Anda Belum Membunuh 100 Orang

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 0 Comments

Pernahkah Anda kebayang membunuh 100 orang? Tentu tidak kebayang, apa kata orang nanti jika berbuat dosa besar itu. Pasti itu orang bejad sekali. Alhamdulillah, Anda tidak sampai seperti itu. Kita adalah manusia ya.ng banyak dosa. Kita akui itu kepada Allah. Namun, kita tidak sejahat orang yang membunuh 100 orang. Dosa-dosa kita tidak sampai membunuh orang. Tapi tahukah Anda bahwa orang yang membunuh 100 orang saja Allah berkenan ampuni, apalagi dengan kita. Maka jangan pernah putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya. Yakinlah Allah akan memaafkan kita jika kita bertaubat kepada-Nya. Putus asa dan pesimis dari rahmat Allah adalah tanda oran kafir:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87)

Mari kita mendengar kisah pembunuh 100 orang ini. Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ إِنْسَانًا، ثُمَّ خَرَجَ يَسْأَلُ، فَأَتَى رَاهِبًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ لَهُ: هَلْ مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: لاَ، فَقَتَلَهُ، فَجَعَلَ يَسْأَلُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: ائْتِ قَرْيَةَ كَذَا وَكَذَا، فَأَدْرَكَهُ المَوْتُ، فَنَاءَ بِصَدْرِهِ نَحْوَهَا، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ العَذَابِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي، وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي، وَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَهُمَا، فَوُجِدَ إِلَى هَذِهِ أَقْرَبَ بِشِبْرٍ، فَغُفِرَ لَهُ»

“Dahulu di masa Bani lsra’il ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia keluar pergi kepada seorang pendeta untuk bertanya, ‘Apakah masih diterima taubatku?’ Dijawabnya, ‘Tidak.’ Maka dia pun dibunuh. Kemudian dia mulai bertanya lagi dan seseorang berkata kepadanya, ‘Pergilah ke dusun itu!’ Maka pergilah ia, tiba-tiba mati di tengah jalan dan dadanya condong ke dusun itu. Malaikat Rahmat berteng­kar dengan Malaikat Adzab, kemudian Allah memerintahkan bumi supaya mendekat, dan bagian bumi yang lain untuk menjauh, lalu Allah menyuruh, ‘Ukurlah jarak antara keduanya.’ Maka diukur dan didapati lebih dekat ke dusun yang dituju, maka dia pun diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766)

Allahu a’lam.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*