Bahaya Mencari Ridho Orang Lain diatas Murka ALLAH

Abu Ahmad al-Jugjawy Mutiara Faidah 0 Comments

Diantara resiko saat kita berbuat ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah membuat orang lain tidak suka terhadap kita. Resiko yang satu ini memang sangat ditakuti oleh kebanyakan orang, karena manusia merupakan makhluk sosial. Banyak orang sangat takut jika dirinya tidak disukai orang lain karena takut kehilangan teman, jabatan, harta, dan lain sebagainya. Namun sebagai muslim yang seharusnya bertauhid dan bertawakkal pada Allah, apakah kita akan mengikuti hawa nafsu pada hati kita yang takut terhadap ketidak-sukaan manusia, kemudian mengurungkan niat kita untuk melakukan ketaatan maupun menjauhi kemaksiatan, yang artinya membuat Allah murka? Menyenangkan manusia memang boleh-boleh saja, namun mana yang harus kita pilih apabila kita dihadapkan dengan pilihan dengan resiko seperti ini; membuat manusia suka namun Allah murka, atau membuat manusia tidak suka namun Allah ridho. Manakah yang kita pilih jika kita dihadapkan pilihan dan resiko seperti yang tadi disebutkan? Benarkah apabila kita dengan berbagai alasan, memilih membuat manusia suka terlebih dahulu namun dengan kemurkaan Allah?

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.”

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.

Kalau kita renungkan, merupakan perbuatan yang tidak baik jika kita melakukan sesuatu untuk mencari ridho manusia namun membuat Allah murka. Apakah kita lebih memilih dicintai manusia dibanding dengan dicintai Allah, lebih takut dijauhi manusia daripada dijauhi Allah, lebih takut terhadap murka manusia yang tidak berdaya ketimbang murka Allah Subhanahuwata’ala yang maha kuasa atas segala sesuatu? Oleh karena itu dari hadist diatas, dapat diambil pelajaran apabila dihadapkan dengan suatu pilihan, maka pilihlah pilihan yang membuat Allah ridho, sekalipun beresiko membuat manusia tidak suka terhadap kita. Apalagi dalam hadist tersebut dijelaskan bahwasannya ujung-ujungnya Allah juga akan membuat manusia ridho/tidak berkuasa atas kita jika kita benar-benar mencari ridho Allah diatas manusia, dan kita-pun mendapatkan ketenangan. Sebaliknya bagi yang mendahulukan ridho manusia diatas ridho Allah, maka Allah akan murka dan Allah-pun akan membuat manusia murka terhadap dirinya atau seseorang tersebut akan tergantung pada manusia dan menjadi hina dihadapan manusia, na’udzubillahimindzaalik.

Selain itu juga harus selalu kita sadari bahwasannya ridho manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa tercapai. Karena selera manusia selalu berubah-ubah dan setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i,

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ  “Ridho manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai”

Sebagai penutup, penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi orang lain. Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk dan kekuatan agar kita dapat istiqomah dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan menjauhkan sikap takut pada manusia yang berlebihan, dan tidak padatempatnya.

Referensi :

 


 

Penulis: Abu Ahmad al-Jugjawy

dimuroja’ah : Abu Zur’ah ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

Mahasiswa aktif Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*