Kamu Suka Mengkafirkan !

Abu Musa al-Fadaniy Aqidah, Khazanah Islamiyah, Manhaj 2 Comments

Sering kali terjadi kesalapahaman di level ‘grassroot’ masyarakat kita (atau bahkan kita ?), yakni tatkala  mereka mendengarkan potongan kajian para ustadz Ahlus Sunnah.

 

Kesalapahaman yang bagaimana ?

Tatkala sang ustadz mengatakan,

“Memberikan sesajen kepada Nyi Loro Kidul termasuk kepada Syirik Akbar, yang mana dapat membatalkan keislaman”

atau

“Berdoa kepada yang dzat yang ghaib kepada selain Allah -Ta’ala-, seperti memohon kepada arwah penghuni kubur, maka ini perkara kesyirikan yang dapat membatalkan keislaman”

 

Lantas sebagian masyarakat kita langsung menindas dengan mengatakan,

“Tuh kan bener, Arab Saudi itu memang sarangnya Wahabi, ustadz-ustadz lulusan sana itu suka mengkafirkan, masa iya masyarakat kita yang niatnya untuk pergi Wisata Religi malah dikafir-kafirkan !”

 

Nah, disini lah sebenarnya titik persoalannya !

Seringkali kita tidak memahami bahwa perkataan para ustadz yang demikian itu tidak menghukumi kafir secara individu/personal, melainkan mereka hanya menyampaikan bahwa perbuatan yang demikian itu termasuk perbuatan kufur. Tidaklah sama antara menghukumi seseorang telah kafir dengan menghukumi suatu perbuatan hukumnya kufur, sekali lagi TIDAK SAMA !

Sekian lama kita ngaji sunnah, belum pernah terdengar salah seorang ustadz Ahlus Sunnah memvonis kafir secara individu-individu. Sama sekali tidak pernah.

 

Nah,
mari simak kaidah yang sangat indah terkait masalah Takfir dari Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsary dalam kitab beliau  الوجيز في عقيدة السلف الصالح اهل السنة و الجماغة

لا يكفرو احدا بعينه من مسلمين ارتكب مكفّرا الا بعد اقامة الحجة التي يكفر بموجبها

[Tidak boleh (Ahlus Sunnah) mengkafirkan secara langsung (ta’yin)[1] terhadap seorang muslim yang melakukan perkara kufur, kecuali jika telah ditegakkan hujjah (kepadanya), yang mana dia dikafirkan dengan faktor-faktor yang mengharuskannya ]

 

Perhatikan !

TIDAK BOLEH hukumnya seorang Ahlus Sunnah mengkafirkan salah seorang dari muslimin secara individu/perorangan, sekalipun orang itu tertangkap basah melakukan perkara kufur (semisal nyembah kuburan), kecuali sang Qadhi (Hakim Syariah) telah menyidang kekufurannya. Tatkala sang Qadhi berhasil menyingkap kekufuran pelaku syirik tersebut, dan hujjah pun telah ditegakkan atas pelaku syirik tersebut, sedangkan orang tersebut tidak juga bertobat, maka BOLEH bagi Qadhi (Hakim Syari’ah) menghukumi secara Ta’yin (tunjuk hidung) bahwa orang tersebut telah batal keislamannya.

 

Kiranya kaidah ini harus ketahui oleh masyarakat kita yang sudah terlanjur begitu paranoid terhadap ustadz-ustadz yang mengingatkan akan bahaya Bid’ah & Syirik. Dan kaidah ini juga harus diketahui oleh masyarakat kita (khususnya para pemuda) yang semangat agamanya tinggi namun jauh dari Al Qur’an & As sunnah, yang mana mereka bermudah-mudah mengkafirkan pemerintah, aparat keamanan, bahkan mengkafirkan sanak keluarga sendiri, Na’udzubillahi min dzalik !

Allahu A’lam.

 

[1] – بعينه dapat dipahami dengan tunjuk hidung (secara langsung)

 

Referensi

  • Kitab  الوجيز في عقيدة السلف الصالح اهل السنة و الجماغة karya Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsary

 


 

Penulis: Abu Musa al-Fadaniy

Artikel thaybah.id

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang sedang mengambil studi di Teknik Informatika, ITS Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Comments 2

    1. Post
      Author

      Wa alaikum salam, semua artikel disini hak ciptanya hanya milik Allah -‘Azza Wa Jalla-, silahkan dishare kapanpun.

      Dan tidak perlu memanggil dengan sebutan “ustadz”, penulis hanya mahasiswa semester 7 Teknik Informatika ITS yang juga sedang mendalami ilmu syar’i.

      Wa Jazaakallahu khairan katsiran, yaa akhi kariim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*