Tak Akan Pernah Sama

Abu Khalid Muchtar Yahya Belajar Islam 0 Comments

 

Saudaraku, apabila anda menjadi Produsen Mobil dan ada dua orang mendatangi anda untuk memberikan desain mobil. Desain mobil pertama di desain oleh seorang enginner lulusan Teknik Mesin yang punya ilmu mendesain mobil. Desain mobil kedua di desain oleh orang yang tidak pernah belajar  mengenai desain mobil. Lalu apabila anda ingin memproduksi mobil, desain manakah yang akan pilih?. Tentunya anda akan memilih desain yang pertama. Mengapa? Simple. . . Kedua desain itu tak akan pernah sama, karena desain mobil pertama di desain oleh orang yang berilmu mengenai desain mobil sedangkan desain kedua tidak.

Apabila dalam ilmu dunia saja, antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu tak akan pernah sama. Apalagi dalam ilmu agama.

Saudaraku. . .Mari kita renungkan. . .

Apakah sama orang-orang yang  berilmu tentang tauhid, rukun iman yang enam dan rukun islam yang lima dengan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu tersebut?

Sungguh tak akan pernah sama keduanya. Saudaraku tahukah engkau bahwasanya Allah Ta’ala juga mengatakan demikian?

Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدٗا وَقَآئِمٗا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٩

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-zumar:9)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sa’di berkata dalam tafsirnya: “Mereka yang berilmu tidak sama dengan mereka yang bodoh. Demikian pula tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dengan kegelapan, dan air dengan api.”

Sungguh tak akan pernah sama antara orang yang bertauhid dengan orang yang syirik, antara orang yang melakukan sunnah dengan orang yang melakukan bid’ah, antara orang yang melakukan ketaatan dengan orang yang bermaksiat.

Sungguh perkara ini telah jelas perbedaannya menurut akal yang sehat dan telah diketahui pula secara perbedaannya yang jauh.

Saudaraku, setelah mengetahui perbedaan ini akankah kita malas untuk mempelajari agama Islam?

Bukankah kita ingin masuk surga?

Padahal Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rasulullah bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.

“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna:

Pertama : Menempuh jalan dengan arti yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama.

Kedua : Menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.

“Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna.

 Pertama: Allah akan memudah-kan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya.

Kedua: Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya.

Sumber :

  1. Ceramah Ustadz Nuzul Zikri, Lc hafidzohulloh yang berjudul “Tak akan Pernah Sama”: https://www.youtube.com/watch?v=CFqxemjeTmo
  2. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Tafsir Al-Qur’an jilid 6) oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Pustaka Sahifa)
  3. Kitab Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzohulloh, Penerbit: Pustaka At-Taqwa

 


Penulis: Abu Khalid Muchtar Yahya

Murojaah: Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

Mahasiswa aktif Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*