Gue Muslim

Abu Khalid Muchtar Yahya Artikel Ilmiah, Khazanah Islamiyah, Manhaj 0 Comments

Gue muslim. . . .

Sebuah pernyataan yang apabila ditanyakan kepada kita, “Agama lho apa sih bro?”. Maka kita akan menjawab “Agama gue Islam” atau dengan kalimat yang lebih singkat “Gue Muslim”

 

Namun sungguh mengherankan ketika kita ditanya apa itu islam, sering kali kita kesulitan untuk menjelaskannya. Padahal ini adalah pengetahuan dasar yang sepatutnya dipahami oleh setiap muslim. Namun sering kali lidah ini tidak terbiasa menjelaskan sesuatu yang dasar. Oleh karena itu penting bagi kita mengetahui makna islam, agama yang kita anut.

 

Pengertian Islam

Islam secara etimologi (bahasa) berarti tunduk, patuh, atau berserah diri. Adapun menurut syari’at (terminologi), apabila dimutlakkan berada pada dua pengertian:

 

Pertama: Apabila disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup seluruh agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), juga seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa Islam adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihissallam :

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٣١

“(Ingatlah) ketika Rabb-nya berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserah dirilah!’Dia menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.’” [Al-Baqarah: 131]

 

Kedua: Apabila kata Islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang dimaksud Islam adalah perkataan dan amal-amal lahiriyah yang dengannya terjaga diri dan hartanya, baik dia meyakini Islam atau tidak. Sedangkan kata iman berkaitan dengan amal hati.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” [Al-Hujuraat: 14]

 

Pengertian islam yang sangat bagus adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi dalam kitabnya ushul ats-tsalatsah:

اْلإِسْلاَمُ: َاْلإِسْتِسْلاَمُ ِللهِ بِالتَّوْحِيْدِ وَاْلإِنْقِيَادُ لَهُ باِلطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِه

“Islam yaitu Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, dan tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”

Allah Ta’ala juga berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣

“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tamamenyerahkan diri (kepada Allah)”. [Al-An’am : 162-163]

 

Islam adalah konsep penyerahan. Berserah diri hanya kepada Allah. Jadi ketika kita mengatakan gue muslim artinya gue menyerah kepada Allah Ta’ala. Maksudnya kita serahkan life style kita agar diatur oleh Allah Ta’ala. Maka sungguh aneh apabila ada orang yang mengaku muslim tapi mengatakan “saya fikir ayat ini sudah tidak relevan lagi”. Dia tolak ayat Al-Qur’an, dia tolak hadist. Namun ketika ditanya agamanya apa, dia pun menjawab “Gue Muslim”. Maka hal ini bertentangan dengan konsep islam yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Maka slogan orang muslim adalah Surah An-Nur ayat 51. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [An-Nur : 51]

 

Sebagai seorang muslim ketika dihadapkan dengan perintah maupun larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka respon mereka tidak lain dan tidak bukan yaitu   “سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا” . “Kami mendengar dan kami taat”. Ini konsekuensi dari Islam yaitu tunduk dan Patuh kepada Allah dengan ketaatan. Inilah yang sepantasnya dilakukan seorang muslim, bukan malah mendebat, memberikan catatan kaki, sampai-sampai mengatakan ayat ini sudah tidak relevan lagi. Na’udzubillahi min dzalik.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzab : 36]

 

Perhatikanlah firman Allah diatas. Dia Ta’ala menyatakan bahwa tidak pantas seorang mukmin untuk mengambil opsi lain padahal telah jelas ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Inilah alasannya Allah berfirman mengenai agama islam :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” [Al-Baqarah:208]

 

Seseorang yang masuk ke dalam suatu sistem maka tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti sistem tersebut. Dan tidaklah dia menyimpang dari sistem tersebut melainkan dia tidak akan bahagia di dalam sistem tersebut.

 

Begitu pula ketika kita masuk ke dalam islam. Maka sudah sepantasnya kita menerima sistem islam secara ‘kaffah’. Ketika kita menyimpang dari sistem atau aturan-aturan islam maka yang terjadi adalah kehampaan dan kesempitan hidup. Namun sebaliknya, jika kita menerima sistem islam secara‘kaffah’ dan melaksanakan ajaran-ajaran islam dengan baik maka akan membawa kebahagiaan hidup. Bukankah Allah Ta’ala berfirman :

…فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ ١٢٣ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

“….barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [Thoha: 123-124]

Semoga dengan memahami makna dari ‘islam’ ini dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat dalam menjalankan ajaran-ajaran dalam agama islam yang sempurna ini.

 

Sumber:

  1. Ceramah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dengan judul “Gue Muslim” (https://www.youtube.com/watch?v=i9P4QaQcCCc )
  2. Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa
  3. Ushul ats-tsalatsah oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Darul Qabas

 


 

Penulis: Abu Khalid Muchtar Yahya

Murojaah: Ustadz Abu Zur’ah Ath-Thaybi

Artikel thaybah.id

Mahasiswa aktif Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*