Sepenggal Kisah Ahli Hadits yang Mengagumkan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Ilmu Hadits 0 Comments

Berikut akan penulis bawakan beberapa riwayat tentang sepenggal kisah agung dan hafalan ahli hadits dari kaum salaf rahimahumullah.

Diriwayatkan bahwa Warraq berkata tentang Abu Thayyib al-Mutanabi, “Aku tidak tahu ada yang lebih kuat hafalannya daripada pemuda ini. Pada suatu hari dia berada di sisiku. Lalu tiba-tiba ada seseorang menawarkan sebuah kitab karya al-Ashma’i sebanyak 30 lembar untuk dijual. Lalu diambilnya kitab itu dan dilihat beberapa lama. Lelaki itu berkata kepadanya, ‘Hai orang, aku hendak menjualnya, tetapi kamu justru menunda-nundanya. Jika kamu mau menghafalnya bisa sebulan insya Allah.” Dia berkata, ‘Jika saya berhasil menghafalnya tadi, apa yang akan kamu perbuat untukku?’ Dia berkata, ‘Aku akan berikan kitab itu padamu cuma-cuma.’ Lalu dia meletakkan lembaran-lembaran itu di depan lalu membacanya secara hafalan dari awal hingga akhir. Usai itu, kitab itu diambil dan disimpan di dalam lengan bajunya. Pemilik kitab itu merebutnya dan meminta harga. Al-Mutanabi berkata, ‘Kamu tidak boleh melakukan itu, karena kamu telah memberikannya kepadaku cuma-cuma.’ Aku ikut membelanya dan berkata, ‘Kamu tadi telah membuat janji bahwa kitab ini untuknya  atas syarat yang kamu buat sendiri.’ Akhirnya dia merelakannya.”

Al-Azhari berkata, “Ad-Daruquthni adalah orang yang cerdas. Jika disebutkan di sisinya ilmu apapun, dia sangat menguasainya. Muhammad bin Thalha an-Ni’ali pernah bercerita kepadaku bahwa dia pernah menghadiri jamuan makan bersama Abu al-Hasan ad-Daruquthni pada suatu malam. Mereka berbincang-bincang tentang kisah orang-orang yang gemar makan. Tiba-tiba Abu al-Hasan terdorong berkisah tentang kabar-kabar mereka, hikayat-hikayat, dan hal-hal aneh tentang mereka hingga menghabiskan malamnya untuk itu (sampai menjelang pagi).”

Hisyam bin al-Kalbi berkata, “Aku hafal apa yang tidak dihafal oleh siapa pun. Aku lupa apa yang tidak dilupakan oleh siapa pun. Aku memiliki paman yang menyinggungku karena belum hafal al-Qur`an. Maka, aku masuk kamar dan bersumpah tidak akan keluar hingga selesai menghafal al-Qur`an. Akhirnya aku hafal dalam tiga hari. Pada suatu hari aku mengaca di depan cermin lalu memegang jenggotku, ternyata jenggotku belum cukup dipegang.”

Diriwayatkan dari al-Azhari bahwa dia berkata, “Aku pernah hadir di sisi Abu Abdillah bin Bukair yang di depannya banyak berjuz-juz kitab. Aku menatapnya dalam-dalam lalu dia berkata kepadaku, ‘Manakah yang kamu suka: kamu menyebutkan matan yang kamu suka kepadaku dari hadits-hadits ini lalu aku akan sebutkan kepadamu sanadnya, atau kamu menyebutkan sanadnya kepadaku lalu aku akan sebutkan kepadamu matannya?’ Maka, aku sebutkan matan kepadanya lalu dia menyebutkan sanadnya dari hafalannya. Aku terus melakukannya berulang kali.”

Diriwayatkan dari Hamzah bin Muhammad bin Thahir bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah bin Duwais, “Aku selalu melihatmu mendiktekan dengan hafalanmu, mengapa kamu tidak mendiktekan dari kitabmu (agar akurat)?’ Lalu dia berkata kepadaku, ‘Perhatikan apa yang aku diktekan, jika ada kesalahan dalam apa yang aku diktekan aku akan mendiktekan dari kitabku, jika kedua-duanya cocok lantas untuk apa keperluanku terhadap kitab???’”

Imam asy-Sya’bi (w. 105 H), berkata, “Al-Hajjaj bin Yusuf bertanya kepadaku tentang faraidh (ilmu warisan) seraya berkata, ‘Apa pendapatmu tentang pembagian saudari perempuan, ibu, dan kakek?’ Aku menjawab, ‘Masalah ini diperselisihkan oleh lima shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Ali, dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahnum.’ Dia bertanya, ‘Apa pendapat Ibnu Abbas mengenai hal itu dalam fatwanya?’ Aku menjawab, ‘Ia menjadikan kakek sebagai ayah, memberikan ibu sepertiga, dan tidak memberi saudari perempuan sedikitpun.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Amirul Mukminin?’ Yakni Utsman, aku menjawab, ‘Dia menjadikannya masing-masing mendapatkan sepertiga.’ Dia bertanya, ‘Apa pendapat Zaid bin Tsabit mengenai hal ini?’ Aku menjawab, ‘Ia menjadikannya berpenyebut sembilan lalu memberi ibu tiga bagian, memberi kakek empat bagian, dan memberi saudari perempuan dua bagian.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Ibnu Mas’ud?’ Aku menjawab, ‘Dia menjadikannya berpenyebut enam lalu memberikan saudari perempuan tiga bagian, ibu satu bagian, dan kakek dua bagian.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Abu Turab?’ Yakni Ali, aku menjawab, ‘Ia menjadikannya berpenyebut enam, lalu memberikan saudari perempuan tiga bagian, memberi kakek satu bagian, dan memberi ibu dua bagian.’ Al-Hajjaj berkata, ‘Perintahkan qadhi supaya memutuskan masalah ini sebagaimana yang diputuskan oleh Amirul Mukminin Utsman.’”

