kaya dan miskin ujian

Kaya dan Miskin Itu Ujian untuk Ditambah Atau Disiksa

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Penyejuk Hati 0 Comments

Orang jahiliyah menyangka bahwa mereka kaya itu tanda Allah cinta dan jika dia lagi miskin itu pertanda Allah tidak menyukainya. Lalu Allah membantah bahwa kaya-miskin itu bukan tanda suka-benci, tetapi ujian bagi mereka agar mereka bersyukur dan bersabar atau sebaliknya.

Allah menceritakan:

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ * وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ * َكلاَّ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’. Bukan demikain!” (QS. Al-Fajr [89]: 15-16)

Dalil kaya-miskin ujian adalah:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan (miskin) dan kebaikan (kaya) sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya [21]: 35)

Mari kita menyimak kisah 3 orang yang Allah uji dengan harta. Diriwayatkan dari Hurairah radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ ثَلاَثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ: أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا، فَأَتَى الأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ، قَالَ: فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا، وَجِلْدًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ المَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الإِبِلُ، فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشَرَاءَ، فَقَالَ: يُبَارَكُ لَكَ فِيهَا.

وَأَتَى الأَقْرَعَ فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ شَعَرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا، قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ، قَالَ: فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ وَأُعْطِيَ شَعَرًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ المَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: البَقَرُ، قَالَ: فَأَعْطَاهُ بَقَرَةً حَامِلًا، وَقَالَ: يُبَارَكُ لَكَ فِيهَا،

وَأَتَى الأَعْمَى فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: يَرُدُّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَأُبْصِرُ بِهِ النَّاسَ، قَالَ: فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ المَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ الغَنَمُ: فَأَعْطَاهُ شَاةً وَالِدًا، فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنْ إِبِلٍ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ بَقَرٍ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ غَنَمٍ،

ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى الأَبْرَصَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ، تَقَطَّعَتْ بِيَ الحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ اليَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الحَسَنَ، وَالجِلْدَ الحَسَنَ، وَالمَالَ، بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ لَهُ: إِنَّ الحُقُوقَ كَثِيرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرِفُكَ، أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيرًا فَأَعْطَاكَ اللَّهُ؟ فَقَالَ: لَقَدْ وَرِثْتُ لِكَابِرٍ عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ،

وَأَتَى الأَقْرَعَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، فَقَالَ لَهُ: مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، فَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ،

وَأَتَى الأَعْمَى فِي صُورَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِينٌ وَابْنُ سَبِيلٍ وَتَقَطَّعَتْ بِيَ الحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ اليَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرِي، وَفَقِيرًا فَقَدْ أَغْنَانِي، فَخُذْ مَا شِئْتَ، فَوَاللَّهِ لاَ أَجْهَدُكَ اليَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ لِلَّهِ، فَقَالَ أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْكَ، وَسَخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ»

“Dahulu di masa Bani Isra’il ada tiga orang: belang (sopak), botak, dan buta. Allah menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat yang datang pada orang yang belang (sopak), lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang Anda inginkan?’ Jawabnya, ‘Warna yang bagus dan kulit yang indah, karena manusia menjauhiku.’ Maka ia diusap oleh malaikat sehingga hilanglah penyakitnya, dan berubah menjadi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya, ‘Harta apa yang Anda sukai?’ Jawabnya, ‘Onta.’ Maka diberinya onta bunting sambil dido’akan semoga Allah memberkahi untukmu.

Kemudian malaikat datang kepada yang botak dan bertanya, ‘Apa yang Anda sukai?’ Jawabnya, ‘Rambut yang bagus dan hilangnya botakku ini, sebab orang selalu mengejekku.’ Maka diusap oleh malaikat itu dan langsung hilang botaknya serta tumbuh rambut yang bagus, lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang Anda sukai?’ Jawabnya, ‘Sapi.’ Maka diberinya sapi bunting sambil dido’akan, ‘Semoga Allah memberkahi untukmu.’

Kemudian malaikat datang kepada yang buta dan bertanya, ‘Apa yang Anda sukai?’ Jawabnya, ‘Aku ingin sekiranya Allah mengembalikan penglihatan mataku supaya dapat melihat manusia.’ Maka diusap oleh malaikat lalu Allah mengembalikan penghlihatannya. Malaikat bertanya, ‘Kini harta apa yang Anda sukai?’ Jawabnya, ‘Kambing.’ Lalu diberinya kambing yang bunting. Berjalanlah beberapa lama sehingga masing-masing telah memiliki selembah onta, dan selembah sapi, dan selembah kambing.

Kemudian malaikat itu kembali kepada orang yang dahulunya belang (sopak) itu seperti rupa dan keadaannya terdahulu (belang) dan berkata, ‘Saya seorang miskin yang terhenti karena pegunungan, maka tiada yang dapat menyampaikan aku ke tujuan kecuali pertolongan Allah kemudian bantuanmu, aku mohon kepadamu demi Allah yang memberimu warna yang indah, kulit yang bagus, serta harta kekayaan satu onta untuk menyampaikan aku ke tujuanku dalam bepergian ini.’ Jawabnya, ‘Hak-hak orang masih banyak.’ Lalu malaikat berkata, ‘Aku seperti kenal Anda. Tidakkah Anda dahulu belang sehingga dibenci manusia, miskin kemudian diberi kekaya­an oleh Allah?’ Jawabnya, ‘Sungguh aku mewarisi harta ini dari orang tua.’ Maka malaikat berkata, ‘Jika Anda dusta, semoga Allah mengembalikan Anda pada keadaan yang dahulu itu.’

Kemudian malaikay mendatangi si (mantan) botak seperti rupa dan keadaannya terdahulu (botak) dan berkata seperti yang dikatakan kepada si belang. Ia pun menjawab seperti jawaban si belang sehingga malaikat berkata, ‘Jika Anda dusta, semoga Allah mengembalikan Anda pada keadaan yang dahulu itu.’

Kemudian malaikat datang kepada si (mantan) buta dan berkata, ‘Saya seorang miskin yang terhenti karena pegunungan, maka tiada yang dapat menyampaikan aku ke tujuan kecuali pertolongan Allah kemudian bantuanmu, aku mohon kepadamu demi Allah yang mengembalikan penglihatanmu seekor kambing untuk menyampaikan aku ke tujuanku dalam bepergian ini.’ Jawabnya, ‘Benar dahulu aku buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku dan miskin kemudian Allah mengkayakan aku, maka kini ambillah sesukamu, demi Allah aku takkan melarangmu mengambil sesuatu yang Anda ambil karena Allah.’ Maka malaikat itu berkata, ‘Tahanlah hartamu, sebenarnya kalian bertiga sedang diuji oleh Allah. Allah ridha kepadamu dan murka pada kedua kawanmu.’” (HR. Al-Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964)

Allahu a’lam.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*