Empat Persiapan Menyambut Ramadhan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Ada empat hal penting yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim dalam menyambut bulan Ramadhan, tamu paling agung dan penuh berkah.

PERTAMA. Berdoa agar dimasukkan ke bulan Ramadhan dengan keimanan dan kesehatan.

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ»

“Ya Allah masukkanlah kami ke bulan baru dalam keadaan aman dan iman, selamat dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 7767) dalam al Mustadrâk, at-Tirmidzi (no. 3451), Ahmad (no. 1397) dalam Musnadnya, dan ad-Darimi (no. 1730) dalam Sunannya dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani dan al-Hakim tetapi adz-Dzahabi mendiamkannya]

Ini adalah doa yang penting. Ibadah di bulan Ramadhan tidak akan sempurna kecuali dengan keimanan, keamanan, dan kesehatan. Buat apa mengharap Ramadhan jika tidak beriman kepada Allah dengan berbuat kekufuran dan kesyirikan, begitupula ibadah di bulan Ramadhan akan terganggu dan tidak maksimal tanpa keamanan dan kesehatan. Maka, beruntunglah siapa yang memasuki Ramadhan dalam keadaan iman, aman, dan sehat. Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam telah menggabungkan tiga hal ini dalam doa yang mulia ini.

Abu ‘Ala al-Mubarakfuri menjelaskan, “Makna hadits ini dengan menggandengkan antara aman dengan iman maksudnya perkara batin, dan salamah (selamat/sehat) dengan Islam maksudnya perkara dhahir. Beliau mengingatkan dengan aman dan sehat untuk menolak setiap hal-hal yang membahayakan, sementara dengan iman dan Islam untuk menarik setiap hal-hal yang bermanfaat dengan ungkapan yang mengena dan ringkas…. Beliau bertawasul kepada-Nya untuk meminta aman dan iman menunjukkan besarnya perkara hilal ini (awal masuknya bulan baru).” [Tuhfatul Ahwadî (IX/291) olehnya]

KEDUA. Bergembira atas kedatangan Ramadhan.

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

“Sungguh akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, yaitu bulan yang diberkahi yang Allah wajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan tersebut pintupintu surga dibuka, pintu pintu neraka ditutup, setan setan dibelenggu, dan pada bulan tersebut terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan dari mendapat kebaikannya, sungguh dia benar benar telah diharamkan (orang yang merugi).” [Shahih: HR. Ahmad (no. 8991) dalam Musnadnya. Dinilai shahih oleh al-Arna`uth dan al-Albani]

Saat meriwayatkan hadits ini, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengawali dengan berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ

“Rasulullah shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda seraya memberi kabar gembira kepada para shahabatnya.”

Hendaklah kaum muslimin bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan meskipun secara perhituangan barangkali mengurangi jatah pendapatan hariannya, hasil penjualannya menurun karena siang hari tutup, tenaganya menurun karena menahan lapar dan haus. Tapi yakinlah, ketaatan kepada Allah akan menjadikan keberkahan pada diri dan hartanya. Maka, bergembiralah menyambut tamu yang agung ini, sebagaimana Rasulullah shallâllâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya merasa gembira atas kedatangannya.

KETIGA. Mempelajari hukum-hukum seputar puasa Ramadhan. Hal ini disebabkan menuntut ilmu tentang rukun Islam adalah wajib bagi tiap muslim, dan lebih ditekankan kewajibannya saat hendak menjalankan ibadah tersebut. Di antara hukum hukum seputar Ramadhan adalah mempelajari kapan awal Ramadhan, syarat dan rukunnya, pembatal pembatalnya, shalat Tarawih, zakat, dan hokum-hukum seputar Idul Fithri.

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 224). Dinilai shahih al-Albani]

Imam al-Baidhawi berkata, “Yang dimaksud ilmu di sini adalah apa yang harus dipelajari oleh setiap hamba seperti mengenal Allah, mengilmui kemahaesaan-Nya, risalah Nabi-Nya, dan tata cara shalat karena mempelajarinya adalah kewajiban tiap orang.” [Mishbâh Zujâjah fi Syarh Ibni Majah (hal. 20) oleh as-Suyuthi]

Sufyan ats-Tsauri menjelaskan:

هُوَ الَّذِي لَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ فِي الْجَهْلِ بِهِ

“Yaitu ilmu yang tidak ada udzur bagi seorang hamba untuk tidak mengetahuinya.” [Kifâyatul Hâjah (hal. 98) oleh as-Sindi]

Jelaslah bagi kita bahwa kedatangan Ramadhan menjadikan mempelajari hukum-hukum seputar puasa dan Ramadhan adalah wajib karena mendesak bagi seorang hamba yang akan kedatangan tamu agung tersebut.

KEEMPAT. Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan beribadah lebih rajin dari bulan sebelumnya dan meninggalkan kebiasan buruk yang sering dilakukan pada bulan-bulan yang telah lalu.

Sungguh merugi orang yang lalai dari bulan Ramadhan. Jika dia malas beribadah maka dia telah kehilangan banyak sekali pahala yang dilipatgandakan, dan jika dia pelaku maksiat maka dia akan celaka karena dosanya akan dilipatgandakan. Adapun orang yang beruntung adalah yang bersiap-siap mendulang pahala, ampunan, dan rahmat yang melimpah terlebih di malam Lailatul Qadar yang beribadah sehari pada hari itu akan dilipatgandakan seperti beribadah selama 1000 bulan. Allah berfirman:

(( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ))

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) di malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar? Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Para malaikat dan Jibril turun dengan seizin dari Rabb mereka pada malam tersebut untuk mengurus semua urusan dengan menyebarkan salam (kesejahteraan) hingga terbit fajar.” [QS. Al-Qadar [97]: 1-5]

Dari Mujahid, dia berkata:

كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ رَجُلٌ يَقُوْمُ اللَّيْلَ حَتَّى يُصْبِحَ، ثُمَّ يُجَاهِدُ الْعَدُوَّ بِالنَّهَارِ حَتَّى يُمْسِيَ، فَفَعَلَ ذَلِكَ أَلْفَ شَهْرٍ، فَأَنْزَلَ اللّٰهُ هَذِهِ الآيَةَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)) قِيَامُ تِلْكَ اللَّيْلَةِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ ذَلِكَ الرَّجُلِ.

“Di kalangan Bani Israil ada seseorang yang selalu shalat malam hingga subuh, kemudian berjihad melawan musuh di pagi hari hingga sore hari. Dia mengerjakan itu selama seribu bulan, lalu Allah menurunkan ayat, ‘Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.’ Shalat pada malam tersebut lebih baik daripada amal lelaki tersebut.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/443) dan Tafsir ath-Thabari (XXX/167)][AZ]


Penulis : Nor Kandir

Artikel Thaybah.id

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*