pelaku maksiat

Keadaan di Mana Allah Menyukai Pelaku Maksiat

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Manusia adalah tempat lupa dan salah. Untuk itu mereka juga banyak berbuat dosa dan maksiat. Siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Tidak ada.

Meskipun demikian, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi orang yang Allah cintai. Kog bisa? Bagaimana caranya? Bertaubat kepada Allah, yaitu menyesali maksiatnya, berhenti dari melakukan, dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Allah gembira atas perbuatan orang itu.

Mana dalinya Allah mencintai mereka? Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ رَجُلٍ نَزَلَ مَنْزِلًا وَبِهِ مَهْلَكَةٌ، وَمَعَهُ رَاحِلَتُهُ، عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ نَوْمَةً، فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ رَاحِلَتُهُ، حَتَّى إِذَا اشْتَدَّ عَلَيْهِ الحَرُّ وَالعَطَشُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ، قَالَ: أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي، فَرَجَعَ فَنَامَ نَوْمَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، فَإِذَا رَاحِلَتُهُ عِنْدَهُ»

“Sungguh Allah lebih mencintai taubat hamba-Nya dari pada seseorang yang singgah di suatu tempat yang menyebabkannya binasa. Dia disertai kendaraannya berisi makanannya dan minumannya. Dia rebahan lalu tidur lalu bangun dan ternyata kendaraannya hilang hingga panas semakin terik dan kehausan atau apa yang Allah kehendaki. Dia bergumam, ‘Aku akan kembali ke tempatku semula.’ Dia pun kembali dan tidur. Kemudian dia terbangun dan tiba-tiba kendaraannya sudah di sisinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6308 dan Muslim no. 2744)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«اللهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضٍ فَلاَةٍ»

“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seorang dari kalian yang terjatuh dari atas kendaraan untanya dan unta itu membuatnya tersesat di tanah lapang yang sangat luas.” (HR. Al-Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747)

Bagaimana dengan kondisi jika setelah bertaubat dia mengulangi maksiatnya lagi? Bertaubat lagi lalu hari berikutnya melakukan lagi karena dorongan syahwatnya meningkat?

Kita telah tahu bahwa iman itu naik turun, selagi taubatnya benar dan tulus pasti Allah terima taubatnya dan setiap kali dia mengulangi dosanya segera bertaubat lagi, niscaya Allah masih mencintainya.

Diriwayatkan Abu Huriarah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا – وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا – فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ – وَرُبَّمَا قَالَ: أَصَبْتُ – فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ رَبُّهُ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا، أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا، فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ – أَوْ أَصَبْتُ – آخَرَ، فَاغْفِرْهُ؟ فَقَالَ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا، وَرُبَّمَا قَالَ: أَصَابَ ذَنْبًا، قَالَ: قَالَ: رَبِّ أَصَبْتُ – أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ – آخَرَ، فَاغْفِرْهُ لِي، فَقَالَ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاَثًا، فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ»

“Ada seorang hamba yang melakukan dosa. Setiap kali dia berkata, ‘Aku telah melakukan dosa, ampunilah aku, ‘ atau, ‘Aku telah tertimpa dosa, ampunilah aku,’ maka Rabb-nya berfirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya, aku telah mengampuni hamba-Ku.’ Kemudian berselang lama sesuai kehendak Allah, dia tertimpa dosa atau melakukan dosa, dia pun berdoa, ‘Ya Rabb-ku, aku telah melakukan dosa lagi, maka ampunilah aku.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya, aku telah mengampuni hamba-Ku.’ Kemudian berselang lama sesuai kehendak Allah, dia tertimpa dosa atau melakukan dosa. Setiap kali dia berkata, ‘Aku telah melakukan dosa, ampunilah aku, ‘ atau, ‘Aku telah tertimpa dosa, ampunilah aku,’ maka Rabb-nya berfirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya, aku telah mengampuni hamba-Ku.’ Sebanyak tiga kali. Rabb-nya pun berfirman, ‘Silahkan dia melakukan semaunya.’” (HR. Al-Bukhari no. 7507 dan Muslim no. 2758)

Allahu a’lam[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*