Tahapan Mengulang Hafalan Bagi Penghafal Hadits

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Ilmu Hadits 0 Comments

Manusia memiliki tabiat lupa, karena Adam juga lupa. Baru kemarin seseorang berkenalan, tetapi sekarang sudah lupa siapa namanya. Alangkah cepatnya manusia lupa!

Lupa adalah penyakit dan obatnya adalah mengulang-ulang. Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:

إِنَّمَا يُذْهِبُ الْعِلْمَ النِّسْيَانُ وَتَرْكُ الْمُذَاكَرَةِ

“Ilmu hilang karena lupa dan meninggalkan mudzakarah (murajaah/diskusi).”

Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisaburi al-Faqih berkata:

أَنَّ فَقِيْهًا أَعَادَ الدَّرْسَ فِي بَيْتِهِ مِرَارًا كَثِيْرَةً فقَالَتْ لَهُ عَجُوزٌ فِي بَيْتِهِ قَدْ وَاللّٰهِ حَفِظْتُهُ أَنَا. فَقَالَ: أَعِيْدِيْهِ! فَأَعَادَتْهُ. فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ قَالَ: يَا عَجُوزُ، أَعِيدِي ذَلِكَ الدَّرْسَ، فَقَالَتْ: مَا أَحْفَظُهُ. قَالَ: إِنِّي أُكَرِّرُ عَدَّ الْحِفْظِ لِئَلاَّ يُصِيبَنِي مَا أَصَابَكِ

“Ada seorang ahli fiqih yang banyak mengulang-ulang pelajaran, lalu wanita tua yang ada di rumahnya berkata kepadanya, ‘Demi Allah, aku telah menghafalnya.’ Ahli fiqih itu berkata, ‘Ulangilah.’ Lalu dia mengulanginya. Setelah berlalu beberapa masa, dia berkata, ‘Hai wanita tua, coba kamu ulangi pelajaran itu.’ Dia berkata, ‘Aku tidak lagi hafal.’ Ahli fiqih itu berkata, ‘Sungguh aku banyak mengulang-ulang hafalanku sehingga tidak menimpaku apa yang telah menimpamu.’”

Kaum salaf adalah teladan luar biasa bagi kita. Mereka terdepan dalam ketekunan dan kesabaran dalam belajar, mengajar, menghafal, dan beramal. Mereka mengulang-ngulang pelajaran hingga berkali-kali dan tidak merasa jenuh. Mari kita melihat sedikit dari kisah-kisah mereka.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata tentang Bakar bin Muhammad al-Hanafi:

وَسُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ: هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَعَدْتُهَا فِي بُرْجٍ مِنْ حِصْنِ بُخَارِ الرّبع مِائَةَ مَرَّةٍ

“Dia pernah ditanya tentang sebuah masalah lalu berkata, ‘Masalah ini aku ulang-ulang di menara kastil Bukhar ar-Rib’i sebanyak 100 kali.’”

Abul Arab al-Qairawani berkata, “Ahmad bin Tamim bercerita kepada saya bahwa dia mendapatkan di akhir sebagian kitab Abbas bin Ali al-Farisi tertulis kalimat, ‘Saya mempelajari kitab ini lebih dari 1.000 kali.’”

Ahli fiqih Ali bin Muhammad an-Naisaburi berkata, “Di Madrasah Sarhank di Naisabur terdapat anak sungai yang memiliki 70 anak tangga. Apabila saya ingin menghafal sebuah pelajaran saya mendatangi anak sungai tersebut. Saya mengulang-ulangi pelajaran sebanyak satu kali setiap anak tangga, dengan cara naik dan turun kembali. Begitu yang saya lakukan untuk setiap pelajaran yang telah saya hafal.”

Al-Fairuz Abadi membaca kitab Shahih al-Bukhari lebih dari 50 kali.

Al-Hafizh Burhanuddin al-Halabi pernah membaca Shahih al-Bukhari lebih dari 60 kali dan Shahih Muslim 20 kali, selain bacaannya sendiri semasa belajar atau bacaan orang lain yang dia dengar.

Ibnu Basykual al-Andalusi berkata, “Saya membaca dari tulisan sebagian teman bahwa Abu Bakar bin Athiyah al-Muharibi mengulang-ulangi membaca Shahih al-Bukhari sebanyak 700 kali.”

Al-Hafizh Sulaiman bin Ibrahim al-Alawi membaca ulang Shahih al-Bukhari lebih dari 280 kali dengan membaca, mendengar, atau dibacakan.

Imam an-Nawawi ketika menulis biografi Imam Abdul Ghafir bin Muhammad al-Farisi berkata, “Al-Hafizh al-Hasan as-Samarqandi membaca Shahih Muslim lebih dari 30 kali, dan Abu Sa’id al-Buhairi membaca Shahih Muslim di hadapannya lebih dari 20 kali.”

