ngintip mata dicolok

Bolehkah Dicolok Matanya Karena Ngintip?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih 0 Comments

Adab, tata krama, atau etika di zaman terdulu lebih ditekankan orang tua untuk dipelajari anak-anak melebihi perhatian mereka terhadap hadits. Bahkan sebelum berkecimpung di dunia hadits ‘Abdullah bin Mubarak sang ahli hadits terkemuka ini lebih dulu mempelajari adab 20 tahun sebelum hadits.

Allah berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ»

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur [24]: 27)

Pengajaran Allah dalam ayat ini untuk kasus rumah orang lain. Bagaimana untuk rumah sendiri? Kebiasaan salaf terdahulu adalah mereka memberi isyarat sebagai pengganti izin dengan tujuan agar keluarganya bisa maksimal dalam menyambutnya. Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat balik dari safar adalah shalat dua rakaat di masjid dan menyuruh orang untuk mengabarkan kepulangan beliau. Kebiasaan Ibnu Mas’ud berdehem sebelum masuk.

Bahkan Allah memberlakukan hukum izin ini kepada anak kecil yang belum baligh. Firman Allah:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشَاءِ ثَلاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ»

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat Shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur [24]: 58)

Dan jika anak-anak itu sudah baligh, mereka diperintah untuk meminta izin di semua waktu karena umur baligh sudah mengenal aurat. Allah berfirman:

«وَإِذَا بَلَغَ الأطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ»

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur [24]: 59)

Dari ayat di atas diketahui bahwa tujuan utama izin adalah menjaga pandangan dari aurat. Oleh karena itu hukuman bagi pengintip rumah amat keras. Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْتَظِرُنِي، لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنَيْكَ» قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا جُعِلَ الإِذْنُ مِنْ قِبَلِ البَصَرِ»

“Ada seorang mengintip dari pintu kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sisir besi untuk menggaruk kepalanya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau bersabda, ‘Andai aku tahu bahwa kamu melihatku pasti aku cocokkan besi ini di kedua matamu.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Diwajibkan izin karena pandangan (bisa melihat aurat keluarga).” (HR. Al-Bukhari no. 6901 dan Muslim no. 2156)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ مِنْ بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ، أَوْ: بِمَشَاقِصَ، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَخْتِلُ الرَّجُلَ لِيَطْعُنَهُ

“Ada orang mengintip kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berdiri membawa panah yang panjang (misyqash), saya perhatikan beliau berjalan perlahan supaya orang itu tidak merasa untuk menyocoknya (menusuk matanya).” (HR. Al-Bukhari no. 6242 dan Muslim no. 2157)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوِ اطَّلَعَ فِي بَيْتِكَ أَحَدٌ، وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، خَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ»

“Andaikan ada orang mengintip rumahmu tanpa izinmu, kemudian kamu melemparnya dengan krikil sehingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu.” (HR. Al-Bukhari 6888 no. dan Muslim no. 2158)

Yang Benar Izin

Di antara bentuk izin adalah salam sebagaimana pada ayat di atas. Salam pun ada aturannya. Jika diduga kuat yang hendak dikunjungi di dalam rumah dan telah mengulang salam 3 kali tetapi ia tidak kunjung keluar, ini pertanda dia sedang tidak ingin menerima tamu. Maka hendaknya ia pulang atau balik.

Hasilnya, izin masuk rumah ini disunnahkan maksimal tiga kali. Jika belum dibuka atau diizinkan dianjurkan pulang. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ فِي مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ الأَنْصَارِ، إِذْ جَاءَ أَبُو مُوسَى كَأَنَّهُ مَذْعُورٌ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ عَلَى عُمَرَ ثَلاَثًا، فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ، فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ؟ قُلْتُ: اسْتَأْذَنْتُ ثَلاَثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلاَثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ» فَقَالَ: وَاللَّهِ لَتُقِيمَنَّ عَلَيْهِ بِبَيِّنَةٍ، أَمِنْكُمْ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: وَاللَّهِ لاَ يَقُومُ مَعَكَ إِلَّا أَصْغَرُ القَوْمِ، فَكُنْتُ أَصْغَرَ القَوْمِ فَقُمْتُ مَعَهُ، فَأَخْبَرْتُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ

“Ketika aku di majlis kaum Anshar tiba-tiba datang Abu Musa bagaikan orang ketakutan, lalu berkata, ‘Saya datang meminta izin kepada Umar tiga kali, tetapi tidak diizinkan, maka aku kembali. Kemudia Umar bertanya, ‘Mengapa Anda kembali?’ Jawabku, ‘Aku telah minta izin tiga kali dan tidak mendapat izin maka aku kembali, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Jika seorang dari kalian minta izin sampai tiga kali dan tidak diizinkan, hendaklah pulang.’ Maka Umar berkata, ‘Demi Allah Anda harus membawa bukti kebenaran itu. Apakah ada di antara kalian yang mendengar hadits ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’’ Jawab Ubay bin Ka’ab, ‘Demi Allah, tidak pergi bersamamu kecuali orang yang termuda dari kaum dan ketika itu akulah yang termuda.’ Maka aku (Ubay) berdiri bersama Abu Musa dan memberitahu pada Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda sedemikian itu.’” (HR. Al-Bukhari no. 6245 dan Muslim no. 2153)

Jika dugaan kuat orangnya tidak mendengar dan sudah mengulang tiga kali maka semoga tidak mengapa menambahnya.

Allah befirman:

«فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ»

“Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembalilah,’ maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur [24]: 28).

Hendaklah tamu menyebutkan namanya dengan jelas saat ditanya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka ditutupi. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي، فَدَقَقْتُ البَابَ، فَقَالَ: «مَنْ ذَا» فَقُلْتُ: أَنَا، فَقَالَ: «أَنَا أَنَا» كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

“Saya datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membayar hutang ayahku, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau bertanya, ‘Siapakah itu?’ Jawabku, ‘Aku.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku aku!’ Seolah-olah beliau tidak menyukainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6250 dan Muslim no. 2155)

Allahu a’lam[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*