Hijrahmu Untuk Siapa ?

Abu Musa al-Fadaniy Aqidah, Manhaj 0 Comments

Kita ini memang makhluk yang bodoh lagi dzalim.

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh
(QS. Al Ahzab: 72).

Betapa sering kita mengira sudah berada diatas kebenaran, namun teryata ada perbuatan-perbuatan yang ternyata itu sebuah dosa. Betapa pentingnya kita untuk terus menuntut ilmu, agar mengetaui apakah kita telah berada diatas kebenaran atau kebathilan.

Alhamdulillah,
dakwah sunnah semakin menggeliat.

Di berbagai lingkungan kampus , geliat keislaman semakin menjadi-jadi.
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimusshalihat

Namun pernah kan antum menemukan kata-kata mutiara seperti ini oleh rekan-rekan penggiat dakwah kampus (atau bahkan oleh kita sendiri ?) :

“Hijrah untuk memantaskan diri..”

“Menuntaskan hafalan Qur’an untuk dirinya kelak…”

“Menundukkan pandangan untuk ukhti fulanah semata”

atau kalimat-kalimat yang semisalnya.

Kalimat yang cukup menggugah, bukan ?

Namun jika kita telaah lebih dalam lagi, agaknya cukup berbahaya bagi aqidah. , yang mana amal ibadah tak lagi semata-mata dipersembahkan untuk meraih ridha Allah -‘Azza Wa Jalla-, namun untuk meraih ridha manusia

 

Telah banyak sampai kepada kita kisah seorang ikhwan yang alhamdulillah telah hijrah, termotivasi karena mengincar seorang akhwat yang shalihah. Patut diapresiasi usahanya, namun apakah hal ini benar dalam timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah ?

 

Jika pemuda tersebut hijrah disebabkan mengharapkan cinta si akhwat shalihah tersebut, maka ini perkara yang sangat berbahaya.
Ketahuilah,
jika kita terlanjur melakukan amal-amal shalih dengan tujuan untuk si “dia”, maka ada baiknya beristighfar kepada Allah -‘Azza Wa Jalla- memohon taubat kepada-Nya, karena sesungguhnya terselip syirik asghor  pada setiap amalan-amalan tersebut.

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau mendapatkan wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia inginkan itu.”

[Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim]

 

Perkara yang semacam ini sangat berbahaya, diantaranya merusak keikhlasan, yang mana berdampak kepada keistiqamahan dalam beramal shalih.

 

Contoh kasus sederhana,
ketika si “dia” ternyata tak lagi shalihah dan nampak jalan berdua dengan pria bukan mahromnya, maka bisa dipastikan pemuda yang hijrah -untuk memantaskan diri- tersebut akan hancur hatinya berkeping-keping, bagaikan kendi yang pecah terburai. Sehingga setelahnya ia akan kehilangan arah dan tujuannya dalam beramal shalih. Tiada lagi semangat yang kuat seperti dulunya. Ia tak ubahnya bagaikan daun kering yang dibawa kesana-kemari oleh angin semilir di bulan Juli. Hal ini tidak lain disebabkan sejak awal niatnya tidak untuk meraih ridha Allah -Ta’ala- semata, namun untuk meraih ridha manusia. Dan tak jarang, pemuda yang semacam ini akan kembali kepada kebiasan buruknya yang lama. (Na’udzubillahi min dzalik)

 

Bukan kah Allah -Ta’ala- sangat murka kepada hamba-hamba-Nya yang beribadah untuk selain-Nya ?. Sejatinya Allah -Ta’ala- tidak membutuhkan ibadah kita, beribadahnya kita atau tidak sama sekalipun, tidak akan menghilangkan kekuasaaan Allah -‘Azza Wa Jalla-.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)

 

Setiap  amal shalih yang tidak lagi dipersembahkan untuk Rabb Semesta Alam, melainkan untuk ‘seseorang’ di luar sana, entah kita sudah mengenalnya ataupun masih sosok yang misterius , maka ada baiknya kita cepat-cepatlah bertaubat dengan Taubat Nasuha, karena ini tergolong syirik asghor.

Sesungguhnya syirik asghor itu lebih halus dari pada langkah semut.

Pernahkah mendengar bunyi langkah semut ?
Tidak hanya sulit untuk diperhatikan, namun sama sekali tidak berbunyi, demikian lah Rasulullah menggambarkan betapa halusnya syirik asghor.

Bukan kah baginda Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Salla- telah mewasiatkan kepada kita terkait perkara ini ?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.”


[HR Abu Ya’la Al Maushili dalam Musnad-nya. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Targhib, 1/91]

 

Syirik asghor memang tidak membatalkan keislaman seseorang, namun ia termasuk al-Kabaair (Dosa Besar) sebagaimana yang telah diuraikan olah Imam Adz-Zhahabi dalam kitabnya al-Kabaair.

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?
[Hadits Riwayat Ahmad, Shahih]

 

Dari hal ini lah kita memahami bahwa betapa pentingnya memahami akidah yang benar !

Kajian tentang aqidah harus terus menerus diulang, agar hati ini semakin kokoh.

Ada baiknya kita mencontoh teladan dari Nabi Musa -Alaihi Sallam-. Tatakala ia menundukkan pandangan di padang pasir dari seorang wanita bukan mahramnya, semata-mata karna ia takut kepada Allah -Ta’ala-, serta pastinya mengharapkan Ridha-Nya. Kemudian lihatlah kesudahannya, ternyata Allah -Ta’ala- takdirkan wanita tadi menjadi pasangan hidup Nabi Musa -‘Alaihi Wa Sallam-.

Sepatutnya kita beribadah kepada Allah -Ta’ala- hanya untuk mengharapkan ridha dan balasan-Nya, tidak untuk meraih keridhaan dan balasan manusia. Cukuplah Allah -‘Azza Wa Jalla- sebagai sebaik-baik Dzat Pemberi Balasan.

Bukankah hati ini lemah ?

 

Tulisan ini hujjah untuk diri kami pribadi, bukan untuk men-judge siapapun.
Kita benar-benar khawatir, jangan-jangan selama ini, diri yang hina ini telah tenggelam terlalu jauh ke dalam syirik asghor tanpa sadar.

 

أَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَ أَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah…
Tunjukkanlah jalan yang benar (Haq) itu adalah benar (Haq), dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya..

Dan tunjukkan kami jalan yang salah (Bathil) itu adalah salah (Bathil), dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya…”

 

Allahu A’lam..

 


 

Penulis: Abu Musa al-Fadaniy

Murojaah: Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

Pemuda kelahiran Ranah Minang yang sedang mengambil studi di Teknik Informatika, ITS Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*