Ibnu Makhluf ketika menceritakan biografi Syaikh Abu Muhammad bin Abdullah bin Ishaq, dia berkata, “Dia belajar dari Ibnu Lubab kitab al-Mudawwanah –kitab fiqih madzhab Maliki– lebih dari 1.000 kali.”

Ahli fiqih dan ahli hadits Abu Bakar al-Anbari berkata, “Aku membaca kitab Mukhtashar Ibnu Abi Hakam sebanyak 500 kali, al-Asadiyah 75 kali, al-Muwaththa` 45 kali, Mukhtashar al-Barqi 70 kali, dan al-Mabsuth sebanyak 70 kali.”

Jika ada yang bertanya, “Kaum salaf berbeda-beda dalam mengulang hafalannya, lantas berapa batas mengulang yang paling baik?”

Jawabannya bahwa tidak ada batasan atau patokan, karena masing-masing orang berbeda-beda kondisinya. Hanya saja, pada umumnya mereka mengulang-ulang antara 50 sampai 100 kali.

Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisaburi al-Faqih berkata:

لا يَحْصُلُ الْحِفْظُ إِلَيَّ حَتَّى يُعَادَ خَمْسِينَ مَرَّةً

“Bagiku hafalan tidak akan kokoh hingga diulang-ulang sebanyak 50 kali.”

Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata:

كَانَ أَبُو إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيُّ يُعِيدُ الدَّرْسَ مِائَةَ مَرَّةٍ، وَإِنْ كَانَ إِلْكِياَ يُعِيدُ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Abu Ishaq asy-Syairazi mengulang-ulang pelajaran hingga 100 kali, sementara Ilkiya mengulang-ulang pelajaran hingga 70 kali.”

Perlu diketahui bahwa hal ini hanya berlaku sebentar tidak begitu lama, karena seiring dengan banyaknya hafalan dan digunakannya otak untuk menghafal dan mengulang-ulang, setelah itu otak akan cepat merekam apa yang didengar dan dibaca, bahkan terkadang hanya sekali dengar dan baca langsung hafal, sebagaimana penjelasan otak di muka. Contohnya adalah Imam asy-Sya’bi, Imam az-Zuhri, Abu Zur’ah ar-Razi, Sufyan ats-Tsauri, Qatadah bin Du’amah, dan Imam asy-Syafi’.

Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:

مَا كَتَبْتُ سَوْدَاءَ فِي بَيْضَاءَ إِلَى يَوْمِي هَذَا، وَلاَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ بِحَدِيْثٍ قَطُّ إِلاَّ حَفِظْتُهُ، وَلاَ أَحْبَبْتُ أَنْ يُعِيْدَهُ عَلَيَّ

“Aku tidak pernah menulis sesuatu yang hitam di dalam sesuatu yang putih. Tidak pernah seorang pun menyampaikan hadits kepadaku melainkan aku telah menghafalnya, dan aku tidak suka dia mengulanginya untukku.”

Abu al-Khaththab Qatadah bin Du’amah as-Sadusi (w. 118 H) berkata:

مَا سَمِعَتْ أُذُنَايَ شَيْئًا قَطُّ إِلا وَعَاهُ قَلْبِي

“Tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu melainkan akan dihafal oleh hatiku.”

Sufyan ats-Tsauri berkata:

إِنِّيْ لَأَمُرُّ بِالحَائِكِ فَأَسُدُّ أُذُنَيَّ مَخَافَةَ أَنْ أَحْفَظَ مَا يَقُوْلُ

“Aku pernah melewati seorang penenun lalu aku sumbat kedua telingaku karena khawatir aku hafal apa yang dikatakannya.”

Abu Zur’ah ar-Razi berkata:

وَمَا سَمِعَ أُذُنَيَّ شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ وَعَاهُ قَلْبِي، فَإِنِّي كُنْتُ أَمْشِي فِي سُوْقِ بَغْدَادَ فَأَسْمَعُ مِنَ الْغُرَفِ صَوْتَ الْمُغَنِّيَاتِ فَأَضَعُ أُصْبُعِي فِي أُذُنَيَّ مَخَافَةَ أَنْ يَعِيَهُ قَلْبِي

“Tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu dari ilmu melainkan akan dihafal oleh hatiku. Aku pernah berjalan di pasar Baghdad lalu aku mendengar dari beberapa ruko suara para biduanita lalu aku menyumbatkan jari-jemariku kedua telingaku karena khawatir akan dihafal hatiku.”[]

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad? hal.82-88 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.

Artikel: http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*