pemudarabbani2

Jadilah Pemuda Rabbani (2)

Ustadz Ridwan Bin Abdul 'Aziz Penyejuk Hati 0 Comments

Allah –subhanahu wata’ala-, melalui ayat sebelumnya, menjelaskan bahwa ada dua karakter utama dari generasi yang buruk yaitu “adla ‘ush-shalah” (menyia-nyiakan shalat) dan “wattaba ‘usy-syahwat” (mengumbar hawa nafsu).

Karakter pertama, menyia-nyiakan shalat, mereka bahwa shalat merupakan “Ashalatu imaduddin” (shalat tiang agama) dan merupakan amalan yang nomor wahid dihisab pada hari Kiamat dalam fungsinya “hablum minallah”. Dalam suatu hadits Rasulullah –shollalloohu alaihi wasallam- bersabda :

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat”, jika ia (shalatnya baik), maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika jelek shalatnya maka jelek pulalah seluruh amalnya”. [HR. At-Tirmidzi]

Karakter kedua, mengumbar hawa nafsu. Karakter ini merupakan kebiasaan buruk bagi siapa saja yang tidak memiliki filter “hawa nafsu”. Di dunia ini hanyalah saya yang paling benar, berkuasa, dan berperilaku sewenang-wenang. Kesombongan dan keangkuhan telah menyelimuti hati mereka. Inilah yang sering disebut bahwa nafsu merupakan faktor yang menghalangi hati untuk sampai pada Allah –subhanahu wata’ala-. Mereka akan bertindak sekehendak hati tanpa menghitung risiko yang bakal terjadi. Mereka benar-benar telah takluk di bawah perintah hawa nafsunya berarti telah gagal dan hancur.

Allah –subhanahu wata’ala-  berfirman dalam surat An Nazi’at ayat 37 dan 41 yang artinya :

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

Sebagian ulama salaf berkata:

خَلَقَ اللهُ الْمَلاَئِكَةَ عُقُوْلاً بِلاَ شَهْوَةٍ, وَخَلَقَ الْبَهَائِمَ شَهْوَةً بلاَ عُقُوْلٍ, وَخَلَقَ ابْنَ آدَمَ وَرَكَّبَ فِيْهِ اَلْعَقْلَ وَالشَّهْوَةَ, فَمَنْ غَلَبَ عَقْلُهُ شَهْوَتَهُ اِلْتَحَقَ بِالْمَلاَئِكَةِ, وَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَقْلَهُ اِلْتَحَقَ بِالْبَهَائِمِ.

“Allah menciptakan Malaikat dengan akal tanpa syahwat, dan menciptakan binatang dengan syahwat tanpa akal, dan menciptakan anak Adam dan menumpukkan padanya akal dan syahwat, maka barangsiapa yang akalnya lebih dominan daripada syahwatnya, ia akan mencapai derajat malaikat, dan barangsiapa hawa nafsunya lebih dominan daripada akalnya, ia akan mencapai derajat hewani”.

Allah –subhanahu wata’ala-  berfirman dalam Al-A’raf: 179:

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ (١٧٩)

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Jawaban dari permasalahan di atas hanya satu, yaitu membangun kembali generasi Rabbani, yang sudah mulai terlupakan. Generasi Rabbani adalah generasi yang baik, penuh dengan keridhaan dan kasih sayang Allah –subhanahu wata’ala- serta hidupnya selalu dihiasai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam surat Al-Furqan, Allah menyebutnya sebagai “Ibaadurrahman” yakni hamba yang disayangi dan dikasihi Allah –subhanahu wata’ala-. Generasi Rabbani merupakan tumpuan dan harapan yang akan membawa kemajuan Islam dan tegaknya kalimatullooh dimuka bumi tercinta ini, serta kemaslahatan bagi umat mausia, sehingga mimpi untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera bisa menjadi kenyataan.

Oleh karena itu, persiapan pembentukan generasi yang akan datang mutlak suatu keharusan yang tidak bisa dibantah lagi. Sehingga perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik yang berkaitan dengan aqidahnya, pendidikannya, muamalahnya, juga yang berkaitan dengan akhlaknya, sehingga pergantian generasi yang berlangsung menghasilkan generasi baru yang lebih baik daripada pendahulunya.

Banyak teladan yang bisa kita ikuti dari para nabi dalam mempersiapkan generasi yang akan datang. Sebagai contoh, dalam Al-Qur’an diungkapkan bahwa para nabi pun mempersiapkan masalah peralihan generasi ini dengan sebaik-baiknya. Kita bisa lihat pada surat Al-Baqarah ayat 132 dan 133, Allah berfirman:

وَوَصَّىٰ بِہَآ إِبۡرَٲهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٣٢) أَمۡ كُنتُمۡ شُہَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِى قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآٮِٕكَ إِبۡرَٲهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ وَإِسۡحَـٰقَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدً۬ا وَنَحۡنُ لَهُ ۥ مُسۡلِمُونَ (١٣٣)

 “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh  kepada-Nya’.”

