dialog 17+ putra

Dialog 17+ Antara Ayah dengan Putranya

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Tsaqafah 0 Comments

[Mohon maaf, karena temanya 17+ maka yang belum cukup umur dilarang keras membaca, mengkopi, dan menyebarkannya]

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh …

:: SINOPSIS CERITA

Seorang ayah melihat putranya yang sedang belajar. Ayah itu termasuk orang tua yang beruntung karena dianugrahi seorang anak yang cinta dengan ilmu. Namun, si ayah tahu bahwa putranya itu lelaki normal. Si ayah bisa memaklumi hal itu karena dia pun pernah muda.

Suatu ketika terjadi dialog antara si ayah dan putranya.

Ayah, “Wahai Ananda, apakah kamu tidak ingin menikah?”

Mendengar itu, si anak kaget, “Ayah tadi bilang apa?”

“Wahai ananda, apakah kamu tidak ingin menikah?” ulangnya sambil tersenyum.

“Wahai ayah, saya masih muda dan sibuk dengan kuliah. Saya khawatir kuliah dan jadwal belajarku terganggu.”

“Bahkan, istrimu akan membantumu. Bahkan, dia akan menundukkan matamu dan menjaga ibadahmu. Dia pun akan menjaga hafalanmu.” Terang si ayah panjang lebar.

Tampak raut wajah si anak muram pertanda sedih. Dia berkata, “Ayah, saya belum siap menanggung nafkah keluarga. Jika sibuk kerja, saya khawatir mengganggu kuliah dan hafalan. Jika sudah berumur 25 tahun dan sudah wisuda, baru saya pikirkan kembali.”

“Bukankah Allah akan membantu seseorang yang menikah karena hendak menjaga agamanya?”

“Ya, ayah. Namun, ini berlaku bagi burung yang pergi pada siang hari lalu kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Sementara, jika ada burung yang sibuk di sarangnya, maka dari maka dia akan kenyang? Wahai Ayah, sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan emas begitu saja dari langit.”

“Wahai Ayah, seseorang dilarang menikah jika dia berniat akan menelantarkan keluarganya dan tidak memberinya nafkah. Bahkan, dia termasuk kategori laki-laki yang diharamkan menikah,” tambah si anak.

Ayah itu tersenyum memandang putranya yang sangat serius sampai keluar peluh di dahinya. Ayah itu berkata, “Maukah kamu menikah dan Ayah akan menanggung nafkah kalian berdua hingga kamu selesai kuliah?”

“Benarkah Ayah???”

“Ya.”

“Adakah gadis shalihah yang mau menikah dengan saya, Ayah?”

“Insya Allah ada. Teman karib Ayah mempunyai seorang putri. Saya mempunyai firasat bahwa gadis itu shalihah.”

Jazakumullahu khairan, wahai Ayahanda.”

“Kita istikharah dulu menyerahkan urusan ini kepada Allah Rabb kita dan besok kita berkunjung ke rumahnya.”

:: KOMENTAR

Alangkah indahnya hidup ini jika setiap orang tua pengertian terhadap anak-anaknya. Semoga Allah memperbanyak ayah-ayah yang seperti itu dan semoga Allah memberi hidayah kepada ayah-ayah kita.

Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh …

:: CATATAN

Ini hanyalah cerita fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan alur cerita, kami mohon maaf.

:: EMOTICON

🙂

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*