Aku Tidak Ingin Jadi Orang Awam Selamanya

Abu Muslim al-Kadiriy Penyejuk Hati, Tsaqafah 0 Comments

“Aku tidak ingin jadi orang awam selamanya!”

Tatkala aku sholat, aku takbir setinggi bahu, sedangkan temanku setinggi telinga. Lantas, muncul perdebatan. “Kamu salah, aku yang benar”. Aku bilang ini dari guru SMP-ku, dia bilang ini dari guru SMA-ku. Kemudian, hubungan kami jadi renggang.

Tatkala aku berzakat, aku membayar dengan sekantung beras, sedangkan temanku dengan uang. Aku yakin harusnya pakai beras, wong dari SD juga begitu. Temanku ngotot tak terima. Kemudian, renggang lagi hubungan kami.

Tatkala aku tarawih, aku sholat 11 rakaat, sedangkan kawanku di masjid sebelah hingga 23 rakaat. Dia bilang aku tidak sesuai ulama, aku balas dia tidak sesuai Nabi. Lalu, semakin renggang hubungan kami.

*

Disuruh jadi guru TPQ di organisasi dakwah, aku pun berkeringat dingin. Owalah, baca Al-Qur’an saja masih terbata-bata, apalagi ngajarkan???

Tiap pekan, rubrik yang menarik di koran itu rubrik zodiak. Kubaca rubrik itu, keren pikirku. Tiba-tiba di suatu saat, aku dengar bahwa baca zodiak itu syirik…

Saat mau cari kerja, aku ingin bekerja di bank. Kata orang-orang, bank itu jalur pintas ngeruk uang. Tapi, ada yang bilang, bank itu riba. Riba itu pa sih?

Katanya ada tren pacaran Islami. Jadilah diriku tertarik, secara ada embel-embelnya Islam, aman jadinya. Gitu pikirku…

Musik sudah seperti bagian hidupku. Asyik rasanya bila bermain gitar sampai piano. Sampai suatu saat, di medsos ada yang share: musik itu haram. Lah?

Lelaki gak keren kalau berjenggot, kelihatan tua dan galak. Dicukur kali ya? Eh, kemudian nemu website membahas jenggot…haram dicukur!

Tanggal 25 Desember. Banyak teman-temanku mengucapkan selamat Natal pada teman-teman non-Islam. Aku pun ikut-ikutan. Sebelum terjadi, ada teman yang posting kalau orang muslim gak boleh memberi ucapan selamat Natal. Katanya negara toleransi….??!!!

Malam tahun baru adalah momen setahun sekali. Belum tentu ketemu lagi tahun depan. Belilah terompet buat nanti malam. Baru sebelum malam tiba, aku dapat artikel dari teman; “Haram malam tahun baruan karena menyerupai orang kafir”. “…”

Perayaan kegiatan Islami sudah jadi budaya, khususnya di daerahku. Maulidan, isro’ miroj-an, tahlilan gak boleh lupa. Tapi, ada kejadian warga yang membahas bahwasanya kegiatan ini semuanya bid’ah. Semua bid’ah itu sesat…Sebelum dilanjut, bid’ah itu apa ya?

*

Lihatlah betapa besar efek negatif yang ditimbulkan karena ketidaktahuan orang awam akan agama. Terjadi banyak kerenggangan antarteman. Tidak jarang juga cekcok dan pertengkaran yang disebabkan sama-sama ngotot yang tidak ilmiah sama sekali; debat kusir istilahnya.

Memang patut dikasihani menjadi orang awam. Ilustrasi di atas menggambarkan sedihnya jadi orang awam. Ternyata, banyak sekali hal yang dia tidak tahu dalam agama. Beramal untuk diri sendiri saja masih kebingungan sangat. Ini benar gak ya, ini sah gak ya, dsb. Sangat mudah terombang-ambing oleh gelombang keraguan dari pihak luar sana. Mengerikan bukan!

Berbicara orang awam, orang awam ialah mereka yang belum bisa memahami persoalan agama secara komprehensif atau menyeluruh. Bukan ranah mereka memang ketika muncul persoalan agama seputar perbedaan-perbedaan seperti ilustrasi di atas. Bahkan, mereka tidak pantas berdebat soal agama karena memahami dalil saja belum mampu.

Orang awam memang tidak seluruhnya tercela. Yang tercela ialah ketika mereka lalai dari belajar ilmu agama karena tenggelam dalam urusan duniawi semata

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” [1]

Perkataan bagus diutarakan oleh  Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi-hafizhahullah- ketika menjelaskan ayat di atas:

“Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.”[2]

Padahal, Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. [3]

Masihkah kita ingin berada dalam lingkaran kejahilan akan agama? Masihkah kita ingin menjadi orang awam, selamanya?

*

Solusi dari kesedihan orang awam, yaitu niatkan diri untuk belajar agama Islam. Sungguh nikmat yang tiada tara tatkala seseorang mempelajari agama Islam. Dia akan meraih kebaikan yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’Ala.

Nabiyullah-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah membuatnya faqih (paham) agama.” [4]

Berarti, kebaikan hanya dapat diraih dengan kita mempelajari ilmu agama.

Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- juga bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menemuh jalan menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [5]

Lihatlah kebaikan ketika orang awam naik tingkat menjadi tholibul ‘ilmi.

Bila seseorang mempelajari ilmu agama dengan benar, tidak akan dia mendapati dirinya berdebat dalam masalah-masalah yang harusnya ada toleransi, seperti mengangkat tangan ketika takbir di ilustrasi atas. Dia mampu untuk menyatukan perbedaan yang ada di masyarakat yang disebabkan kejahilan/ketidaktahuan mereka akan agama.

Dia tidak akan kebingungan bila disuruh mengajarkan baca Al-Qur’an. Dia tidak bingung untuk cari profesi yang halal tanpa riba. Dia tidak bingung juga soal ibadah-ibadah yang mendasar. Dia juga bisa paham akan adanya persoalan bid’ah di masyarakat.

*

Pada akhirnya, kita senantiasa memohon hidayah kepada Allah Al-Haadiy agar diberikan kebaikan dan dimudahkan jalan menuju surga melalui ilmu agama yang mulia ini. Sebab, kita senantiasa harus khawatir andaikan kita tergolong orang-orang yang lalai seperti dijelaskan surat Ar-Ruum sebelumnya.

Kita khawatir andaikan kita tidak sedih, tidak takut, tidak peduli akan ketidaktahuan kita tentang masalah agama. Ini adalah musibah yang amat besar bagi diri kita. Mungkin hati ini telah membatu dari nasihat karena kecenderungan akan dunia ini??!!

Semoga Allah Ta’Ala memberikan keberkahan kepada penulis dan para pembaca agar merasakan manfaat dari faidah tulisan kecil ini.

Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyiina Muhammad. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

كتب على

19 Syawwal 1437 H

Ath-Thaybah

NB: tidak seluruh ilustrasi di awal merupakan realitas

=========

Sumber:

1. Artikel rumaysho.com

2. Artikel muslim.or.id

Footnote:

[1] QS. Ar Ruum: 7

[2] Aysarut Tafasir, 4/124-125

[3]  HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224

[4]  Muttafaqun ‘alaih

[5] HR. Muslim

 

Diambil dari: rejalsunni.tumblr.com

 


 

Penulis: Abu Muslim al-Kadiriy

Murojaah: Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

Sedang menikmati masa kuliah S1 Teknik Informatika ITS sambil ngaji di Mahad Thaybah.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*