Kita lihat di sini, bahwa akhlak dan akidah generasi pengganti para nabi itu sama. Ada persamaan ideologi dan idealisme antara generasi pendahulu dengan generasi berikutnya. Kata ‘wawashsha’ dalam ayat 132 di atas berarti berwasiat, mendidik atau mengajarkan. Ini menunjukkan bahwa upaya mempersiapkan generasi pengganti supaya lebih baik daripada generasi pendahulunya dilakukan melalui proses pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan. Serta, nilai-nilai atau ideologi yang diwasiatkan atau diwariskan oleh generasi pendahulu itu tidak lain adalah nilai-nilai dan ideologi Islam.

Kata ‘biha’ dalam ayat ini menunjukkan pengertian pada kalimat sebelumnya (pada ayat 131), yaitu keislaman. Kemudian, dalam ayat 132 ini digunakan kata ‘isthafa’ yang mengandung arti ada kesadaran untuk memberikan alternatif terbaik. ‘isthafa’ ini bukan sekadar memberikan pilihan, atau disuruh memilih, tetapi mengajarkan, memilih, dan memberikan alternatif terbaik. ‘Innallaha isthafa lakum ad-diina’ (sesungguhnya Allah telah memilihkan agama ini buat kalian).

Jika kata-kata ‘diin’ (agama) disertai alif-lam (ini disebut alif-lam ma’rifat), maka kalimat ini menunjukkan kekhususan terhadap agama yang dimaksud, yaitu Islam. Ini berbeda dengan kata ‘diin’ (tanpa alif-lam), yang berarti agama dalam arti luas. Jadi, yang dimaksud ‘ad-diin’ dalam ucapan Ibrahim ini adalah jelas diinul Islam. Sehingga pada akhir ayat ini dinyatakan: “fa la tamutunna illa wa antum muslimuun” (maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam). Ini menunjukkan, bahwa bukan kematiannya yang perlu kita takuti, tetapi yang harus ditakuti adalah mati tidak dalam keadaan Islam. Jika mati pun dilarang kecuali dalam keadaan Islam, maka apalagi pada waktu hidup. Inilah yang berkaitan dengan Islamiyyatul hayah atau Islamisasi kehidupan, baik ekonomi kita, pendidikan, politik, ataupun teknologi, dll.

Dari teladan di atas jelas terlihat bahwa dalam mempersiapkan generasi diawali dari keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi pertumbuhan seorang anak menjadi faktor terpenting yang mempengaruhi watak dan perkembangan psikologisnya. Keluarga yang penuh barakah, sakinah, dan diliputi oleh mawaddah warahmah (ketulusan cinta dan kasih sayang) merupakan lingkungan yang baik dalam membentuk generasi Rabbani. Dan, inilah sebetulnya tujuan utama dari pernikahan sebagaimana yang Allah firmankan:

وَمِنۡ ءَايَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَڪُم مَّوَدَّةً۬ وَرَحۡمَةً‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ (٢١)

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. [Ar-Ruum:21]

Dari ayat-ayat di atas, bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa karakteristik dari generasi Rabbani:

  1. Karakter pertama adalah ‘yuhibbu-hum wa yuhibbuunahu’, mereka mencintai Allah, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, tidak mau terlibat dalam kebobrokan-kebobrokan mental generasinya, mempunyai hati yang bersih, dan Allah –subhanahu wata’ala- pun mencintai mereka.
  1. Karakter kedua yaitu, adzillatin ‘alal mu’minin a’izzatin ‘alal kafirin, rendah hati terhadap orang mu’min dan keras terhadap orang kafir.
  1. Karakter ketiga yaitu, Jihad fisabilillah yaitu berjuang dijalan Allah membela kebenaran dan melawan kedzaliman. Jihad tidak selalu diartikan perang dimedan laga, tetapi lebih dimaknai perang melawan hawa nafsu dan memperjuangkan ummat dalam hal kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan.
  1. Karakter keempat adalah La yakhofuuna laumata laa aimin. Yaitu tidak khawatir atau takut pada celaan orang-orang yang suka mencela. Kita mesti sadar bahwa itu merupakan suatu resiko dalam berjuang.

Sosok generasi Rabbani sebagaimana digambarkan di atas merupakan sosok muslim yang ideal. Bangsa ini membutuhkan generasi Rabbani sebagai cikal bakal dan modal utama membangun bangsa yang “baldatun tayibatun wa robbun ghofur” dan tegaknya Diinul Islam di bumi Pertiwi Indonesia.
Inilah generasi Rabbani yang merupakan sosok muslim yang ideal. Mudah-mudahan kita bisa membimbing dan mendidik keturunan serta keluarga kita agar menjadi generasi-generasi Rabbani yang akan meneruskan perjuangan dan tegaknya diinul Islam, sehingga dapat terwujud masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera di negeri ini… Amin.

Da’i asal Malang yang tengah mengasuh Pondok Pesantren (Ma’had) Tauhidullah di Surabaya. Kesehariannya menulis di majalah Tauhidullah yang merupakan majalah asuhannya. Kesibukan lain, beliau membina beberapa majelis taklim rutin di Surabaya. Sering juga mengadakan safari dakwah di berbagai pelosok desa di pulau Jawa.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*