Nyaris Bebatuan Jatuh dari Langit !

Abu Musa al-Fadaniy Aqidah, Khazanah Islamiyah 0 Comments

Tajuk dari tulisan ini terinspirasi dari ucapan yang serupa dengan ucapannya sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-, yakni Ibnu Abbas -Radiyallahu ‘anhu- kepada seseorang yang bertanya kepadanya,

 

وقال ابن عباس : يوشك ان تنزل عليكم حجارة من السماء اقول قال رسول الله , وتقولون : قال ابو بكر و عمر
Telah berkata Ibnu Abbas :
Hampir saja akan jatuh kepada kalian bebatuan dari langit, (disebabkan) aku sampaikan (kepada kalian) ucapannya Rasulullah -Shallalalhu ‘Alaihi Wa Sallam-, sedangkan kalian membantah : “Telah berkata Abu Bakar dan Umar” 
[*Mengutip dari Kitab القول السديد شرح كتاب التوحيد ]

Keluarnya perkataan Ibnu Abbas -Radiyallahu’anhu- tersebut  disebabkan seseorang  yang menanyakan perihal haji, lantas Ibnu Abbas -Radiyallahu’anhu- menjawab pertanyaan tersebut dengan membawakan hadits Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-. Namun setelahnya, orang tersebut malah membenturkan hadits yang dibawakan oleh Ibnu Abbas dengan menukilkan ucapannya Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu ‘anhuma-.

Senada dengan ucapan Ibnu Abbas -Radiyallahu ‘anhu- diatas, terdapat ucapan yang sangat mahsyur dari Imam Ahmad bin Hanbal -Rahimahullahu-,

وقال احمد بن حنبل : عجبت لقوم عرفوا الإسناد و صحته يذحبون  الى رأي سفيان , و الله تعال يقول : فليحذر الذين يخالفون عن  أمره  أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم 
Telah berkata Ahmad bin Hanbal :
Aku merasa keheranan terhadap suatu kaum yang telah menguasai perihal sanad-sanad (periwayatan hadits), dan tentang kebenarannya, namun masih saja mengambil (taqlid) pendapat Sufyan ats-Tsauri. Padahal الله Yang Maha Tinggi berfirman (di dalam surat An-Nur ayat 63)
“…maka hendaknya berhati-hati orang-orang menyelisihi perintah Rasul-Nya akan ditimpakan atas mereka berupa musibah atau ditimpakan kepada mereka adzab yang pedih”
[*Mengutip dari Kitab القول السديد شرح كتاب التوحيد ]

Ketahuilah,
tidak selayaknya kita membenturkan ucapannya Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dengan ucapan siapapun, sekalipun itu para sahabat -Radiyallahu ‘anhum.

Mengapa demikian ?

Tidak lain dikarenakan  Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dihukumi maksum !

Sehingga tidak heran Ibnu Abbas -Radiyallahu ‘anhu- marah tatkala ada seseorang yang membenturkan perkataan Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dengan ucapannya Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu ‘anhuma-.

Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu ‘anhuma- merupakan diantara sahabat Rasulullah yang paling mulia, bahkan telah dijamin Surga atas mereka, namun bagaimana pun mereka tetaplah manusia yang tidak maksum. Bisa jadi ada sebuah hadits yang belum sampai kepada mereka terkait suatu hukum , sehingga wajar jika dalam beberapa kasus ijtihad mereka, ternyata bertolak dengan hadits Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-. Sehingga ucapan Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- haruslah menempati posisi tertinggi dalam pengambilan dalil.

Ada ucapan lainnya dari Imam Ahmad bin Hanbal yang tak kalah terkenalnya,

“Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil”
(Al-Filani hal. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam (II/302))

Lihat, betapa indahnya perkataan Imam Ahmad bin Hanbal -Rahimahullahu- tersebut !

Dan betapa menakjubkan zaman kita sekarang ini, orang-orang membenturkan ucapan Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dengan ucapan ahli-ahli Ibadah  mereka ! Persis menyerupai orang-orang terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani, yang mana mereka menjadikan perkataan rahib-rahib (pendeta) atau  para ahli ibadah sebagai acuan dalam penghalalan maupun pengharaman, padahal telah jelas hukum dari Allah -Ta’ala- perihal tersebut !

وعن عدي بن حاتم : انّه سمع النبي يقرأ هذه الاية : اتخذوا احبارهم ورحبانهم أربابا من دون الله (التوبة : ) فقلت له إنّا لسنا نعبدهم قال : اليس يحرمون ما احل الله فتحرمونه , و يحلون ما حرم الله  فتحلونه . فقلت : بلى , قال : فتلك عبادتهم ( رواه أحمد و الترمذي و حسنه )ا
Dari adii bin haatim, bahwasanya ia  mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam- membacakan ayat berikut ini (Surah At-taubah ayat 31) :
“Mereka menjadikan para ‘ulama dan para Rahib sebagai tandingan selain Allah…”
Maka aku berkata kepada Rasulullah bahwasanya kami tidak pernah menyembah mereka (para ‘alim dan rahib tersebut).
Dijawab oleh Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-,
“Bukankah mereka mengharamkan apa-apa yang sebenarnya telah Allah -Ta’ala- halalkan, lalu kalian ikut mengharamkannya,
dan mereka menghalalkan apa-apa yang telah Allah -Ta’ala- haramkan, lalu kalian ikut menghalalkannya.
Maka aku menjawab :
“Benar..”
Berkata Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam-,
“Itulah (cara) penyembahan kalian kepada mereka”
[Shahih, Riwayat Ahmad dan Tirmidzi]
[*Mengutip dari Kitab القول السديد شرح كتاب التوحيد ]

Ada kiranya kita harus memahami, bahwasanya wilayah Tasyriq (menetapkan syariat) itu merupakan milik الله semata, sehingga mengharamkan apa yang telah الله halalkan, kemudian juga menghalalkan apa yang telah الله haramkan, maka ini sama saja mengambil hak prerogratif الله tersebut, yang mana sejatinya mereka telah  memposisikan diri sebagai Tuhan tandingan selain الله, Na’udzubillahi min dzalik !

Allahu A’lam


Sore yang sejuk di Ma’had Thaybah Surabaya

Penulis : Abu Musa al Fadaniy
Artikel Thayah.id


Referensi :

  • Kitab القول السديد شرح كتاب التوحيد (Karya Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di)
  • http://almanhaj.or.id
Pemuda kelahiran Ranah Minang yang sedang mengambil studi di Teknik Informatika, ITS Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*