faqih

Faqih

Brilly El-Rasheed Tsaqafah 0 Comments

Muqaddimah Ibnu Khaldun menyampaikan,

مقدمة ابن خلدون – (1 / 255)

الفقة هو معرفة أحكام الله تعالى في أفعال المكلفين، بالوجوب والحظر والندب والكراهة والإباحة ، وهي متلقاة من الكتاب والسنة وما نصبه الشارع لمعرفتها من الأدلة، فإذا استخرجت الأحكام من تلك الأدلة قيل لها فقة.

“Fiqh adalah mengetahui hukum-hukum Allah Ta’ala dalam kaitannya dengan perbuatan hamba yang sudah mukallaf. Tentang hal yang wajib, diperintahkan, nadb, dibenci, dan mubah. Fiqih merupakan penggabungan Al-Qur`an dan As-Sunnah dan segala apa yang Allah Asy-Syari’ kaitkan dengannya untuk mengetahui dalil-dalilnya. Maka hukum yang dihasilkan dari dalil-dalil itulah yang disebut fiqih secara totalitas.”

Banyak dari kita yang merasa sudah faqih padahal masih faqir terhadap ilmu-ilmu syar’i. Baru belajar terjemah Al-Qur`an dan buku-buku terjemah hadits saja sudah merasa faqih, lantas menghukumi ini dan itu, halal dan haram, hanya berdasarkan hasil terjemahan, itupun masih ditambahi lagi dengan pandangan-pandangan pribadi dan meyakini sudah benar muthlaq.

Kita perlu mengetahui bagaimana ciri khas faqih dan perinciannya agar kita tidak tertipu oleh penilaian diri sendiri terhadap diri sendiri, juga agar kita tidak merasa sudah faqih padahal masih faqir. Dengan mengetahui karakter faqih, kita akan semakin tawadhu’, zuhud, semangat ta’allum (belajar ilmu syar’i) dan ta’lim (mengajarkan ilmu syar’i).

Salah satu ciri faqih adalah selalu bergumul dengan ilmu-ilmu syar’i dan senantiasa berupaya menghidupkannya dalam kehidupan.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.” [Shahih Al-Bukhari no.71, 3116, 7312; Shahih Muslim no. 1038].

والله جل وعلا يريد في خلقه ما يشاء من خير وشر لكن إرادته خير وأما مراداته ففيها الخير والشر كل قضائه خير وأما مقتضياته ففيها الخير والشر والناس أوعية.

Dan Allah Jalla wa ‘Ala menghendaki bagi makhluq-Nya apa yang dia kehendaki dari kebaikan dan keburukan. Akan tetapi semua kehendak-Nya adalah kebaikan, adapun bentuk kehendak-Nya ada yang baik dan ada yang buruk, semua qadha`-Nya adalah baik, adapun bentuk qadha`-Nya ada yang baik dan ada yang buruk. Dan manusia tinggal menerimanya.

منهم من يعلم الله تعالى في قلبه خيرا فيوفقه ومنهم من يعلم الله في قلبه شرا فيخذله

Di antara manusia, ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ketahui kebaikan dalam qalbunya maka Allah berikan taufiq kepadanya, dan di antara mereka ada yang Allah ketahui kejelekan dalam qalbunya maka Allah menghinakan dan merendahkannya.

أما من علم الله في قلبه خيرا فإن الله يوفقه فإذا علم الله في قلب الإنسان خيرا أراد به الخير وإذا أراد به الخير فقهه في دينه وأعطاه من العلم بشريعته ما لم يعط أحدا من الناس وهذا يدل على أن الإنسان ينبغي له أن يحرص غاية الحرص على الفقه في الدين لأن الله تعالى إذا أراد شيئا هيئ أسبابه ومن أسباب الفقه أن تتعلم وأن تحرص لتنال هذه المرتبة العظيمة أن الله يريد بك الخير فاحرص على الفقه في دين الله والفقه في الدين ليس هو العلم فقط بل العلم والعمل

Orang yang Allah ketahui kebaikan dalam qalbunya berarti Allah menginginkan kebaikan untuknya, dan bila Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah faqihkan dia dalam agama-Nya dan Allah berikan padanya ilmu tentang syariat-Nya yang tidak diberikan kepada orang lain. Hal ini menunjukkan sepantasnya manusia itu bersemangat dengan semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk memahami agama Allah, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila menghendaki terhadap sesuatu, Allah akan mempersiapkan sebab-sebab untuk mendapatkannya. Dan di antara sebab seorang itu faqih dalam din adalah dengan mempelajarinya dan bersungguh-sungguh untuk mencapai martabat yang mulia ini. Kefaqihan dalam agama tidak sebatas hanya kepada pengilmuan saja tapi juga dibarengi dengan pengamalan.

فإذا علم الإنسان الشيء من شريعته الله ولكن لم يعمل به فليس بفقيه حتى لو كان يحفظ أكبر كتاب في الفقه عن ظهر قلب ويفهمه لكن لم يعمل به فإن هذا لا يسمى فقيها يسمى قارئا لكن ليس بفقيه. الفقيه هو الذي يعمل بما علم فيعلم أولا ثم يعمل ثانيا

Karena itu bila seseorang mengetahui sesuatu dari syariat Allah akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka dia bukanlah orang yang faqih, sampaipun seandainya ia menghapal kitab yang paling besar dalam ilmu fiqih (dan kitab-kitab lain dari cabang ilmu yang lain –pen) dan memahaminya akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka orang seperti ini tidaklah dinamakan faqih tapi dia hanya disebut qari (pembaca). Dengan demikian orang yang faqih adalah orang yang beramal dengan apa yang diilmuinya. Ia berilmu terlebih dahulu kemudian diikutkannya dengan amalannya. [Syarh Riyadh Ash-Shalihin, Ibnu ‘Utsaimin, 3/497-498]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*