Hamba Ramadhan

Abu Khalid Muchtar Yahya Mutiara Faidah 0 Comments

Ramadhan telah berlalu. Bulan yang penuh berkah yang didalamnya banyak sekali keutamaan-keutamaan. Bulan dimana kaum muslimin dimudahkan untuk beramal sholeh. Bulan dimana kita melihat banyaknya manusia yang berbondong-bondong untuk beramal.

 

Bulan Ramadhan adalah momen yang paling baik untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Kesempatan bagi manusia untuk berbuat baik agar dapat berubah 1800. Yang sebelumnya banyak bermaksiat, menjadi manusia yang baik dengan banyak beramal sholeh di bulan Ramadhan yang mulia ini.

 

Namun jika kita perhatikan justru fenomena 3600 yang terjadi. Dimana manusia kembali lagi banyak berbuat maksiat setelah mengisi Ramadhannya dengan kebaikan. Tak tersisa lagi semangat beribadah di bulan Ramadhan seakan-akan semuanya sirna ketika bulan syawal datang. Masjid yang ketika Ramadhan ramai dipenuhi oleh manusia yang melaksanakan sholat jama’ah kini menjadi sepi. Sholat malam pun sering terlewatkan.  Al-qur’an kini tak tersentuh lagi. Mengeluarkan infaq & shodaqoh terasa berat. Ini adalah fenomena yang sangat menyedihkan.

 

Padahal apabila kita memperhatikan tujuan disyariatkannya puasa adalah menjadikan orang beriman menjadi insan yang lebiih bertakwa. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:183)

 

Sebagian salaf ketika ditanya tentang orang-orang yang beribadah di bulan Ramadhan, namun ketika Ramadhan usai mereka tinggalkan ibadah tersebut. Maka dijawab dengan ungkapan yang sangat baik yaitu:

بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضا

“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan”

Bagaimana tidak dikatakan seburuk-buruk kaum. Mereka beribadah kepada Allah parameternya adalah Ramadhan. Ketika Ramadhan pergi mereka tinggalkan ibadah-ibadah itu. Bukankah Allah telah menjelaskan bahwa ibadah kita hendaknya ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢

“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. [Al-An’am : 162]

 

Ketika memasuki bulan syawal para ulama sering kali mengutip pidato Abu Bakar Radhiyallahu‘anhu tatkala Rasulullah ﷺ wafat yaitu:

فَمَنْ كَان َمِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ

“Barangsiapa yang menyembah Muhammad , maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha Hidup tidak akan mati.” [HR Bukhari]

 

Dari perkataan Abu Bakar Radhiyallahu‘anhu diatas, para ulama sering menasehatkan:

كن ربانيا ولا تكن رمضانيا

“Jadilah engkau hamba Allah Ta’ala, janganlah engkau menjadi hamba Ramadhan.”

 

Ini adalah nasehat yang singkat namun sangat besar faedahnya. Nasehat agar senantiasa menjaga keistiqomahan setelah Ramadhan. Sehingga pantaslah kita disebut sebagai hamba Allah bukan hamba ramadhan.

Semoga Allah Ta’ala mengkaruniakan keistiqomahan hingga akhir hidup kita. Aamiin…

Sumber:

  1. “Maadzaa Nata’allam min Madrasati Ramadhan” oleh Syaikh Abi Hasan bin Muhammad Al-Faqih.
  2. http://www.binbaz.org.sa/noor/10454
  3. Ceramah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dengan judul “3600” (https://www.youtube.com/watch?v=CIrI6TkU1Ck)

 


 

Penulis: Abu Khalid Muchtar Yahya

Murojaah: Ustadz Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

 

 

 

 

Mahasiswa aktif Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*