini.

Allah menurunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat, ‘Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi dan kaum Muhajirin,’ hingga, ‘dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.’

Demi Allah, tiada nikmat yang paling yang lebih besar setelah hidayah Islam bagiku selain kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tidak bohong kepada beliau lalu aku binasa sebagaimana orang-orang yang bohong. Sebab, Allah berfirman tentang orang-orang yang berbohong tatkala turun wahyu dengan seburuk-buruk ucapan seseorang. Allah berfirman, ‘Kelak mereka akan bersumpah dengan nama Allah kepada kalian saat kalian kembali,’ hingga, ‘Sesungguhnya Allah tidak meridhai orang-orang fasiq.’

Kami bertiga tidak seperti orang-orang yang diterima udzur-udzur mereka saat bersumpah kepada beliau lalu beliau membaiat mereka dan mendoakan mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangguhkan urusan kami hingga Allah memutuskan perkara kami. Oleh karena itu Allah berfirman, ‘Dan terhadap tiga orang yang tertinggal…’ Apa yang disebutkan Allah dalam ayat ini bukan tentang tertinggalnya kami dari peperangan tetapi Dia membuat kami tertinggal dan menangguhkan urusan kami dari orang-orang yang besumpah dan meminta udzur kepada beliau lalu beliau menerimannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*