Sa’id bin al-Musayyid (w. 94 H) berkata kepada Qatadah (w. 118 H):

أَكُلُّ مَا سَأَلْتَنِي عَنْهُ تَحْفَظُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، سَأَلْتُكَ عَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، وَعَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، وَعَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، فَقَالَ سَعِيدٌ: مَا ظَنَنْتُ أَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ مِثْلَكَ

“Apakah setiap yang kamu tanyakan kepadaku kamu hafal?” Dia menjawab, “Ya. Aku bertanya tentang demikian lalu Anda menjawab demikian, dan tentang ini lalu Anda menjawab begini, dan tentang ini lalu Anda menjawab begini.” Lalu Sa’id berkata, “Aku tidak menyangka bahwa Allah menciptakan orang sepertimu.”

Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:

مَا سَمِعْتُ مُنْذُ عِشْرِيْنَ سَنَةً رَجُلاً يُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ إِلاَّ أَنَا أَعْلَمُ بِهِ مِنْهُ، وَلَقَدْ نَسِيْتُ مِنَ العِلْمِ مَا لَوْ حَفِظَهُ رَجُلٌ لَكَانَ بِهِ عَالِماً

“Tidaklah aku mendengar semenjak 20 tahun seseorang yang menyampaikan sebuah hadits melainkan aku mengetahui hadits tersebut. Aku telah lupa sebagian ilmu yang seandainya dihafal oleh seseorang akan menjadikannya seorang ulama.”

Ahmad bin Yahya Tsa’lab berkata, “Aku belajar bahasa dan nahwu saat berumur 16 tahun. Aku mulai berdiskusi tentang kitab al-Hudûd karya al-Farra` saat berumur 18 tahun. Saat aku menginjak umur 25 tahun, tidak tersisa satu masalah pun dari al-Farra` ataupun dari kitab-kitabnya melainkan telah aku hafal. Aku juga mendengar hadits dari al-Qawariri sebanyak 100.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia berkata:

قَالَ لِي أَبِي: خُذْ أَيَّ كِتَابٍ شِئْتَ مِنْ كُتُبِ وَكِيعٍ مِنَ الْمُصَنَّفِ، فَإِنْ شِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الْكَلامِ حَتَّى أُخْبِرَكَ بِالإِسْنَادِ، وَإِنْ شِئْتَ الإِسْنَادَ حَتَّى أُخْبِرَكَ بِالْكَلامِ

“Ayah berkata kepadaku, ‘Ambillah kitab mana saja yang kamu suka dari kitab-kitab Waki’ yang pernah dikarang. Jika kamu mau kamu memintaku menyebutkan matannya lalu aku akan sebutkan kepadamu sanadnya, dan jika kamu mau sanadnya aku akan sebutkan kepadamu matannya.”

Diriwayatkan bahwa Abu Zur’ah ar-Razi ditanya:

مَنْ رَأَيْتَ مِنَ الْمَشَايِخِ الْمُحَدِّثِينَ أَحْفَظَ؟ قَالَ: أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حُزِرَتْ كُتُبُهُ الْيَوْمَ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، فَبَلَغَتِ اثْنَيْ عَشَرَ حَمْلاً وَعَدْلاً، مَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ كِتَابٍ مِنْهَا حَدِيثُ فُلانٍ، وَلا فِي بَطْنِهِ حَدَّثَنَا فُلانٌ، وَكُلُّ ذَلِكَ كَانَ يَحْفَظُهُ مِنْ ظَهْرِ قَلْبِهِ

“Siapakah menurutmu dari para masyayikh ahli hadits yang paling hafizh?” Dia menjawab, “Ahmad bin Hanbal. Kitab-kitabnya pernah dikumpulkan saat kematiannya dan mencapai 12 pikulan lebih satu adl. Tidak satupun hadits yang ada di kitab-kitab tersebut dan tidak pula yang isinya ‘telah menceritakan kepada kami’ melainkan semuanya telah dihafal di dalam hatinya.”

Cuma satu kata, MENGAGUMKAN![]

* Dinukil dari Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad hal. 22-28 cet Pustaka Syabab karya Abu Zur’ah Ath-Thaybi. Untuk takhrij dan referensi silahkan merujuk ke buku aslinya. Marketing Pustaka Syabab 085730 219 208.

Artikel: http://thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*